Pasar Dabo Makin Sepi, Pedagang Tuntut Tarif Retribusi Diturunkan

443
Pesona Indonesia
Pedagang di PasarDabo Singkep mengeluh sepinya pembeli. Foto: wijaya satria/batampos
Pedagang di PasarDabo Singkep mengeluh sepinya pembeli. Foto: wijaya satria/batampos

batampos.co.id – Pedagang di Pasar Dabo Singkep mengaku resah dengan kondisi saat ini. Pasalnya, jumlah pembeli makin sepi. Mereka meminta Pemkab Lingga menurunkan retribusi yang dipungut setiap bulannya.

Kondisi keterpurukan ini dialami Ranti, salah seorang pedagang sayur yang telah bejualan selama 10 tahun di pasar Dabo Singkep.

Menurut ibu berjilbab ini, dagangannya semakin hari semakin tidak laku. Seperti sayur kecambah atau tauge yang dijualnya sering dibuang karena tidak habis terjual.

“Dulu saya ambil tauge untuk dijual sebanyak dua kilogram, rata-rata habis terjual. Sekarang ambil dua kilogram tauge paling laku dua ons saja, sisanya ya dibuang, karena gk tahan lama,” kata Ranti ketika ditemui sedang duduk termenung di balik meja julannya di Pasar Sayur Dabo Singkep, Rabu (2/11) pagi.

Tauge hanya salah satu contoh barang dagangan yang disebutkan Ranti. Namun barang dagangan lainnya seperti tahu dan sayur mayur juga mengalami hal yang sama, tidak laku karena menurunnya daya beli masyarakat. Menurut Ranti penurunan tingkat daya beli masyarakat menurun hingga di atas 50 persen.

Selain Ranti, Rohani, ibu penjual makanan untuk serapan di Pasar Sayur Dabo Singkep juga mengaku resah karena hal yang sama. Pengakuan Rohani, biasanya dengan menjual aneka makanan serapan, gorengan dan sayur mayur, wanita berkacamata ini dapat memperoleh keuntungan hingga Rp 400 ribu perharinya.

“Sekarang, boro Rp 400 ribu, sehari cari Rp 100 ribu saja sulitnya minta ampun,” ujar Rohani saat menghampiri wartawan koran ini yang sedang mewawancarai pedagang sayur, temannya.

Rohani menyatakan, dia mesti mengurangi barang dagangannya karena takut tidak habis dan akhirnya terbuang. Begitu juga dengan Roby pedagang air minum di kawasan Pasar Satur Dabo Singkep, yang mengaku juga mengalami penurunan pendapatan setiap harinya.

Roby mengaku penurunan penjualan air minum, seperti kopi, teh, dan minuman panas lainnya merosot hingga 20 persen. Namun Roby masih tergolong beruntung karena barang dagangannya tidak mengalami perubahan bentuk dengan cepat seperti busuk dan lainnya.

Dengan kondisi seperti ini pedagang menyatakan tekor karena lebih banyak pengeluaran dibanding pemasukan perharinya. Untuk itu mereka meminta pemerinta terkait agar lebih meringankan biaya retribusi yang setiap harinya dipungut. Setiap meja pedagang dikenakan sebesar Rp 120 ribu perbulan, sedangkan pedagang yang menempati kios ditarif sebesar Rp 285 ribu perbulan.

“Kami mengaharapkan pengertian dan perhatian pemerintah untuk meringankan retribusi ini,” kata pedagang sayur di sana.

Selain itu, mereka juga meminta Pemkab Lingga agar lebih cepat mengambil kebijakan agar lapangan pekerjaan dapat buka dan menyerap tenaga kerja. Hal ini dimaksudkan mereka untuk meningkatkan ekonomi masyarakat Dabo Singkep yang berujung pada peningkatan daya beli masyarakat. (wsa)

Respon Anda?

komentar