Malam Ini, Rida K Liamsi Rilis Buku Semi Sejarah

1458
Pesona Indonesia
Rida K Liamsi membacakan puisinya pada Panggung Penyair 2016 di Gedung Daerah Tanjungpinang, Rabu (26/10/2016). Foto: Yusnadi/Batam Pos
Rida K Liamsi membacakan puisinya pada Panggung Penyair 2016 di Gedung Daerah Tanjungpinang, Rabu (26/10/2016). Foto: Yusnadi/Batam Pos

batampos.co.id – Festival Bahari Kepri 2016 juga mengemban visi membangun kebudayaan. Sebab itu bukan sekadar panggung hiburan dan tontonan yang didirikan. Tapi juga dibarengi dengan panggung diskusi dan seminar yang diharapkan bisa jadi tuntunan.

Untuk kian menyemarakkan festival yang lahir dari embrio Festival Sungai Carang ini, Budawayan Melayu Rida K Liamsi merilis sebuah buku semi sejarah, Jumat (28/10/2016) malam ini di Hotel CK Tanjungpinang.

Buku berjudul Prasasti Bukit Siguntang dan Badai Politik di Kemaharajaan Melayu (1293-1913) ditulis secara serius oleh Rida selama setahun terakhir. Dan memang sudah sejak jauh-jauh hari diinginkannya dirilis berbarengan Festival Bahari Kepri.

“Inspirasi aku itu Sungai Carang, sungai yang sebenarnya harta karun sejarah kerajaan Melayu Riau-Lingga,” ucap Rida, di Tanjungpinang, Kamis (27/10/2016).

Sebagai harta karun tak tepermanai, Rida percaya Sungai Carang menyimpan jejak kebesaran peradaban suatu Melayu sebagai bangsa yang besar. Bilamana harta ini digali dan kemudian diserahkan ke tengah kehidupan, ada banyak pelajaran penting yang bisa diambil.

Agar prosesi peluncuran buku kian semarak, turut dilibatkan juga beberapa sejarawan sebagai pendedah Prasasti Bukit Siguntang dan Badai Politik di Kemaharajaan Melayu ini. Di antara yang sudah pasti hadir adalah Ahmad Dahlan dan Mukhlis PaEni.

Kemudian dilengkapi pula pembacaan badai politik ini bersama sejarawan Kepri Aswandi Syahri dan Ketua Yayasan Jembia Emas, Ramon Damora.

Tapi bukan sekadar buku Rida saja yang diluncurkan malam ini. Untuk kian menggelorakan manfaat dan kebesaran Sungai Carang pada lintasan sejarah bangsa Melayu, turut dirilis pula antologi tulisan-tulisan ihwal Sungai Carang. Sepenuhnya pengerjaan buku ini diserahkan kepada Yayasan Jembia Emas. Sebagai lini sayap bakti Batam Pos Group kepada pembangunan kebudayaan.

“Menarik sekali. Masing-masing penulis dari berbagai latar belakang mencoba mendedah Sungai Carang dalam segala perspektifnya,” kata Direktur Yayasan Jembia Emas, Ramon Damora.

Tidak saja menjaring naskah-naskah berkualitas, urun tulisan Sungai Carang kali ini, kata Ramon, juga ikut menemukan penulis-penulis baru di bidang kebudayaan. Sekali dayung, dua-tiga pulau terlampaui.

“Mereka penulis yang lama vakum. Tapi, setelah Jembia mengumumkan mencari artikel Sungai Carang, mereka menulis dengan tajam dan mengungkapkan bukti-bukti yang tidak banyak diketahui orang,” ujar pria yang aktif sebagai Ketua PWI Kepri ini.

Keberadaan antologi esai Sungai Carang ini, kata Ramon, diharapkan kian melengkapi buku semi sejarah yang disusun Rida. “Kita perlu dua untuk menggenapi sesuatu bukan? Nah, antologi ini yang akan menggenapi sekaligus menemani perjalanan buku Pak Rida menuju pembacanya,” ujarnya. (muf)

Respon Anda?

komentar