Demo Menutut Presiden Korsel Mundur Makin Meluas

1165
Pesona Indonesia
Ratusan ribu warga Korea Selatan yang turun ke jalan menuntut Presiden Park Geun-hye mundur dari jabatannya, Sabtu malam (5/11/2016).  Foto: Ed JONES/AFP
Ratusan ribu warga Korea Selatan yang turun ke jalan menuntut Presiden Park Geun-hye mundur dari jabatannya, Sabtu malam (5/11/2016).
Foto: Ed JONES/AFP

batampos.co.id – Dugaan keterlibatan Presiden Korea Selatan Park Geun-hye dalam skandal Choi Soon-sil memicu kemarahan rakyatnya. Aksi demonstrasi pun kian meluas meminta presiden perempuan pertama itu mundur.

Meski sang presiden sudah meminta maaf dan menyatakan kesanggupannya menjalani pemeriksaan Kejaksaan Seoul, namun semua itu tak mampu meredam amarah warga. Sabtu (5/11/2016) ratusan ribu orang menyemut di jalanan Kota Seoul. Mereka menuntut presiden yang terpilih pada 2012 itu mundur dari jabatannya.

Para pengamat politik Korsel menyebut unjuk rasa sekitar 100.000 orang yang terkonsentrasi di pusat ibu kota itu sebagai yang terbesar sejak 2008.

“Kira-kira 43.000 orang berkumpul sambil menyalakan lilin di pusat kota pada Sabtu petang,” terang jubir Kepolisian Seoul. Untuk mengamankan unjuk rasa, polisi menyiapkan hampir 20.000 personel di ibu kota.

Dari titik kumpul di pusat kota, massa bergerak ke Blue House. Istana kepresidenan Korsel yang menjadi kediaman resmi Park itu memang merupakan target utama unjuk rasa. Polisi pun berfokus mengamankan kawasan tersebut.

Selain personel antihuru-hara dan kawat berduri, polisi juga menyiapkan barikade untuk menghadang massa memasuki titik-titik strategis Seoul.

Skandal persahabatan Park dan Choi itu terendus kali pertama pada 2014. Tepatnya setelah tenggelamnya MV Sewol. Sankei Shimbun ketika itu menurunkan tulisan tentang pertemuan rahasia Park dan Chung Yoon-hae di salah satu lokasi di Seoul. Kabarnya, dalam pertemuan tersebut mereka membahas investigasi Sewol yang menewaskan sekitar 300 penumpang.

Adalah Tatsuya Kato, kepala biro Sankei Shimbun Seoul, yang menulis artikel tersebut. Jurnalis Jepang itu sukses membuat publik bertanya-tanya tentang esensi pertemuan selama sekitar tujuh jam tersebut. Sebab, saat itu Park sudah tak punya hubungan profesional dengan Chung, yang pernah menjadi penasihatnya ketika dia masih menjabat legislator di National Assembly.

Belakangan media mengetahui bahwa Chung adalah suami Choi. Ketika itu publik belum paham bahwa Park dan Choi bersahabat. Tapi, masyarakat sudah mengenal Choi sebagai ketua yayasan yang sedang bermasalah karena terindikasi korupsi.

Saat kasus korupsi tersebut diselidiki, Choi berada di Jerman. Bersamaan dengan itu, Tatsuya Kato justru menjalani proses hukum karena dianggap memfitnah Park lewat tulisannya.

Akhir bulan lalu Choi pulang ke Korsel. Itu terjadi setelah media ramai memberitakan pertemanannya dengan Park. Publik pun lantas menudingnya memanfaatkan kedekatan dengan Park untuk menghindari hukum.

Karena itu, begitu kembali ke Seoul, Choi langsung memenuhi panggilan kejaksaan. Juga, sampai sekarang dia masih ditahan. Sementara itu, Park pun mengakui persahabatannya dengan Choi secara terbuka dan minta maaf.

Begitu Choi ditahan setelah menjalani pemeriksaan, polisi menginvestigasi Ahn Young-joon. Tak sampai 24 jam interogasi, polisi juga menahan politikus yang merupakan salah satu penasihat kepresidenan tersebut.

Park pun lantas merombak kabinetnya. Sedikitnya ada sepuluh posisi yang dia ubah. Termasuk posisi perdana menteri. Kini Park pun berpotensi menjadi sasaran investigasi.

“Meskipun kami ini hanya pelajar, kami juga merasa muak terhadap situasi yang sedang terjadi ini. Kami memilih ikut terjun langsung dalam unjuk rasa bersama teman-teman yang punya pikiran sama,” kata Byun Woo-hyuk. Pelajar 18 tahun itu mengusung spanduk bertulisan seruan agar Park segera mundur dari jabatannya. Jumat lalu Park sama sekali tidak menyinggung soal pengunduran diri.

Sejauh ini, tidak pernah ada presiden Korsel yang mengakhiri kepemimpinan sebelum masa jabatan berakhir. Park, yang tinggal setahun lagi menuntaskan periode kepresidenannya, pun tak ingin berhenti di tengah jalan. Karena itu, dia merombak kabinet dan mengambil langkah-langkah populis. Salah satunya adalah menyatakan kesanggupannya untuk diperiksa jaksa.

Seorang pengamat politik di Seoul mengatakan, mundur adalah solusi terbaik bagi Park. Sebab, jika tidak, Park akan kewalahan memimpin rakyat.

“Dia akan menyelesaikan setahun terakhir masa kepemimpinannya dengan susah payah. Sebab, tingkat kepercayaan publik sudah mencapai titik terendah,” ulasnya.

Selain politik dalam negeri yang bergejolak, perekonomian Korsel sedang tidak bersahabat. (AFP/Reuters/BBC/ibtimes/hep/c11/any)

Respon Anda?

komentar