Supir Dadakan Dahlan Iskan

373
Pesona Indonesia

Tak ada mimpi sebelumnya. Tapi sekitar pukul 15.00 WIB pada Jumat, 6 Februari 2015 silam, saya menjadi supir bagi mantan Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Dahlan Iskan.

Ibarat ‘kecelakaan’ tepat di pelaksanaan The 1st ASEAN Summit for State-owned Enterprises and Media (ASSOEM) sempena musyawarah Serikat Perusahaan Pers (SPS) dimana Provinsi Kepri adalah tuan rumahnya saat itu.

Musyawarah SPS itu sendiri digelar di Hotel Harris, Batamcenter dan dibuka oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla. Dahlan Iskan adalah Ketua Umum SPS.

Saya bukan panitia di acara yang juga bertepatan dengan Hari Pers Nasional di Batam saat itu. Tapi saat itu saya seakan menjadi sosok penting untuk ‘menyelamatkan’ Dahlan Iskan dari kejaran puluhan awak media usai acara pembukaan The 1st ASSOEM tersebut.

Saat itu, Wapres Jusuf Kalla telah meninggalkan acara pembukaan. Dahlan baru saja menyampaikan laporan pertanggungjawaban tugasnya sebagai ketua umum SPS dan hendak kembali ke hotel dimana bos Jawa Pos itu nginap.

Saat dikejar awak media itu, Dahlan berjalan dengan cepat menuju pelataran parkir Hotel Harris, tepat di samping mobil sedan yang saya kendarai. Saya saat itu baru saja menurunkan Direktur Ambon Ekspres Mahfud Waliulu, Pemred Ambon Ekspres Nasri Dumula, Pemred Suara Maluku Novi Pinontoan dan jurnalis senior dari Ambon, Azis Tuni. Saya awalnya disuruh menjemput mereka di Bandara Hang Nadim, Batam. Mereka juga peserta ASSOEM dan juga pengurus baru SPS Maluku yang akan dilantik oleh Dahlan di kegiatan SPS tersebut.

Nah, setelah mereka turun, tiba-tiba Dahlan Iskan muncul dan langsung membuka pintu depan mobil tua saya yang kondisinya sangat kotor karena banyak lumpur yang menempel di body bahkan kaca. Saat itu sedang musim hujan jadi mobil tidak mungkin bersih.

Tanpa bertanya sebelumnya, Dahlan langsung masuk dan duduk tepat di samping saya. Saya telah mengenalnya tapi belum pernah bertatap muka apalagi berbicara langsung dengan ‘sang guru’ Jawa Pos ini. Beliau sudah pasti tidak kenal siapa saya.

Saya sedikit gugup dan grogi kala Dahlan menyuruh jalan. Tanpa ragu, saya langsung menjalankan mobil dengan pelan sementara para wartawan masih tetap mengejar ‘buruan’ mereka yang saat itu memang menyatakan ‘puasa bicara’ dalam waktu tertentu kepada media massa setelah tak lagi menjabat Menteri BUMN.

williamSetelah beberapa meter berlalu dari parkiran hotel, Dahlan langsung bertanya, “Taksi ya?” Saya makin gugup. Entah apa yang harus saya jawab saat itu. Sebenarnya pimpinan Batam Pos, tempat dimana saya bekerja telah menyediakan mobil jemputan untuk Dahlan, yakni Toyota Lexus yang saat itu juga terparkir di hotel.

Dengan agak gugup saya kemudian menjawab bahwa saya bukan supir taksi. Dahlan mengira rombongan direktur Ambon Ekspres (grup Jawa Pos juga) itu baru saja turun dari taksi. Maklum, di Batam banyak juga taksi plat hitam.

Dahlan kemudian bertanya, “Lalu, Mas ini dari mana? Saya pun menjawab kalau saya adalah wartawan Batam Pos yang baru saja mengantarkan mantan bos saya dari Ambon itu. “Oala….,” jawab Dahlan, sambil memukul bahu saya dengan sebuah map yang tergulung.

Kami pun mulai berdiskusi sejak beliau tahu bahwa saya adalah anak buahnya dari grup Jawa Pos. Selain tanya jabatan dan umur saya, beliau juga menanyakan berapa banyak anak saya, juga kabar pimpinan saya di Batam mulai dari Direktur Utama, Marganas Nainggolan.

Walau suasana mulai mencair, saya tetap ‘keringatan’ kendati suhu di mobil cukup dingin. Apalagi tangan Dahlan tiba-tiba utak atik blower indoor AC mobil Honda Accord saya. Rupanya blower itu diarahkan ke saya. “Apa terlalu dingin AC-nya Pak?” tanya saya yang seketika dijawab, “Tidak, sudah pas.”

Saya pun bingung mau diarahkan kemana mobil saat itu. Saya lalu bertanya hendak kemana bos Jawa Pos ini biar saya arahkan mobilnya ke sana. Ia menyuruh saya mengantarkan ke Hotel GGI. “Tahu kan hotelnya?” tanya Dahlan. Tanpa pikir saya langsung menjawab, “Tahu”.

Padahal, saya benar-benar tidak tahu dimana letak hotel ini karena GGI termasuk hotel baru di Batam kala itu. Tapi sebagai seorang wartawan, saya tidak mungkin menjawab tidak tahu nama bahkan lokasi hotel di kota berpenduduk 1,2 juta jiwa itu.

Saya makin panik, tidak mungkin saya lihat telepon seluler dan buka google map karena dalam pikiran, yang saya supirin ini adalah mantan menteri dan bos besar saya. Pikiran saya campur aduk apalagi saya benar-benar tidak tahu alamat hotel tersebut.

Tapi saya yakin hotel ini pasti berada di daerah Nagoya atau Jodoh. Saya lalu menelusuri jalanan dari Batamcenter menuju Nagoya dalam kondisi bingung.

Mobil kemudian melaju menuju arah Pelita. Saya kemudian masuk melalui terowongan Pelita dan langsung disergahnya, “Tadi saya tidak lewat sini (terowongan) saat dari Hotel GGI ke Hotel Harris” ujar Dahlan. Saya lalu jawab bahwa ia diantar mobil hotel melalui jalan Batuampar.

Maka dari situ saya berasumsi bahwa hotel GGI itu berada di kawasan Harbourbay, Batuampar. Ada dua jalan ke kawasan Batamcenter jika berkendaraan dari Jodoh yakni bisa melalui Nagoya, Pelita atau Batuampar langsung ke Batamcenter.

“Saya sengaja ambil jalan pintas, Pak. Karena mobil saya kecil dan jalan Batuampar dilalui banyak trailer,” jawab saya.

Setelah masuk kawasan Nagoya dan firasat saya telah mantap menuju Harbourbay maka saya langsung tancap gas ke sana. Setelah tepat di depan SPBU Harbourbay, mata saya tiba-tiba melihat Hotel GGI tepat di sebelah kanan jalan.

Rasanya lega setelah melihat hotel yang konon milik teman Dahlan itu. Kami mulus sampai ke depan hotel. “Terimakasih. Salam untuk istri dan anak,” ucap Dahlan di akhir pertemuan tak sengaja yang saya sebut ‘kecelakaan’ itu.

Setelah Dahlan turun dan masuk ke hotel, ponsel saya berdering. Entah darimana General Manager Batam Pos, Candra Ibrahim tahu saya yang mengantar Dahlan ke hotel tempat ia menginap. “Willy antar Pak Dahlan ke hotel mana?’ tanya Candra.

“Ke Hotel GGI, Bang,” jawab saya dengan senang karena mobil ‘jelek’ saya itu ternyata ditumpangi ‘pembesar’ yang sederhana.

“Itu rezekimu hari ini Will,” jawab Candra dari balik ponsel.

Sebenarnya semua orang sedang mencari keberadaan Dahlan saat meninggalkan ruang musyawarah SPS termasuk bos-bos saya di kantor, apalagi mobil jemputan ‘gagal’ menjemput beliau.

Mereka juga tidak tahu dimana Dahlan menginap, padahal panitia telah menyiapkan satu kamar di Harris Hotel. Dari sayalah, para petinggi itu tahu dimana Dahlan nginap. Karena esok harinya Dahlan punya kegiatan dengan komunitas senam di Batam yakni Senam Dahlan Style.

Sosok sederhana dan apa adanya ala Dahlan Iskan ini bagi saya jarang ada di negeri ini. Saya benar-benar merasa beruntung hari itu karena bisa berdiskusi dengan dia terutama soal pekerjaan saya di kantor. Sosok penuh inspirasi ini perlu diselamatkan. #SaveDahlanIskan.  (WILLIAM SEIPATTIRATU, Batam )

Respon Anda?

komentar