Pesawat Kargo Hilang Kontak di Papua, Pencarian Terkendala Cuaca

569
Pesona Indonesia
Danlanud Timika, Letkol Pnb A Gogot Winardi memberikan keterangan seputar korrdinasi misi penyelamatan pesawat kargo yang hilang kontak, di media centre Bandara Mozes Kilangin, Senin (31/10). Foto: Mayer Sarioa/Radar Timika
Danlanud Timika, Letkol Pnb A Gogot Winardi memberikan keterangan seputar korrdinasi misi penyelamatan pesawat kargo yang hilang kontak, di media centre Bandara Mozes Kilangin, Senin (31/10). Foto: Mayer Sarioa/Radar Timika

batampos.co.id – Pesawat kargo, Caribou DHC 4A Turbo, jenis PK-SWW yang hilang kontak sejak Senin (31/10/2016) pagi, masih terus dicari lokasi jatuhnya.

Pesawat kargo milik Pemerintah Kabupaten Puncak, Papua itu diduga hilang pada titik koordinat E 137 38 11 S 04 07 46, yang berdekatan dengan Distrik Jilla, Kabupaten Mimika, Papua.

Tim Badan SAR Nasional (Basarnas) bersama aparat TNI-Polri serta maskapai penerbangan perintis, telah mengambil inisiatif misi penyelamatan.

“Persiapan awal disiapkan posko terdekat di Jila sekaligus mensurvei apabila cuaca bagus bisa dilaporkan untuk flight berikutnya. Memang cuaca kurang bagus namun harus disiapkan sehingga upaya mengirim orang ke Jila. Dalam tim itu selain SAR juga anggota Paskhas, KNKT, Trigana, Polri serta droping Bahan Bakar Minyak (BBM) Avtur 1 Ton, namun terkendala cuaca sehingga kembali,” ujar Danlanud Timika, Letkol Pnb A Gogot Winardi, ketika ditemui Radar Timika di Bandara Mozes Kilangin Timika, Senin (31/10/2016).

Kepala Dinas Perhubungan Provinsi Papua, Djuli Mambaya membenarkan bahwa tim gabungan sudah melakukan pencarian.

Djuli mengaku belum mengetahui penyebab hilangnya pesawat milik pemda Kabupaten Puncak ini. Namun dugaan awal, cuaca yang begitu ekstrim menjadi tantangan besar bagi dunia penerbangan di Papua.

Apalagi cuaca di Papua saat ini tidak bisa diprediksi, kadang berubah secara tiba-tiba. Hal ini kata dia, membuat pilot dan maskapai berjibaku dalam melakukan penerbangan terutama ke daerah-daerah pedalaman.

Dia juga mengatakan, transportasi udara merupakan akses satu-satunya menuju Ilaga, Kabupaten Puncak. Karena itu pihak maskapai berjibaku melakukan penerbangan untuk melayani masyarakat. Termasuk dalam melayani kebutuhan pembangunan.

Djuli membantah bahwa pesawat tersebut tidak layak terbang. Dia menegaskan, meski pesawat milik Pemda Puncak diproduksi pada tahun 70-an namun sudah diperbarui. “Dan tidak ada pesawat yang jatuh karena usia,” katanya.

Dia menambahkan, pesawat ini dibeli oleh Pemda Puncak untuk kebutuhan pengangkutan barang, dalam rangka menurunkan disparitas harga yang sangat jauh berbeda dengan wilayah perkotaan.

Djuli menjelaskan, pesawat nahas yang hilang kontak itu mengangkut bahan bangunan sekitar 3,1 ton dari Timika tujuan Ilaga.

“Pesawat ini memang khusus untuk mengangkut barang. Bahan bangunan yang dibawa ini untuk kepentingan pembangunan oleh pemerintah di Ilaga,” jelasnya. (rex/sun/mix/adk/jpnn)

Respon Anda?

komentar