HMI Rapatkan Barisan Setelah 4 Kadernya Diciduk Polisi

1437
Pesona Indonesia
Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB HMI) menggelar rapat koordinasi bersama sejumlah advokat, di Sekretariat PB HMI, Jalan Sultan Agung, Jakarta Selatan, Selasa (8/11)‎ terkait penangkapan empat kadernya oleh polisi. FOTO: Dok. HMI JPNN.com
Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB HMI) menggelar rapat koordinasi bersama sejumlah advokat, di Sekretariat PB HMI, Jalan Sultan Agung, Jakarta Selatan, Selasa (8/11)‎ terkait penangkapan empat kadernya oleh polisi. FOTO: Dok. HMI JPNN.com

batampos.co.id – Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) langsung menggelar rapat koordinasi dengan sejumlah advokad, di Sekretariat PB HMI, Jalan Sultan Agung, Jakarta Selatan, setelah empat kader mereka diciduk polisi di lokasi berbeda-beda di Jakarta pada Selasa (8/11/2016) dini hari.

Mereka yang diciduk adalah Sekretaris Jenderal HMI Ami Jaya dan tiga kader fungsionaris di HMI yakni Rizal Berhed, Romadhan Reubun, dan Ismail Ibrahim.

“PB HMI sekarang sedang rapat koordinasi bersama dengan beberapa advokat,” kata Direktur Bakornas Lapenmi PB HMI Muh Nurcholis Syam menjawab JPNN.com (grup batampos.co.id).

Pria berdarah Sulawesi Selatan ini menuturkan, rapat membahas proses penangkapan yang diperkirakan melanggar aturan yang berlaku. Pasalnya, klaim Nurcholis, polisi tidak menunjukkan surat penangkapan saat menciduk Ami Jaya.

“Ada beberapa hal lainnya yang dibahas pada rapat ini. Siang ini, kami juga akan mendatangi Polda Metro Jaya untuk memberi pengawalan terhadap teman-teman,” tambahnya.

Seperti diketahui, Ami Jaya diamankan di Sekretariat PB HMI, dini hari. Sebelum menangkap Ami, polisi lebih dulu menangkap tiga kader HMI, yaitu Rizal Berhed, Romadhan Reubun, dan Ismail Ibrahim.

“Rizal dan Reubun dikabarkan ditangkap di Tuprok (Tugu Proklamasi). Sedangkan Ismail saya dengar diamankan di daerah Pejaten,” katanya.

Untuk diketahui, penangkapan kader HMI tersebut diduga terkait kericuhan saat aksi damai Bela Islam II pada Jumat (4/11).

Sementara itu, mantan Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB-HMI) 1999-2001, Ahmad Doli Kurnia, meradang terkait penangkapan empat kader organisasi kemahasiswaan itu oleh Polda Metro Jaya.

“Peristiwa tangkap paksa yang dilakukan Kepolisian terhadap Ketua Umum, Sekretaris Jenderal, dan dua pengurus HMI lainnya adalah bentuk anarkisme politik,” kata Doli melalui pesan singkat, Selasa (8/11/2016).

Dia menyatakan bahwa penangkapan tanpa dasar dan dilakukan secara brutal dengan mengepung Sekretariat PB HMI, menunjukkan  kepolisian sudah menjadi bagian dari permainan politik pemerintah, yang memang tidak menyukai gerakan “Bela Islam”.

“Apa yang dilakukan kepolisian saat ini merupakan wujud nyata keberpihakan dan sudah masuk pada bagian dari gerakan “Bela Ahok” yang sekaligus dapat dipersepsikan mewakili sikap pemerintah,” ujar Ketua Umum DPP KNPI 2008-2011 itu.

Menurutnya, jika aparat hendak mencari kambing hitam yang memicu kekisruhan pada malam 4 November lalu, seharusnya bisa ditelusuri mulai dari kata-kata provokasi Kapolda Metro Jaya Irjen Pol M Iriawan yang meminta agar kader-kader HMI untuk dipukuli.

“Dengan sikap seperti ini, pemerintah sedang menarik keluarga besar HMI untuk ikut masuk bertarung ke gelanggang politik,” tandasnya.(fat/jpnn)

Respon Anda?

komentar