Tanjungpinang bak Monaco, Ramai Yacht Bersandar

1597
Pesona Indonesia
foto: guntur sakti untuk batampos.co.id
foto: guntur sakti untuk batampos.co.id

Ini bukan Monaco, bukan Barcelona, bukan Cannes, bukan San Fransisco, juga bukan Perth, apalagi Sydney. Bukan kacamata hitam Anda, ini asli Tanjung Pinang, Kepri.

Memang sudah ada 58 yachts, perahu pesiar warna putih-putih dengan layar putih yang tidak terkembang, karena parkir. Mereka sedang mengikuti Wonderful Indonesia Sailling (WIS), bagian dari even Festival Bahari Kepri (FBK), yang sudah dimulai 27 Oktober 2016.

Festival berbasis sea zone itu menjadi penanda bangkitnya bahari Indonesia dari Kepri. “Hari ini berbagai jenis kapal-kapal yacht sudah masuk ke Kepri, Tanjungpinang khususnya. Pemandangan seperti inilah yang kita mimpikan di Tanjungpinang sejak dulu,” ujar Ketua Harian Festival Bahari Kepri, Guntur Sakti menjawab pertanyaan media disela-sela melihat persiapan Gedung Gonggong, Tanjungpinang.

Mimpi itu masih seperti mimpi saja, karena hadirnya yachts kali inilah yang sebenarnya juga diinginkan Presiden Joko Widodo saat Sail Tomini 2015 lalu di Palu, Sulteng. Sailing itu untuk perahu dan kapal pesiar yang akan memberi dampak ekonomi yang signifikan. Membuat semua bisnis berbasis pariwisata hidup dan masyarakay memperoleh benefit.

“Nanti puncak acaranya, Sabtu 29 Oktober akan ada ratusan sailers yang datang. Kami bangga, karena wisata bahari kami benar-benar hidup,” jelas Guntur yang juga Kepala Dinas Pariwisata Pemprov Kepri itu.

Disebutkan Guntur, pada H-2, sebanyak 58 kapal yacht sudah masuk ke Kepri. Yakni melalui Nongsa Poin Marina (NPM), Batam sebanyak 20 kapal yacht. Pintu masuk lainnya adalah melalui Bandar Bentan Telani (BBT), Bintan sebanyak 8 kapal yacht. Sementara dari gate way nasional yang sebanyak 12 kapal yacht.

“Kapal-kapal yacht yang saat ini berlabuh di Tanjungpinang masuk dari gateway nasional dan Kepri. Di luar dugaan kita, pada H-2 para yachter dunia sudah berdatangan ke Kepri. Jika ini sukses, maka Kepri akan semakin dikenal di komunitas pencinta bahari,” papar Guntur.

Kepala Dinas Pariwisata Kepri tersebut mengatakan, bagi para yachter yang sudah tiba di Tanjungpinang akan disuguhkan even Sound From Motherland of Malay nanti malam (tadi malam) di halaman Gedung Daerah, Tanjungpinang. Menurut Guntur, pada puncak FBK nanti sekitar 100 kapal yacht yang akan menyerbu Kepri.

Masih kata Guntur, FBK secara tidak langsung melambungkan nama Tanjungpinang. Meskipun Tanjungpinang tidak ada dalam peta yachter dunia, karena belum punya marina. Kenyataannya tetap menjadi magnet bagi para yachter untuk datang ke Tanjungpinang. Artinya, persiapan selanjutnya harus dibenahi adalah membangun marina di Tanjungpinang.

“Kita harus mulai mempersiapkan diri, khusus Tanjungpinang. Apabila dirancang elegan, Tanjungpinang bisa menjadi water front city di Kepri,” jelas Guntur.

Lebih lanjut Guntur mengatakan, berbicara Wisata Bahari Kepri, tentunya menyangkut tiga poin penting. Yakni wisata coastal zone (pantai), sea zone (laut), dan under water zone (bawah laut). Lewat FBK inilah, upaya Provinsi Kepri untuk memperkenalkan wisata-wisata bahari di Provinsi Kepri. Karena tujuan besar yang ingin dicapai adalah menjadikan Kepri sebagai Gerbang Wisata Bahari Indonesia.

“FBK ini hanya laluan kita untuk memperkenalkan wisata bahari Kepri. Apalagi ambisi kita adalah untuk menjadikan Kepri sebagai Gerbang Wisata Bahari Indonesia. Artinya ada pekerjaan berat yang harus kita lakukan setelah ini,” jelas Guntur.

Ditambahkannya, even-even yang dikemas lewat FBK hari ini (kemarin,red) memberikan beberapa nilai. Yakni nilai edukasi, rekreasi, dan nasionalismen. Nilai edukasinya adalah anak-anak diajarkan untuk mencintai seni budaya bangsa, melalui pawai budaya. Kemudian masyarakat juga mendapatkan tontonan sekaligus edukasi tentang wisata bahari dengan kedatangan kapal-kapal yacht.

“Masyarakat juga bisa melihat bagaimana kehebatan para prajurit TNI dalam melakukan terjun payung. Sehingga rasa nasionalismenya muncur disanubari,” tutup Guntur yang direncanakan akan dihadiri Menpar Arief Yahya, 29 Oktober 2016 itu.(*)

Respon Anda?

komentar