Ujian Nasional Dihapus Mulai 2017, Ini Respon Bandan Standar Nasional Pendidikan

3513
Pesona Indonesia
Ujian nasional berbasis komputer atau ujian online di SMK Yaspika Karimun. foto:tri haryono/batampos
Ujian nasional berbasis komputer atau ujian online di SMK Yaspika Karimun. foto:tri haryono/batampos

batampos.co.id – Rencana Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy membebaskan 30 persen sekolah yang standar integritas dan skor akademiknya sudah dia tasa rata-rata nasional mulai 2017 menuai rekasi dari Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP).

Badan independen yang menyelenggarakan unas ini menilai ujian nasional tetap dibutuhkan. BSNP merupakan badan independen penyelenggara ujian nasional.

Anggota BNSP Zainal Arifin Hasibuan menjelaskan belum ada keputusan resmi soal teknis penyelenggaraan ujian nasional tahun 2017.

Namun ia mengaku sudah mendengan rencana itu. ’’Di internal kami sekarang sedang galau,’’ jelasnya.

Menurutnya jika nanti diputuskan ada 30 persen sekolah maka pemerintah harus mengubah nama ujian nasional menjadi yang lain.

Sebab dengan keluarnya 30 persen unit sekolah dari ujian tahunan itu, maka tidak bisa lagi disebut ujian nasional.

Kemudian guru besar UI itu mengatakan dua tahun terakhir sedang gencar dilaksanakan perbaikan penyelenggaraan uujian nasional.

Diantaranya memperbanyak sekolah penyelenggara ujian nasional berbasis kertas (UNBK). Dia tidak ingin upaya perbaikan itu menjadi sia-sia.

Pria yang akrab disapa Ucok itu menuturkan kalaupun sudah ada 30 persen sekolah yang mencapai standar kelulusan nasional, itu sifatnya sekolah secara umum.

Namun jika dipelototi setiap anaknya, belum tentu seluruhnya telah mencapai standar kelulusan nasional.

Sehingga evaluasi atau penilaian terhadap individu anak tetap harus dilakukan.

Kepala SMAN 2 Surabaya Kasnoko menjelaskan dirinya tidak akan mengomentari 30 persen sekolah yang dibebaskan dari ujian nasional.

’’Pendapat pribadi saya sebagai kepala sekolah, saya akam memilih ikut yang 70 persen sekolah melaksanakan unas,’’ jelasnya.

Menurutnya ada banyak alasan sehingga ujian nasional tetap harus dijalankan. Diantaranya adalah bisa menjadi penyemangat siswa dan guru untuk belajar.

Dia khawatir semangat itu bakal berkurang jika tidak ada ujian nasional. Terkait masih banyaknya masalah dalam pelaksanaan ujian nasional, menurutnya bisa terus diperbaiki bersama. (jpg)

Respon Anda?

komentar