Pesawat Kargo Milik Pemkab Puncak Ditemukan Hancur, Semua Kru Tewas

426
Pesona Indonesia
Jenazah para crew pesawat cargo Caribou milik Pemkab Puncak dievakuasi ke Bandara Mozes Kilangin Timika, Papua, Selasa (1/11/2016). Selanjutkan korban diterbangkan ke Jakarta ke kediaman masing-masing untuk dimakamkan. Foto: Radar Timika/JPG
Jenazah para crew pesawat cargo Caribou milik Pemkab Puncak dievakuasi ke Bandara Mozes Kilangin Timika, Papua, Selasa (1/11/2016). Selanjutkan korban diterbangkan ke Jakarta ke kediaman masing-masing untuk dimakamkan. Foto: Radar Timika/JPG

batampos.co.id – Upaya pencarian pesawat kargo jenis Caribou PK-SWW milik Pemkab Puncak, Papua, membuahkan hasil. Selasa (1/11/2016) kemarin, pesawat naas itu ditemukan dalam kondisi hancur lebur di perbatasan antara Ilaga dan Jila.

Diduga, pesawat yang mengangkut material bangunan untuk jembatan ini menabrak gunung dalam perjalanan dari Timika menuju Ilaga.

Kepala Biro Informasi dan Komunikasi Publik Kementerian Perhubungan (Kemenhub) Bambang S. Ervan menuturkan, pesawat nahas itu ditemukan Selasa (1/11/2016) sekitar pukul 06.35 WIT.

Pesawat teridentifikasi di ketinggian 12.800 feet. Empat kru pesawat tewas. Yakni Farhat Limi (pilot), Fendi Ardianto (kopilot), Steven (ahli mesin), dan Andi Baringan (flight operation officer).

Belum diputuskan mekanisme evakuasi badan pesawat. Tim berfokus pada evakuasi korban. Setelah itu, dilakukan pencarian black box pesawat oleh pihak Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT).

”Saat ini konsentrasinya itu. Untuk mengetahui penyebab kecelakaan,” kata Bambang.

Dia enggan berspekulasi tentang penyebab insiden tersebut. Kemenhub menunggu hasil penyelidikan dan rekomendasi pihak KNKT.

”Tim KNKT kesulitan masuk ke lokasi karena medannya sangat sulit dijangkau,” ujarnya.

Kepala SAR Mimika Mahfud mengatakan, pesawat kargo yang mengangkut bahan bangunan seberat 3,1 ton ini ditemukan hancur di Gunung Bintang. Empat kru ditemukan sekitar tujuh meter dari serpihan pesawat.

”Evakuasi terhadap empat jenazah dilakukan menggunakan helikopter dan memakan waktu sekitar dua jam,” katanya kepada Cendrawasih Pos (grup batampos.co.id).

Sementara itu, kemarin juga terjadi insiden pesawat terbang. Pesawat milik PT Aviastar Mandiri mengalami gangguan ban saat mendarat di Bandara Ilaga, Papua, sekitar pukul 09.20 WIT. Akibat kejadian itu, bandara sempat ditutup. ”Tapi, sejak pukul 10.35 WIT sudah dibuka kembali karena pesawat sudah berhasil dievakuasi,” kata Bambang.

Pengamat penerbangan Alvin Lie menyatakan, medan di Papua memang ekstrem untuk rute penerbangan. Infrastruktur navigasi juga minim. Tidak semua tempat dapat dipasangi alat bantu navigasi.

”Banyak bandara di Papua yang standar ope­rasinya hanya VFR (visual flight rule). Yaitu penerbangan berbasis navigasi visual atau pandangan mata,” ungkapnya.

Keterbatasan juga terjadi di infrastrukur meteorologi atau pemantauan cuaca. Hal itu memperberat tantangan penerba­ngan. Tak jarang pilot menghadapi perubahan cuaca ekstrem di tengah penerbangan. Hal tersebut membahayakan penerbangan di medan pegunungan.

”Kondisi bandara di Papua pada umumnya minimalis. Landasan pacu yang pendek dan tidak rata. Tidak ada lampu landa­san. Bahkan tanpa ATC,” papar pria yang juga merupakan anggota Ombudsman RI itu.

Kondisi tersebut membatasi lingkup operasional penerbangan dan menuntut kedisiplinan semua insan penerbangan. Lebih dari itu, pemerintah harus segera meningkatkan infrastruktur penerbangan di Papua untuk menjamin safety. (mia/JPG)

Respon Anda?

komentar