Di Tanjungpinang, Harga Cabai Tembus Rp 80 Ribu per Kilogram

3028
Pesona Indonesia
Harga cabai di Karimun mencapai Rp 80 ribu perkilogram.
Harga cabai di Tanjungpinang mencapai Rp 80 ribu perkilogram.

batampos.co.id – Banjir yang melanda Kabupaten Bandung dan Cianjur Jawa Barat beberapa waktu lalu rupanya turut berimbas sampai ke Tanjungpinang. Bukan luapan airnya yang sampai ke sini. Melainkan, harga cabai merah ikut melambung tinggi lantaran sebagian besar cabai yang dijual di Tanjungpinang banyak didatangkan dari Jawa Barat.

Sebelum tiba masa banjir, cabai merah dari Jawa Barat yang dijual di Tanjungpinang berada di kisaran Rp 50-60 ribu per kilogramnya. Namun, setelah terjadi insiden banjir bandang membuat suplai komoditas terhenti. Akibatnya harga melambung hingga Rp 80 ribu.

“Bukan tersendat lagi ini pengirimannya, Bang. Tapi sudah tidak ada barang lagi yang masuk dari sana. Sudah seminggu ini atau setelah banjir itu harganya stabil di Rp 80 ribu,” kata Ali, pedagang di Pasar Baru Tanjungpinang, Jumat (4/11).

Permintaan barang, kata Ali, masih tinggi. Tapi ketersediaan barang rendah. Sehingga mau tidak mau hal ini memaksa sejumlah pedagang menaikkan harga. Sebenarnya bisa saja mengandalkan suplai cabai merah dari daerah lain. Tapi kata Ali, itu cukup berisiko. Misalnya cabai merah dari Jawa Timur pun harus didatangkan melalui pengiriman pesawat ke Batam untuk kemudian didistribusikan ke Tanjungpinang.

Tidak bisa lagi menggunakan kapal laut lantara para tauke takut barang dagang tersebut bisa busuk. Sehingga tidak ada pilihan pengiriman kecuali menggunakan pesawat terbang.

“Jadi ongkos kirim itu mahal. Sampai sini ya kami hanya bisa ikut menyesuaikan harganya saja,” ungkap Ali.

Kenaikan ini tentu cukup mengejutkan bagi sejumlah pembeli. Seperti pengakuan Yanti, pengusaha rumah makan yang agak terkejut mengetahui kenaikan harga cabai merah.

“Kalau tahu bakal naik, ya biasanya saya stok beli banyak,” ucapnya.

Sebagai pengusaha yang sudah berjualan lebih dari lima tahun, Yanti sudah hapal momentum-momentum kenaikan harga komditas dagang di pasar. Tapi baru kali ini ia mengaku kecolongan. Karena biasanya kenaikan itu lebih sering disebabkan cuaca yang tak baik dan hari-hari besar.

“Ya tapi mau tidak mau ya saya tetap harus beli dengan jumlah seperti biasanya. Kalau menaikkan harga nasi juga tidak mungkin. Ya saya anggap sebagai risiko berjualan saja,” ujar Yanti yang siang kemarin membeli cabai merah sebanyak 10 kilogram. (muf)

Respon Anda?

komentar