Peserta SMA Widya Kesehatan memperlihatkan permainan Drumband pada Festival Drumband di Lapangan Pamedan Tanjungpinang, Selasa (25/10/2016). Foto: Yusnadi/Batam Pos
Peserta SMA Widya Kesehatan memperlihatkan permainan Drumband pada Festival Drumband di Lapangan Pamedan Tanjungpinang, Selasa (25/10/2016). Foto: Yusnadi/Batam Pos

batampos.co.id – Penyelanggaraan Festival Bahari Kepri (FBK) 2016 yang berakar kuat dari Festival Sungai Carang, gagasan budayawan Melayu Rida K Liamsi ingin merawat nilai budaya yang tak tepermanai.

Iklan

Nilai tidak melulu tentang sesuatu yang besar semisal karya sastra atau pun tata laku berkehidupan sehari-hari. Tapi nilai juga terejawantahkan dari olahan juadah tradisi.

Sehingga dari tahun ke tahun penyelenggaraan, festival kuliner khas adalah keharusan. Dari tahun ke tahun pula masih melibatkan 10 kampung untuk menampilkan sajian olahan juadah tradisi.

“Jangan kita kenalnya cuma ayam goreng KFC tapi lupa apa itu tepung gomak,” kata Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Kepri, Guntur Sakti, pada pembukaan festival kuliner di area Melayu Square, Selasa (25/10/2016).

Tak disangkal Guntur, bahwasanya keinginan seorang Rida K Liamsi, festival kuliner tradisi semacam ini adalah sebarang upaya agar juadah tradisi tetap lestari. Kata Guntur, generasi muda hari ini perlu juga diajak menyicip citarasa kaya juadah yang sudah turun-temurun itu.

Pada festival kemarin, ditampilkan sejumlah juadah tradisi. Semisal tepung gomak, laksa goreng, laksa kuah, roti jala, roti kirai, es laksamana mengamuk, luti gendang, bubur pedas, kue jongkong, kue perahu, dan banyak juadah tradisi lain. Dibanderol pula dengan harga terjangkau, sehingga sesiapa yang datang bisa ikut menyicip barang satu dua kudapan.

“Ini mengobati kerinduan kami dengan jajanan masa kami kecil,” kata Hadi, seorang pengunjung. Menurutnya, festival semacam ini perlu dilaksanakan lebih sering. Sebab mendapatkan jajanan tradisional kini juga tidak lagi mudah. Hadi yakin, masih banyak orang Tanjungpinang yang menyukai juadah-juadah semacam ini.

Sementara itu, ibu-ibu dari Teluk Keriting, Penyengat, Kampung Tambak, Senggarang, Kampung Bugis, Gudang Minyak, Tanjung Unggat, Kampung Bulang, Kampung Melayu, dan Kota Piri, sepuluh kampung yang mengikuti festival kuliner ini, terlihat begitu antusias menjajakan juadah olahannya kepada setiap pengunjung yang melintas.

“Kami dari tahun ke tahun selalu ikut kegiatan festival kuliner ini,” kata Irus, perempuan yang berjaga di tenda Senggarang.

Sedari siang, ia mengaku sudah ada banyak juadah yang terjual. Mulai dari yang berupa makanan ringan atau yang berupa juadah tradisional seperti nasi lemak dan laksa goreng. Sebagaimana pengunjung lain yang merasa terobati rindu akan juadah tradisi, festival kuliner semacam ini juga memberikan rasa yang sama buat Irus.

“Kami ini kalau tak ada kegiatan macam ini, manalah nak masak juadah-juadah tradisi macam ini,” ujarnya.

Wali Kota Tanjungpinang tidak kalah ikut antusias menghadiri festival kuliner. Bahkan ia mendatangi tenda satu per satu tenda dan ikut menyicip sejumlah juadah. Sesekali bahkan ikut membantu meladeni pembeli yang datang. “Dulu saya waktu kecil kan jualan kue, kecil aja kalau sekarang jualan kue lagi seperti ini,” katanya yang bikin pembeli tertawa. (muf/bp)