Dahlan Iskan Harusnya Tidak Ditahan, Berbahaya Bagi Kesehatannya

534
Pesona Indonesia
Dahlan Iskan di Kejati Jatim, Kamis  (27/10/2016). Foto: GALIH COKRO/JAWA POS
Dahlan Iskan di Kejati Jatim, Kamis (27/10/2016). Foto: GALIH COKRO/JAWA POS

batampos.co.id -Keputusan penyidik Kejaksaan Tinggi (Kejati) Jawa Timur menahan Dahlan Iskan terkait kebijakannya saat memimpin BUMD Jatim, dinilai membahayakan kesehatan mantan Menteri BUMN era Presiden SBY itu.

Dahlan Iskan pernah menjalani transpalansi hati pada 6 Agustus 2007 silam, sehingga pola hidup benar-benar harus mendapat perlakuan khusus. Segala sesuatu yang dikonsumsi maupun di sekitar Dahlan harus memenuhi standar tertentu. Sekali standar tersebut dilanggar, kesehatannya berada dalam bahaya besar.

Seperti diketahui, Dahlan ditahan di rumah tahanan Medaeng Kamis malam (27/10/2016) usai diperiksa.

Terkait perlakuan khusus Dahlan Iskan pasa operai tertuang dalam surat Sun Xiaoye, ahli di Departemen Transplantasi Tianjin First Centre Hospital (TFCH). Di surat itu, Dahlan diharuskan menjalani sekian banyak medical follow-up untuk menjaga badannya tetap sehat. Sebab, setiap pasien transplantasi hati memiliki risiko yang sangat tinggi untuk mengalami infeksi.

Bukan hanya infeksi, setiap orang dengan riwayat transplantasi organ juga memiliki risiko penolakan. Untuk menanggulangi risiko penolakan itu, setiap pasien transplantasi organ harus minum obat imunosupresan.

Minum imunosupresan akan membuat daya tahan tubuh seseorang turun. Karena itu, pasien transplantasi harus hidup serbasteril. Mulai makanan, pakaian, tempat mandi, lingkungan, hingga lain-lain.

Dengan pemicu sedikit saja, infeksi dapat muncul. “Apabila infeksi serius terjadi, itu bisa menyebabkan pasien harus dilarikan ke ICU. Dalam kondisi seperti itu, sangat sulit menyelamatkan pasien,” jelas Sun Xiaoye dalam suratnya.

Dalam penjara, tentu saja kondisi yang dibutuhkan Dahlan itu sangat sulit untuk dipenuhi. Berkumpul dengan banyak orang, risiko dia tertular penyakit orang-orang yang berada di dekatnya akan sangat besar.

Belum lagi, Dahlan harus menjalani serangkaian tes untuk memantau kondisi badannya. Dalam kondisi sehat pun, Dahlan harus mengecek tekanan darahnya dua kali setiap hari. Kadar gula darah juga harus senantiasa dipantau. Sebab, obat-obatan yang dikonsumsi bisa meningkatkan kadar gula darah.

Setiap bulan, dia juga harus menjalani pemeriksaan ginjal untuk memastikan bahwa kondisinya baik-baik saja. Itu perlu dilakukan karena setiap hari dia harus meminum obat.

Sayang, Kejaksaan Tinggi Jawa Timur tidak memedulikan surat dari rumah sakit itu. Mereka dengan semena-mena menahan Dahlan meski hal tersebut membahayakan nyawanya. (lyn/c11/ang/jpg) 

Respon Anda?

komentar