Ketika Penyair Senior Menggebrak Festival Bahari Kepri 2016

974
Rida K Liamsi membacakan puisinya pada Panggung Penyair 2016 di Gedung Daerah Tanjungpinang, Rabu (26/10/2016). Foto: Yusnadi/Batam Pos
Rida K Liamsi membacakan puisinya pada Panggung Penyair 2016 di Gedung Daerah Tanjungpinang, Rabu (26/10/2016). Foto: Yusnadi/Batam Pos

batampos.co.id – Pergelaran Panggung Penyair sempena Festival Bahari Kepri (FBK) 2016 kian mengukukuhkan Tanjungpinang sebagai Dermaga Sastra Indonesia.

Bukan berlebihan anggapan sedemikian. Terlebih bila ingin mengukur kecemerlangan sejarah panjang sastra dari Kepulauan Riau ini.

Sejak zaman Raja Ali Haji hingga hari ini, keberadaan sastrawan bak cendawan di musim hujan. Pelakunya tetap ada dan berlipat ganda.

Panggung Penyair FBK 2016, Rabu (26/10/2016) malam kemarin di halaman Gedung Daerah Tanjungpinang mencirikan hal tersebut. Ada penyair-penyair senior macam Sutardji Calzoum Bachri dan Rida K Liamsi yang dalam proses kreatifnya pernah bersentuhan langsung dengan Tanjungpinang. Dua penyair terbilang ini dalam pembacaan puisinya menyita ribuan pasang mata yang hadir.

Rida tampil lebih mula. Sastrawan bergelar Datuk Seri Lela Budaya ini membacakan puisi Kopi Sekanak, sebuah puisi yang bercerita tentang sejarah kebesaran bangsa Melayu di era dulu. Rida tampil dengan begitu percaya diri. Suaranya masih melangit. Cara membacanya masih mempesona. Diiringi syahdu bunyi biola, baris-baris sajak itu pun sampai ke telinga ratusan pendengar yang hadir.

Puisi terus mengalir. Setelah Rida, giliran Sutardji memecah malam di Tanjungpinang. Cara Sutardji membaca puisi selalu menarik hati. Ia membuka panggung lewat baris-baris puisi Tanah Air Mata. Dimainkannya sebuah harmonika di sela-sela pembacaannya. Iringan musik yang digarap Samudra Ensemble kian menghidupkan Sutardji. Dari sini semua boleh percaya, puisi membuat usia hanya sekadar deret-deret angka.

“Dari sini kita semua harus percaya Tanjungpinang adalah dermaga sastra Indonesia,” kata Kepala Dinas Pariwisata Kepri, Guntur Sakti di tengah-tengah pembacaan puisi.

Sejak panggung dibuka, memang sudah begitu terasa gegap-gempita pesta kata-kata. Sederet barisan penyair muda Tanjungpinang menampilkan sebuah garapan khusus. Berkolaborasi dengan musisi muda dalam kelompok Samudra Ensemble, Zainal, Febriadi, Harfan, Fatih, Yoan, dan Rendra membuka pertunjukan dengan puisi tematik tentang sosok Raja Ali Haji. Semakin memukau berkat kehadiran Nabila, bocah tujuh tahun yang menutup parade penyair pembuka tersebut.

Kemudian saling isi-mengisi, ganti-berganti, para penyair tampil membacakan puisi. Senior dan yang muda berlomba menampilkan suguhan terbaik. Dalam deret penyair senior, ada Husnizar Hood, Teja Al Habd, Tarmizi Rumah Hitam, Abdul Kadir Ibrahim, Heru Untung Leksono, dan Suryatati A Manan.

Ketua Kadin Tanjunpinang, Bobby Djayanto yang punya minat terhadap seni pun ikut membacakan puisi. Sementara selain penampil pada parade pembuka, penyair muda Barozi, Irwanto, dan Fayentia dari Batam pun tidak mau ketinggalan menampilkan kemampuan terbaiknya.

Di sela-sela pembacaan puisi yang silih berganti, penonton juga dihibur melalui penampilan personel Akademi TNI Angkatan Udara yang menyajikan tarian Rempak Gendang Taruna. Kemudian Samudra Ensemble juga menghibur ruang dengar penonton melalui lagu etnik-modernnya.

Bila pada umumnya penutupan sebuah panggung puisi disudahi begitu saja, tidak dengan Panggung Penyair FBK 2016 kemarin. Kemeriahan pesta kata-kata ditutup dengan sebuah garapan pertunjukan bertajuk Puisi Taman Penyair.

Di situ, barisan penyair muda kembali menghebohkan panggung dengan membacakan penyair-penyair Tanjungpinang yang telah berpulang. Mulai dari puisi Ibrahim Sattah, Bhinneka Surya, Tusiran Suseno, Machzumi Dawood, hingga Junewal Lawen Muchtar.

“Kami ingin mengenangkan kepada seluruh yang hadir, bahwa mereka yang telah mendahului kita semua itu punya peran besar dalam pembangunan sastra Tanjungpinang hari ini,” ucap Penyelia Panggung Penyair FBK, Husnizar Hood.

Sebagai Ketua Dewan Kesenian Provinsi Kepri, Husnizar juga berharap, ke depannya panggung-panggung pembacaan puisi bisa digarap lebih serius, lebih sungguh-sungguh, lebih berani. Sebab apa, Husnizar menegaskan bahwa puisi bukan sekadar pelengkap dari sebuah acara. Melainkan inti yang menghidupkan.

“Ini backdrop aja tak ada. Kursi penonton juga tidak ada. Padahal semua penyair sudah tampil meyakinkan dengan puisinya. Bahkan ada juga Bang Tardji. Seharusnya acara ini bisa dikemas menjadi suatu suguhan yang lebih baik. Puisi itu inti, bukan cuma pelengkap,” ungkap Husnizar. (muf/bp)

Respon Anda?

komentar