TKI Selamat dari Speedboat Tenggelam Trauma

558
Pesona Indonesia
TKI ilegal yang selamat, Yoseph asal Maumere (NTT) menggalami trauma paska insiden kapal tenggalam yang merengut banyak nyawa di selasaran Aula Pusat Rehabilitasi Nilam Suri, Nongsa, Sabtu (5/11/2016). Foto: Rezza Herdiyanto/Batam Pos
TKI ilegal yang selamat, Yoseph asal Maumere (NTT) menggalami trauma paska insiden kapal tenggalam yang merengut banyak nyawa di selasaran Aula Pusat Rehabilitasi Nilam Suri, Nongsa, Sabtu (5/11/2016). Foto: Rezza Herdiyanto/Batam Pos

batampos.co.id – Yosef, salah satu korban selamat speedboat TKI yang tenggelam di perairan Nongsa, Batam, saat dijumpai di Panti Rehabilitasi Sosial Nilam Suri, tampak trauma berat. Ia terus menangis di sudut pendopo panti.

“Kondisinya seperti trauma berat. Dia merasa sedih luar biasa atas kejadian ini. Kita sebagai saudaranya sangat bersyukur dia selamat,” ujar Yan Cenong, salah satu pembero motivasi kepada korban selamat.

Lebih lanjut Yan mengungkapkan pada saat ini Yosef belum bisa ditanyakan apapun. Bahkan pada saat keluarganya yang berada di Maumere Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) tidak mengerti apa yang diucapkannya.

“Keluarga sudah nelpon dia, tapi kata-katanya ngelantur. Gak ngerti kita apa yang di bilangnya,” katanya.

Untuk menghilangkan rasa trauma Yosef yang berat, Yan membawa Yosef untuk jalan-jalan, agar kondisi kejiwaan Yosef membaik.

“Hari ini kita bawa jalan dulu, ajak makan-makan dulu. Supaya dia bisa membaik lah,” imbuhnya.

Sementara itu, Yashinta yang orangnya religius menenangkan Yose mengungkapkan pada saat ini kondisi Yosef masih merasakan trauma yang hebat dan merasa tidak percaya bahwa ia masih bisa selamat atas kejadian ini.

“Kita lakukan pendekatan dengan mereka, karena kondisi mereka trauma. Kemudian kita lakukan pendekatan seperti saudara dan pelan-pelan,” ungkapnya.

Di tempat yang sama, Harianto, 50, korban selamat lainnya menceritakan mengapa ia nekat masuk Malaysia secara ilegal.

Menurutnya, harga tembakau yang anjlok di tempat asalnya di Jawa membulatkan tekad dia untuk merantau ke Malaysia beberapa tahun lalu. Ia mengaku terlilit hutang, hingga diancam mau dibunuh.

“Waktu tembakau tinggi, saya minjam lembu sama tetangga untuk membeli kebun. Kemudian harga turun, saya dikejar sama tetangga pake celurit mau dibunuh,” ujarnya saat ditemui di Panti Rehabilitasi Sosial, Nilam Sari, Nongsa.

Pada saat tetangga yang mendatangi ke rumahnya dengan membawa senjata tajam, Harianto merasa tidak takut sama sekali pada saat itu.

“Saya bilang sama mereka yang datang, silakan kalau mau bunuh saya. Saya tidak takut,” katanya.

Namun, karena rasa tanggung jawabnya terhadap keluarga dan utang dengan tetangga, ia pun memutuskan untuk berangkat ke Malaysia.

Selama merantaua di Malaysia, berbagai pekerjaan dilakukannya untuk menghidupi istri dan ketiga orang anaknya yang berada di Semarang.

“Saya kerja apa pun siap. Karena memang dahulu saya sering bantu ayah saya panen tembakau. Jadi sudah biasa kerja berat,” katanya lagi.

Pada saat sebelum dirinya pulang pada Rabu (2/11/2016) subuh lalu, Harianto telah berada di sana selama 1 tahun 4 bulan dan bekerja sebagai buruh bangunan, tepatnya di daerah Pahang.

“Kerja terakhir di sana plaster. Di sana kalau sudah siap pindah atau kalau ada polis lari. Gaji per harinya itu dibayar 75 ringgit,” terangnya.

Harianto juga menceritakan bahwa ia juga pernah ditangkap oleh kepolisian Malaysia dan dihukum selama 3 bulan kurungan. “Di sana 3 bulan dihukum, makanannya susah. Masih enak di Indonesia,” ungkapnya.

Walaupun pernah ditangkap oleh pihak kepolisian Malaysia, ia tidak pernah merasakan trauma sama sekali. Ia baru merasa trauma pada saat tenggelamnya kapal yang ditumpanginya kemarin.

“Saya tak ingin lagi lah, ini terakhir. Nanti di kampung saya tak mau bagi tetangga ke Malaysia. Kalau ke malaysia lewat jalur yang benar, yang resmi lebih bagus,” imbuhnya.
(cr1)

Respon Anda?

komentar