Batam Masih Langganan Banjir Setiap Hujan, Ini Kata Walikota Rudi

1114
Pesona Indonesia
Sejumlah kendaraan berusaha menerobos genangan air yang meluap dijalan Raja Fisabililah Batamcenter, Kamis (27/10/2016). Genangan air terjadi karena drainase di kawasan tersebut belum selesai dari pengerjaan proyek pelebaran jalan. Foto: Cecep Mulyana/Batam Pos
Sejumlah kendaraan berusaha menerobos genangan air yang meluap dijalan Raja Fisabililah Batamcenter, Kamis (27/10/2016). Genangan air terjadi karena drainase di kawasan tersebut belum selesai dari pengerjaan proyek pelebaran jalan. Foto: Cecep Mulyana/Batam Pos

batampos.co.id – Persoalan banjir di Batam masih saja belum terselesaikan. Mulai dari era Wali Kota Batam Nyat Kadir, AhmadDahlan, hingga Rudi saat ini, puluhan titik di Batam terus kebanjiran, meski hujan deras hanya sesaat.

Problem utamanya, sistem drainase yang tak terintegrasi satu sama lain. Drainase indusk juga tidak tertata dan terencana dengan baik.

Catman area atau area resapan air juga makin berkurang akibat reklamasi yang dilakukan oleh sejumlah pengembang.

Kondisi itu diperparah dengan kebiasaan sebagian warga Batam membuang sampah sembarang hingga menyumbat saluran draniase.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum (PU) Kota Batam, Yumasnur mengatakan jumlah lokasi banjir di Kota Batam ada 47 titik. Sekitar 17 titik telah dibenahi, baik secara permanen ataupun non permanen sehingga banjir tak lagi terjadi.

“Sekarang tinggal 30 titik lagi yang harus dibenahi. Memang agak sulit, namun harus segera kita atasi,” ujar Yumasnur di kantor Walikota Batam, Kamis (27/10/2016).

Yumasnur membenarkan penyebab banjir akibat buruknya sistem drainase di Batam. Tak semua pengembang yang membangun drainase yang baik sehingga menyebabkan banjir di beberapa tempat.

Selain itu, Batam juga tak memiliki kolam penampungan, serta sumur resapan. Sehingga ketika hujan turun, daerah yang rendah akan cepat terendam banjir. Begitu juga dengan banyaknya sampah yang dibuang ke dalam drainase.

“Perbaikan semua ini pastinya membutuhkan biaya yang besar dan waktu yang lama. Karena harus diperbaiki secara bertahap,” terang Yumasnur.

Dikatakannya, tindakan yang dilakukan untuk mencegah banjir adalah membangun dan memperlebar drainase. Sedangkan daerah yang tidak bisa dibangun drainase adalah melakukan normalisasi dengan alat berat.

Sekitar empat alat berat pun telah disiapkan untuk mengeruk tanah atau sampah yang menjadi penyebab banjir, sehingga air hujan dapat lewat.

“Daerah yang belum ada parit, kita buatkan parit dengan alat berat. Empat alat berat itu kita maksimalkan untuk mengatasi banjir se-kota Batam. Namun tahun depan, alat berat kita akan bertambah,” jelas Yumasnur.

Sementara itu, Wali Kota Batam Muhammad Rudi miris melihat kondisi beberapa daerah Batam yang terendam banjir. Dirinya pun tak bisa berbuat banyak saat itu (kemarin, red).

“Tadi saya lihat banjir. Saya tak berani turun. Miris juga melihatnya,” jelas Rudi,” usai memimpin rapat yang dihadiri pejabat eselon II dan III Pemko Batam di kantor Walikota Batam.

Menurut Rudi, keterbatasan anggaran menjadi hambatan pihaknya mengatasi keseluruhan banjir di Batam. Begitu juga dengan lahan yang tidak dimiliki Pemko untuk membangun drainase. Sebab, banyak lahan yang telah diberikan Badan Penguasahaan (BP) Batam kepada pihak pengembang.

“Tanahnya habis, resapan air ditimbun dan diberikan kepada pengembang. Gimana nggak banjir,” terang Rudi.

Meski begitu, Rudi mengaku tak kehabisan akal, Sabtu (29/10/2016) depan, dirinya menghimbau seluruh PNS untuk ikut melakukan gotong royong bersama.

“Kita mulai pukul 07.00 sampai selesai. Di tingkat kecamatan dan Kelurahan akan ada satu titik, begitu juga untuk tingkat kota,” pungkas Rudi. (she)

Respon Anda?

komentar