Rida K Liamsi Sajikan Sejarah dengan Menggugah

2099
Pesona Indonesia

buku-pak-rida-2-ffatihbatampos.co.id – Budayawan Melayu Rida K Liamsi menerbitkan buku semi-sejarah ‘Prasasti Bukit Siguntang dan Badai Politik di Kemaharajaan Melayu 1160-1946’ di Hotel CK Tanjungpinang, Jumat (28/10) malam. Buku semi-sejarah karya Rida dinilai meluas secara waktu dan menyempit dalam ruang. Berhasil mengangkat sebuah batang terendam tentang kegemilangan Melayu sebagai sebuah bangsa. Disajikan secara utuh, komplet, dan komprehensif.

Oleh sebab itu, Ketua Masyarakat Sejarawan Indonesia, Mukhlis PaEni tanpa ragu dan segan menyebut buku ‘Prasasti Bukit Siguntang dan Badai Politik di Kemaharajaan Melayu 1160-1946’ sebagai buku yang bisa dijadikan sumber tepermanai untuk penulisan buku ajar di sekolah-sekolah.

“Kalau buku sejarah ditulis seperti cara Pak Rida ini akan membuat anak-anak lebih mudah memahami, daripada text-book yang ada selama ini, sangat menyulitkan,” kata Mukhlis.

Dari buku ini pula, sambung Mukhlis, dapat diketahui penjelasan-penjelasan kebudayaan mengenai dinamika politik yang ada di kawasan ini. Sebuah episode panjang tentang sebuah bangsa yang besar dan dirasa olehnya perlu dimasukkan dalam muatan lokal bagi anak-anak di daerah ini.

“Sebab di sekolah-sekolah di Malaysia, cerita lima Upu Bugis itu sangat penting diajarkan. Itu menjadi dasar bagi mereka untuk memahami sejarah,” kata sejarawan kenamaan ini.

Rupanya catatan Mukhlis atas buku Rida bukan sekadar tentang keutuhan dalam penyajian sebuah sejarah. Melainkan, juga berhasil disajikan dengan cara menarik dan menggugah. Mukhlis menyebutkan, bahwasanya dari buku ini dengan mudah diperoleh pemahaman yang luas tentang peranan Melayu.

“Saya berikan penghargaan atas buku ini. Bukan sebagai buku sejarah. Tapi roman sejarah. Karena ini adalah buku paling menarik yang pernah saya baca, yang dengan menarik menyajikan romantika dalam sejarah Melayu,” ungkap Mukhlis.

Apresiasi juga datang dari Ahmad Dahlan. Mantan Wali Kota Batam yang punya minat tinggi terhadap sejarah ini menyatakan kekagumannya atas usaha Rida merampungkan sebuah buku sejarah di balik kesibukannya yang begitu padat. Dahlan yang juga telah menulis Sejarah Melayu, mengungkapkan bahwasanya buku karya Rida ini punya nilai motivasi bagi seluruh pembacanya.

“Buku ini memotivasi kita semua untuk belajar sejarah lebih dalam. Mencoba mengisi kekosongan sejarah Melayu yang tidak kita dapatkan dari referensi,” ucap Dahlan.

Setelah Mukhlis dan Dahlan, ada Chaidir. Nama terakhir ini juga hadir sebagai pendedah ‘Prasasti Bukit Siguntang dan Badai Politik di Kemaharajaan Melayu 1160-1946’ di Tanjungpinang. Kolomnis tetap Riau Pos ini menilai buku semi-sejarah karya Rida sebagai karya inspiratif. “Pak Rida tiba-tiba hadir dan mengangkat batang terendam ke permukaan. Kenapa inspiratif, karena batang yang terendam di dasar sungai ini kayunya sangat keras dan jadi kayu terbaik. Itu yang diupayakan Pak Rida lewat buku ini,” ungkap Chaidir.

Lantas darimana ide tentang buku ini bisa dituliskan? Tanpa ragu, sang penulisnya pun buka dapur. Rida mengungkapkan bahwasanya buku ini terbit hasil persimpangan dalam prosesnya menulis novel Megat. Ketika sedang melakukan riset tentang sejarah Melayu untuk kebutuhan novelnya, Rida tiba-tiba merasa seolah dihujani fakta-fakta baru tentang sebentang sejarah panjang bangsa Melayu.

Sehingga tiba-tiba ia merasa bahwa informasi yang diperolehnya itu tidak bisa seluruhnya ditampung dalam novel. Perlu medium lain untuk membagikan hasil risetnya selama kurang lebih sepuluh tahun belakangan ini membaca buku-buku dan esai-esai tentang perjalanan sejarah kerajaan Melayu.

“Tujuan awal pertama untuk menulis novel. Tapi hasil riset itu setelah melalui banyak diskusi rupanya perlu ditulis sebagai buku lain. Jadilah buku ini. Dari hasil riset itu rupanya kita diajarkan tentang kesetiaan, dan kesepakatan moral itu yang bermula dari Bukit Siguntang,” ungkap Rida.

Sementara itu, penyunting ‘Prasasti Bukit Siguntang dan Badai Politik di Kemaharajaan Melayu 1160-1946’, sejarawan Kepri, Aswandi Syahri menambahkan bahwasanya dalam historiografi atau penulisan sejarah, model yang digunakan Rida dalam penulisan bukunya ini disebut penulisan sejarah naratif.

“Eksplanasi atau penjelasannya yang naratif. Jadi bukan sekadar memaparkan fakta-fakta. Tapi juga mencari inner context; hubungan kaitan antara satu fakta dengan fakta lainnya,” terang Aswandi.

Metode ini pada akhirnya, kata Aswandi, membuat buku semi-sejarah ini sebagai karya yang menarik. Kelebihannya adalah metode ini membuat karya sejarah jadi lebih mudah dibaca. Aswandi tidak heran dengan hal tersebut.

“Sebab, Pak Rida adalah seorang yang punya minat sejarah tinggi dan ia adalah seorang sastrawan. Karya sejarah yang baik itu ditulis seindah sebuah karya sastra. Ini yang tidak banyak sejarawan akademisi mampu,” ucap Aswandi. (muf)

Respon Anda?

komentar