Antisipasi Gangguan Interkoneksi, PLN Pinang Siagakan Pembangkit Cadangan

441
Pesona Indonesia
Pegawai PT PLN sedang melintasi Kawasan GI Kijang yang menjadi pusat penyaluran interkoneksi listrik ke Bintan-Tanjungpinang, Jumat (30/9/2016). Sumber kelistrikan yang menjadi percontohan se Indonesia dengan daya 180 MW itu belum dapat dirasakan masyarakat di tiga kecamatan terluar Kabupaten Bintan. Foto: Harry/Batampos
Pegawai PT PLN sedang melintasi Kawasan GI Kijang yang menjadi pusat penyaluran interkoneksi listrik ke Bintan-Tanjungpinang, Jumat (30/9/2016). Foto: Harry/Batampos

batampos.co.id -General Manager (GM) Area Tanjungpinang, Armunanto mengatakan secara keseluruhan Ibu Kota Provinsi Kepri, Tanjungpinang sudah menggunakan sistem interkoneksi listrik Batam-Bintan (Babin). Meskipun demikian, pihaknya tetap menyiapkan pembangkit cadangan, apabila terjadi gangguan pada sistem interkoneksi.

“Untuk listrik Pulau Bintan, Tanjungpinang khususnya sudah masuk sistem interkoneksi. Kita berharap ini menjadi penerang bagi pembangunan Tanjungpinang kedepan,” ujar Armunanto, Rabu (2/11/2016) di Tanjungpinang.

Disinggung mengenai adanya pemadaman yang terjadi di Tanjungpinang beberapa hari belakangan ini. Armunanto mengatakan pemadaman yang terjadi, bukan menyeluruh. Bukan juga pemadaman bergilir yang dilakukan pihaknya. Disebutkannya, pemadaman listrik  terjadi terkait adanya penggantian kawat dan  pemasangan saklar jaringan. Tujuannya supaya  jaringan yang ada lebih handal.

Armunato juga menjelaskan, blackout terjadi sebelum interkoneksi lebih disebabkan oleh ketidaksinkronan proteksi antara Pembangkit Tenaga Mesin Uap (PLTU), Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD), dan Pembangkit Listrik Tenaga Mesin Gas (PLTMG). Karena ketiganya dihubungkan dengan jaringan penghubung express feeder yang panjang.

“Sehingga apabila terjadi gangguan pada pembangkit dan atau jaringan penghubung tersebut maka listrik bisa padam total, solusi dari itu semua adalah beroperasinya interkoneksi 150 kilo volt (kv) Babin,” jelas Armunanto.

Menurut Armunanto, dengan beroperasinya interkoneksi 150 kv dan gardu induk, maka semua arus listrik yang ke masyarakat langsung dari gardu induk. Sehingga sistem lama, yakni sistem isolated pembangkit dan express feeder yang sering menyebabkan blackout (padam total) sudah tidak digunakan lagi. Pihaknya juga berkomitmen untuk memberikan pelayanan listrik terbaik kepada masyarakat.

“Mudah-mudahan tidak terjadi pemadaman secara total lagi. Kita berharap pembangunan di Pulau Bintan terus berkembang, dengan adanya infrastruktur listrik yang representatif,” jelasnya lagi.

Ditambahkan Armunanto, langkah antisipasi jika terjadi gangguan pembangkit Batam dan interkoneksi Babin , tentunya pembangkit-pembangkit lama yang ada di Pulau Bintan akan dioperasikan. Baik itu PLTD, PLTU, dan PLTMG yang ada di Tokojo, Kijang, dan Dompak, Tanjungpinang. Sehingga pemadaman listrik dapat dihindari.

“Untuk merevitalisasi jaringan di Pulau Bintan, PLN Area Tanjung Pinang akan melakukan revitalisasi/rehabilitasi jaringan secara bertahap, hal ini kami lakukan agar pendistribusian  listrik ke masyarakat menjadi lebih handal,” tutup Armunanto. (jpg)

Respon Anda?

komentar