Sedih, Si Kembar Riko dan Brian Ditinggal Pergi Sang Ibu Setelah Ayahnya Stroke

1628
Pesona Indonesia
Jenazah si kembar Riko dan Brian yang tewas tenggelam di kolam galian di Kapling Flamboyan, Kecamatan Sagulung, Minggu pagi (6/11/2016). Foto: Jonson/;posmtero
Jenazah si kembar Riko dan Brian yang tewas tenggelam di kolam galian di Kapling Flamboyan, Kecamatan Sagulung, Minggu pagi (6/11/2016). Foto: Jonson/;posmtero

batampos.co.id – Nasib bocah kembar Riko dan Brian (8 tahun) yang tewas berbarengan di kolam galian di Kavling Flamboyan, Kecamatan Sagulung, Minggu pagi (6/11/2016) menguras air mata warga sekitar tempat tinggalnya.

Setahun lalu, si kembar ternyata di tinggal pergi ibu kandungnya entah kemana, setelah sang ayah, Saiful (35) jatuh sakit (stroke) setelah mengalami kecelakaan lalu lintas.

Dalam kondisi terbatas, Saiful tetap merawat tiga anaknya, termasuk kedua anak kembarnya itu, dibantu saudaranya.

Karena keterbatasan kemampuan bergerak lincah itu juga membuat Saiful tidak bisa 100 persen mengawasi kedua anak kembarnya ini.

Finsen, kerabat korban membenarkan hal itu. Bahkan ia mengaku sangat berduka dengan keadaan yang menimpa keluarga Saiful.

“Saiful stroke karena mengalami kecelakaan tahun lalu. Sejak itu, istrinya pergi meninggalkannya. Saiful pun harus menjadi ayah sekaligus ibu untuk membesarkan ketiga anaknya.  Apalagi dia tidak memiliki pekerjaan lagi,” jelas Finsen.

Atas tenggelamnya si kembar dan ditemukan tewas, warga serta keluarga korban langsung membuat laporan ke Mapolsek Sagulung. Petugas Polsek Sagulung juga sudah mendatangi RSUD-EF untuk melihat keadaan korban.

“Kedua anak ini tenggelam di dalam kolam dengan luas 4 meter x  7 meter. Kejadian ini sudah kami laporkan kepada kepolisian,” ungkap Parlaungan, seorang warga.

Ranggi (25) warga sekitar lokasi galian mengatakan, dulunya kolam tersebut merupakan rawa. Sejak ada proyek milik salah satu pengembang, rawa itu pun di jadikan kolam untuk pemgambilan air.

“Sebenarnya, kolam itu hanya memiliki kedalaman sekitar 4 meter. Cuma, di dasar kolam tersebut terdapat lumpur hidup dengan kedalam 4 meter. Nah, di dalam lumpur inilah korban terperangkap,” jelas Ranggi.

Ia juga mengatakan, korban pertama ditemukan hanya kepalanya saja yang berada di dalam air. Sementara tubuhnya terperangkap di dalam lumpur. Sedang korban kedua ditemukan hanya kakinya saja, sementara bagian perut serta kepalanya tertanam di dalam lumpur.

“Korban sudah tenggelam selama 1 jam. Namun saat diangkat ke darat, korban masih bisa bergerak. Tapi karena terlambat mendapatkan pertolongan, akhirnya korban meninggal,” kata Ranggi.

Sementara itu, Umar, petugas ruang jenazah RSUD-EF mengatakan,  dirinya tidak menemukan luka akibat tanda kekerasan ataupun yang disebabkan karena benturan benda tumpul.

“Tak ada luka akibat kekerasan, cuma tanda-tanda akibat tenggelam ada, soalnya dari mulut korban keluar busa bercampur air,” tuturnya kepada Posmetro (grup batampos.co.id).

Di ruang jenazah RSUD-EF, Saiful, orangtua kedua bocah kembar itu tak bisa menyembunyikan kesedihannya. Rencananya, kedua korban akan dibawa dulu ke rumah duka untuk disalatkan. Selanjutnya, korban akan di makamkan di TPU Sei Temiang Minggu sore.

“Saya tak nyangka saja anak saya akan pergi secepat itu,” kata Saiful, ayah korban singkat. (jho/pm)

Respon Anda?

komentar