Digulung Ombak, Halil Tetap Peluk Istrinya hingga Nafas Terakhir

1542
Pesona Indonesia
Halil tak kuasa menahan tangis saat melihat jenazah istrinya di RS Bhayangkara, Nongsa, Rabu malam (2/11/2016). Foto: ddt/posmtero
Halil tak kuasa menahan tangis saat melihat jenazah istrinya di RS Bhayangkara, Nongsa, Rabu malam (2/11/2016). Foto: ddt/posmtero

“Bang, sampai di Lombok saya nggak mau ngomong lagi sama abang…”

“Loh, kenapa sayang?”

“Pokoknya tak mau saja…

Kalimat itulah yang diucapkan Aisyah, kepada suami tercintanya M Halil, sesaat setelah speedboat yang ia tumpangi bersama TKI lainnya, Rabu (2/11/2016) dini hari meninggalkan Malaysia menuju Batam.

Halil tak terlalu menghiraukan ucapan istrinya itu. Bagi Halil, itu tak lebih dari candaan dari wanita yang baru satu tahun ia nikahi itu.

Ia tak mengira itu firasat buruk kalau ia bakal terpisah untuk selamanya.

“Dia memang biasa bercanda seperti itu kepada saya,” kenang Halil, saat ditemui di RS Bhayangkara, Nongsa, Rabu (2/11/2016) malam.

Speedboat pun melaju kencang meninggalkan tanah jiran itu menembus gelapnya malam. Ia tak lupa mengenggam tangan istrinya sambil sesekali mengelus perut istrinya yang sedang mengandung buah cintanya.

Ya, Aisyah sedang hamil dua bulan. Halil dengan penuh kasih sayang memberikan jaket ke sang istri agar tidak kedinginan.

Maklumlah, speedboat kecil namun penuh sesak penumpang tak beratap sama sekali. Angin laut yang dingin karena cuaca sedang hujan rintik, menembus hingga ke tulang sum-sum.

Ya, speedboat bermesin empat masing-masing 200 PK itu memang memuat 98 TKI (berita semula 93, red), ditambah tiga awak.

Dokumen (paspor) semua tenaga kerja Indonesia (TKI) ini mati, sehingga terpaksa pulang lewat jalur tikus.

Ada juga yang memang tak memiliki paspor karena masuk lewat jalur tikus menggunakan jasa sindikat penyalur tenaga kerja ilegal ke Malaysia.

Speedboat terus melaju hingga mencapai perairan Indonesia, tepatnya perairan Nongsa, Batam. Halil tetap duduk disamping istrinya sembari menggenggam tangan sang istri tercinta.

Apalagi hujan turun makin deras ditambah angin kencang membuat seluruh penumpang kedinginan.

Braaaakkkk…

Tiba-tiba bagian dasar speedboat ini menabrak karang. Seluruh penumpang terkejut. Termasuk Halil dan istrinya.

Penumpang laki-laki diminta turun untuk mendorong speedboat tersebut menjauh dari karang. Usaha itupun berhasil. Speedboat akhirnya bisa melaju kembali.

Tidak lama setelah itu, saat speedboat masih jauh dari bibir pantai Teluk Mata Ikan, Nongsa, tiba-tiba dihantam ombak besar. Kapal terbuat dari fiber bercat hitam itu langsung terbalik, menumpahkan seluruh penumpangnya.

Detik-detik speedboat terbalik, Halil masih sempat melihat istrinya Aisyah terlempar ke sisi kanan speedboat bersama itri abang iparnya, Zainap. Sementara ia terjebak di bawah speed boat yang tertelungkup.

Halil segera berenang dan meraih tangan kedua wanita itu. Tangan Aisyah digenggam dengan tangan kanannya, sementara Zainap di tangan kiri.

Halil berusaha berenang sekuat tenaga bersama istri dan kerabatnya itu. Namun kuatnya ombak membuat mereka tergulung beberapa kali.

Setiap tergulung ombak, Halil berusaha mengangkat kedua wanita ini agar tetap mendapatkan oksigen di atas permukaan air. Namun Aisyah dan Zainap tiba-tiba tak sadarkan diri.

Tangan Zainap terlepas dari genggaman Halil dan menjauh dari jangkauan Halil. Sementara tangan istrinya Aisyah masih dalam genggamannya.

Halil berusaha memeluk istrinya agar tak terseret ombak. Bahkan, saat ombak datang menggulung, Halil tetap memeluk istrinya.

“Saya tidak mau melepaskan istri saya. Saya terus menggendongnya seperti ini,” kenang Halil sambil menjulurkan ke dua tangannya lurus ke depan.

“Saat saya menggendongnya itu, istri saya sudah tak bernafas lagi, dia meninggal,” ujar Halil sambil menangis.

Begitu kuatnya keinginan Halil ingin menyelamatkan pasangan hidupnya itu. Ia tetap berusaha menggendong sang istri, meski ia tahu tak bernafas lagi.

Tapi terjangan ombak di subuh itu memisahkan mereka hingga akhirnya Aisyah lepas dari tangan Halil.

Halil berusaha menggapainya, tapi ombak datang lagi dan lagi hingga ia terpisah. Halil pun lelah.

Ia sempat putus asa setelah istrinya tak dipelukannya lagi. Ia terus menangis memanggil-manggil nama istrinya. Meski ia tahu istrinya tak bennafas lagi.

Halil pun lelah, namun semangatnya untuk hidup tiba-tiba muncul. Ia berusaha terus berenang ke arah darat, sambol sesekali melihat ke belakang kalau-kalau istri tercinta mengapung.

Pria berjenggot benar-benar lelah. Namun ia tidak kehilangan akal. Ia segera melepas celananya agar tidak terasa berat saat berenang.

Satu tas selempang dan satu tas pinggang dililitkan di kedua tangannya. Tas itu digunakan pria 26 tahun ini untuk memudahkannya saat mendayungkan tangannya melawan arus ombak. Hingga akhirnya Halil mencapai daratan.

Tak lama, ia ditolong warga dan dievakuasi ke rumah Raja Ahmad di Tanjung Bemban, Nongsa.

Ia terus teringat istrinya, Aisyah. Biduk rumah tangga yang baru sejengkal dikayuh kini benar-benar karam, bersama speedboat yang mereka tumpangi.

Keinginan memiliki anak dari wanita 27 tahun itu kandas. “Dia (Aisyah) lagi hamil kurang lebih dua bulan,” ratap Halil.

Setelah dievakuasi dan diberi pakaian ganti, Halil tetap berusaha mencari istrinya. Ia kemudian dibawa ke RS Bhayangkara, Rabu (2/11/2016) malam.

Sesampai di RS Bhayangkara, Halil masih tampak tegar saat mengidentifikasi jasad istrinya. Dari 18 foto korban tewas tenggelam yang diperlihatkan polisi, ia tampak tenang menunjuk foto Aisyah; Abang iparnya, Mahrun, dan istri abang iparnya, Zainap

Namun begitu masuk ke ruang otopsi RS Bhayangkara, tangis Halil langsung pecah. Ia terus mengucap “Astaughfirullah” saat melihat jasad istrinya, Aisyah yang telah terbujur kaku di peti pendingin mayat.

Tubuhnya lemas dan nyaris terjatuh. Beberapa dokter polisi (Dokpol) segera memegangi dan membawa keluar dari ruang otopsi kamar jenazah, Rumah Sakit Bhayangkara, Nongsa.

Ucapan sang istri saat berangkat ternyata jadi firasat perpisahan mereka. Halil benar-benar tidak bisa lagi berbicara dengan istrinya. Sang istri telah pergi untuk selamanya.

Halil tak hanya kehilangan istri tercinta, ia juga kehilangan empat kerabatnya.”Mahrun dan Zainap meninggal. Sementara anak mereka, Zainatul, dan adik sepupu saya hingga sekarang belum ditemukan,” pungkas Halil sambil menarik nafas panjang. (ddt/pm/nur)

Respon Anda?

komentar