42 Korban Speedboat Karam di Nongsa Belum Ditemukan, Hanyut ke Perairan Singapura

611
Pesona Indonesia
Petugas Basarnas melakukan pencarian penumpang kapal tenggelam yang belum ditemukan diperariaran Nongsa, Kamsi (3/11). Lebih kurang 42 orang masih blm ditemukan dalam kecelakaan tersebut. Foto: Cecep Mulyana/Batam
Petugas Basarnas melakukan pencarian penumpang kapal tenggelam yang belum ditemukan diperariaran Nongsa, Kamsi (3/11). Lebih kurang 42 orang masih blm ditemukan dalam kecelakaan tersebut. Foto: Cecep Mulyana/Batam

batampos.co.id – Tim Search And Rescue (SAR) Gabungan belum berhasil menemukan satupun korban lainnya dari tenggelamnya kapal TKI ilegal di hari kedua pencarian, Kamis (3/11/2016). Kuat dugaan, 42 korban yang masih dinyatakan hilang itu terseret arus ke perairan Malaysia atau Singapura.

Kapolda Kepri, Brigjend Pol Sam Budigusdian, mengatakan di hari kedua pencarian kemarin tim melibatkan 261 personil dengan 41 kapal dan dua helikopter. Namun hingga petang, proses pencarian tak membuahkan hasil.

“Dugaannya terbawa arus ke Singapura dan Malaysia. Ditambah jasad korban ini tidak ada yang mengapung,” ujar Sam di RS Bhayangkara Polda Kepri, Kamis (3/11) siang.

Untuk itu, pihaknya meminta bantuan Polisi Perairan Singapura dan Malaysia. Proses pencarian mencapai jarak 291 mil dari bibir pantai.

“Malaysia dan Singapura akan membantu proses pencarian,” terang Sam.

Pencarian pun kembali dilakukan hari ini, Jumat (4/11/2016). Pencarian difokuskan di permukaan air laut, karena memasuki hari ketiga ini, jasad korban diperkirakan akan mengapung ke permukaan air.

“Pengalaman operasi, pada hari ketiga biasanya yang tenggelam dan meninggal akan mulai mengapung, besok kekuatan fokus ke permukaan,” kata Kepala Badan SAR Nasional (Basarnas) RI, Felicianus Henry Bambang (FHB) Soelistyo, saat berkunjung ke Posko Penanganan Korban TKI Tenggelam di Nongsa, Batam.

Namun, pencarian di garis pantai juga tetap dilakukan. Hal ini guna menunjang hasil operasi tersebut baik korban yang masih diperkirakan hidup maupun meninggal.

“Hari pertama hingga ketujuh pencarian memang di permukaan dan di garis pantai,” terangnya.

Dia menambahkan, pencarian hari ketiga juga akan menurunkan kapal milik Basarnas yang dilengkapi peralatan sensor yang dapat mendeteksi objek di bawah permukaan laut.

“Tujuan utama untuk mencari titik tenggelam dan posisi kapal. Saya yakin masih ada juga saudara (jenazah korban) kita di dalamnya,” ucapnya.

Lanjut dia, setelah titik atau posisi kapal ditemukan, selanjutnya tim penyelam akan turun melakukan evakuasi. Tim penyelam melibatkan tim dari Basarnas, Polri, TNI Al, juga Marinir. Tidak hanya itu penyelam tradisional juga turut dilibatkan.

“Pada saat sasaran (kapal) ditemukan, mereka akan turun,” ucapnya lagi.

Dia percaya, dengan kekuatan 14 kapal milik TNI AL, Polair, Polresta, Brimob maupun Basarnas. Dua helikopter milik Basarnas dan Polri, serta kekuatan personil yang mencapai 261 personil pencarian tersebut akan berakhir baik.

“Ini sudah lebih dari cukup, tinggal bagaimana mengatur agar kekuatan ini dapat melakukan tugas selama operasi pokok tujuh hari,” terangnya.

Dia menambahkan, pencarian informasi juga diharapkan agar seluruh aparat teritorial (daerah) dapat menggali informasi dari korban selamat. “Kejadian ini bisa dijadikan pelajaran, untuk menghadapi kejadian serupa dikemudian hari yang mungkin saja terjadi lagi,”pungkasnya. (opi/eja/cr1/rng/cr13/cr17/bp)

Respon Anda?

komentar