Diwarnai Insiden Kecil, Suasana Demo Bela Islam II Kembali Kondusif, Massa Balik ke Istiqlal

1051
Pesona Indonesia
Sebuah mobil terbakar di antara massa pendemo di ruas jalan di depan Istana Negara, setelah terjadi kericuhan kecil. Namun suasana kondusif dan pendemo membubarkan diri. Foto: jpnn
Sebuah mobil terbakar di antara massa pendemo di ruas jalan di depan Istana Negara, setelah terjadi kericuhan kecil. Namun suasana kondusif dan pendemo membubarkan diri. Foto: jpnn

batampos.co.id – Aksi demo Bela Islam Jilid II yang awalnya berlangsung damai, sempat diwarnai kericuhan kecil sehingga terjadi pembakaran mobil dalmas, Jumat (4/11/2016) malam.

Kericuhan kecil ini juga diwarnai tembakan gas air mata. Namun itu hanya berlangsung beberapa saat.

Pendemo meminta kepolisian tidak berbaur dengan mereka agar massa tidak terpancing, meski tujuannya untuk negosiasi agar massa membubarkan diri.

Pendemo memastikan mereka akan membubarkan diri sendiri tanpa pakasaan, sehingga tidak perlu ada pembubaran paksa.

Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo dan Kapolri Jenderal Tito Karnavian saat mulai memanas tampak turun tangan berupaya menenangkan petugas keamanan dan massa di depan Istana Negara.

Gatot langsung berbicara menggunakan pengeras suara meminta semua tenang. “Mohon semuanya tenang, Pak Kapolri mengatakan kepolisian juga tenang. Kapolri akan menyampaikan perintah,” kata Gatot.

Jenderal Tito kemudian bicara dan memerintahkan anak buahnya supaya tidak ada menembakkan gas air mata lagi.

“Saya Kapolri, saya minta kepada seluruh anggota, agar hentikan tembakan gas air mata,” ujarnya.

Mantan kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) itu berupaya menenangkan massa.

“Kepada saudara-saudaraku yang berunjuk rasa segera kembali, kembali, kembali dan berusaha tenang,” katanya.

Dia menegaskan, aparat keamanan dan umat Islam adalah saudara. Karenanya Tito tak ingin ada korban luka dari kedua belah pihak.

Karena itu dia kembali memerintahkan anak buahnya menghentikan tembakan gas air mata. Namun, Tito juga meminta massa menahan diri.

“Saya minta sekali lagi anggota Polri hentikan tembakan gas air mata, jamaah jangan maju. Kita ciptakan kedamaian. Kita sebagai umat Islam, sama-sama umat Islam tidak boleh bertikai,” tegasnya.

Sayangnya, perintah Tito tak diindahkan. Bahkan saat jenderal bintang empat itu sedang bicara, suara tembakan gas airmata tetap saja terdengar. Tidak ada tanda-tanda mereda.

Melihat situasi itu, Jenderal Gatot kembali bicara. Ia mengaku diminta ulama untuk membuat situasi menjadi tenang.

“Saya juga umat muslim. Mohon hentikan. Dan kepolisian, Kapolri sudah memerintahkan hentikan tembakan. Ciptakan suasanan damai. Hentikan tembakan. Saya tidak mau umat muslim cidera. Dan kepolisian hentikan,” tegas Gatot.

Pernyataan dua jenderal awalnya belum direspon kedua belah pihak hingga bentrokan pecah. BIsa jadi karena suara bising sehingga apa yang dikatakan kedua jenderal ini tak terdengar dengan baik.

Namun, kedua belah pihak kemudian sama-sama menahan diri setelah pesan kedua jenderal itu sampai ke masing-masing pihak.

Tembakan gas air mata dihentikan, dan kedua pihak mundur. Polisi mundur ke tempat awal di depan istana, sementara massa mundur menjauhi istana.

Polisi akhirnya memahami kalau pendemo tidak ingin ada upaya paksa pembubaran karena pendemo sendiri yang akan membubarkan diri.

Proses pembubaran diri ini memang tidak bisa instan karena banyaknya massa. Apalagi dilakukan dengan jalan kaki. Itu sebabnya, aksi terkesan tak kunjung berakhir, padahal memang tidak memungkinkan bubar dalam waktu singkat.

Hingga pukul 21.00, massa semakin sedikit. Sebagian besar kembali ke Istiqlal dan gedung DPR RI. ‎(mg4/jpnn/yuz/JPG)

Respon Anda?

komentar