Gubernur Lampung Ingin IAIN Radin Intan Menjadi UIN

830
Pesona Indonesia
Gubernur Lampung Muhammad Rido Ficardo (tengah) menyaksikan Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin memukul gong pada pembukaan Konferensi Studi Islam Internasional (Annual International Confrence On Islamic Studies/AICIS) ke-16 di Ballroom Novotel Lampung, Selasa (1/11/2016) malam.
Gubernur Lampung Muhammad Rido Ficardo (tengah) menyaksikan Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin memukul gong pada pembukaan Konferensi Studi Islam Internasional (Annual International Confrence On Islamic Studies/AICIS) ke-16 di Ballroom Novotel Lampung, Selasa (1/11/2016) malam.

Gubernur Lampung Muhammad Ridho Ficardo meminta Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin menaikkan status Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Radin Intan menjadi Universitas Islam Negeri (UIN).

Sebagai bukti dukungan atas peningkatan status itu, Pemerintah Provinsi Lampung siap menghibahkan lahan 50-100 hektare.

Permintaan tersebut disampaikan Ridho di depan Menteri Agama pada pembukaan Konferensi Studi Islam Internasional (Annual International Confrence On Islamic Studies/AICIS) ke-16 di Ballroom Novotel Lampung, Selasa (1/11/2016) malam. Konferensi menghadirkan 500 profesor dan 1.200 lebih peserta dari Indonesia dan luar negeri. Konferensi membicarakan updating terhadap akademik terakhir yang terjadi di kampus.

Menurut Ridho peningkatan status IAIN Radin Intan membawa dampak positif bagi Lampung.

“Status UIN nantinya akan memberikan efek yang baik bagi perkembangan pendidikan agama di Lampung. Untuk itu Pemprov siap mendukung untuk lebih memajukan UIN, kami hibahkan lahan  50-100 hektare,” kata Ridho yang disambut tepuk tangan peserta.

Ridho menekankan sebagai pemeluk Islam terbesar, harus diimbangi dengan penduduk beragama yang berkualitas. Sehingga Islam Indonesia bisa bermanfaat dan mempunyai andil dalam perubahan dunia yang lebih baik. “Islam harus menjadi rahamatan lil alamin atau menjadi rahmat untuk masyarakat sekitarnya salah satunya menghidupkan ajaran agama di lingkungan sekitar,” kata Ridho.

Ridho yang pernah tercatat sebagai gubernur termuda di Indonesia itu, mengaku prihatin dengan citra  Lampung,  dengan kejahatan begal. Namun belakangan citra tersebut mulai teratasi oleh penegak hukum. Namun langkah penegakan hukum itu, juga seharusnya bisa dicegah melalui kegiatan keagamaan.

“Kita lawan kejahatan, bukan orangnya yang dihabisi tapi kejahatannya, lewat ajaran agama. Sehingga bisa hijrah ke arah yang lebih baik. Keinginan saya pesantren dan perguruan tinggi agama tidak hanya menjadi menara gading namun juga bisa menjadi rahmat untuk wilayah sekitarnya,” ujar Gubernur.

Untuk itu, Ridho siap mendukung kegiatan mahasiswa dan santri masuk desa, untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan masyarakat.

“Pemprov siap menanggung biaya hidup santri dan mahasiswa yang terjun ke desa, agar mereka bisa pula menghidupi masjid dan memberi pengaruh positif di tengah masyarakat,” kata Ridho yang juga alumnus Universitas Padjadjaran Bandung itu.

Pada kesempataan itu, Ridho juga kembali mengharapan Menteri Agama menaikkan status Bandara Radin Intan II dari embarkasi antara menjadi embarkasi haji penuh. Permintaan itu untuk menyambut peningkatan status Bandara Radin Intan II menjadi bandara internasional pada 2017.

“Selain itu Pak Menteri, Bandara Radin Intan II terus kami perjuangkan pembangunannya. Sebentar lagi akan menjadi Bandara Internasional. Kami mohon dukungan dan rekomendasi agar Lampung bisa menjadi embarkasi haji penuh. Pemprov siap menghibahkan tanah untuk asrama haji, sehingga bisa menjadi embarkasi haji,” ujar Ridho.

Dengan menjadi embarkasi haji langsung, jemaah haji asal Lampung tidak lagi harus melalui Jakarta dan bergabung dengan kelompok terbang (kloter) Jakarta. Selama ini, seluruh jemaah haji Lampung harus terbang ke Jakarta yang membuat ada ongkos transit daerah (OTD). Menurut Ridho, Lampung layak memiliki embarkasi haji sendiri mengingat jumlah jemaah haji dan umroh tiap tahun bertambah. ***

Respon Anda?

komentar