Peran Pemerintah ketika Ada PMA Sekarat

1300
Pesona Indonesia
foto: rezza herdiyanto / batampos
foto: rezza herdiyanto / batampos

batampos.co.id – PT Sanyo Energy Batam beroperasi sejak tahun 1992 di Batam. Pada Desember 2016 mendatang ia akan tutup, total.

Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Badan Pengusahaan (BP) Batam memastikan kabar buruk ini.

Manager Admin and General Affair PT Batamindo Investment Cakrawala, Tjaw Hioeng, juga memastikan PT Sanyo Energy Batam akan segera tutup total.

“Mereka tutup operasi. Iya betul,” kata Tjaw.

Menurutnya, berdasarkan surat pemberitahuan oleh perusahaan untuk karyawan, operasional perusahaan berakhir pada Selasa (1/11). “Pemberitahuan ke karyawan mulai hari ini (kemarin, red), mungkin tutupnya akhir bulan kali,” ucapnya.

Menurutnya, perusahaan tersebut tutup lantaran sepi order. Sehingga keuntungan perusahaan tak mampu lagi menutup biaya operasional.

Dari tahun 2010 trennya memang turun terus dan sampai pada titik tertentu tidak tahan lagi,” tambah Tjaw.

Menarik keterangan Tjaw diatas. Jika memang benar telah ada sinyal negatif tiadakah hal yang bisa dilakukan pemerintah?

“Nah ini yg menjadi pertanyaan, sejauh mana peran pemerintah jika menemukan kasus PMA yang sedang sekarat,” sahut Suyono Saputro, Dosen Ekonomi Universitas Internasional Batam.

Yono, demikian sapaan akrabnya, menambahkan setiap perusahaan terutama PMA (penanam modal asing) diwajibkan membuat laporan kegiatan penanaman modal (LKPM) tujuannya untuk mengetahui perkembangan bisnis perusahaan bersangkutan.

Namun, sangat disayangkan tingkat kepatuhan perusahaan untuk melaporkan LKPM sangat rendah, sehingga perusahaan yang sudah tutup pun BP Batam bisa tidak tahu.

“Karena tidak pernah update data,” tegasnya.

Dari laporan periodik itu, mestinya Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) sudah menyiapkan langkah antisipatif seandainya ada PMA yg sekarat atau dalam keadaan sulit karena faktor internal dan eksternal.

“Menurut saya, BKPM sudah saatnya memberikan perhatian serius kepada seluruh PMA /PMDN yang ada, terutama di sektor industri yang padat karya, agar kasus Sanyo tidak terulang,” terangnya.

Suyono menyadari memang benar, keputusan untuk tutup itu kewenangan manajemen. “Tapi jika ada upaya lain yang bisa dilakukan untuk tetap beroperasi tentu lebih baik. Salah satunya mungkin memberikan insentif pajak jika perusahaan bersangkutan masih mengalami operating loss yang signifikan,” urainya. “Sehingga beban industri sedikit berkurang.”

Pria yang senantiasa tampil langsing ini nampak sedih dengan tutupnya salah satu perusaahaan yang telah beroperasi lama di Batam itu. Ia mengingatkan, “sektor manufacturing itu profitnya not more than 10 percent … kalau operations cost atau production cost naik terus karena dipicu kenaikan UMK dan labor cost bagaimana bisa survive mereka. Jadi no choice, tutup merupakan pilihan pahit yang harus diambil.” (ptt)

Respon Anda?

komentar