Menjaga Etika Menari Tepat Adat

409
Pesona Indonesia

tari-persembahan-1-ffatbatampos.co.id – Di Tanjungpinang, sangat lazim dan mudah dijumpai lomba Tari Persembahan. Tari ini merupakan tari tradisi yang sangat terikat dengan kaidah-kaidah dan etika dalam menyambut tamu sesuai nilai adat Melayu. Minggu (6/11) lalu juga digelar Lomba Tari Persembahan tingkat pelajar yang diikuti lima belas kelompok dari Tanjungpinang dan Bintan di Lapangan Pamedan.

Seorang juri dari kompetisi akhir pekan lalu, Ruki Daryudi mengungkapkan persetujuannya agar lomba-lomba semacam ini semakin sering ditaja. “Sebab bertujuan menjaga etika para penari yang membawakan Tari Persembahan itu tepat dengan adat yang ada,” terang pria yang akrab disapa Yudi ini, kemarin.

Tepat di sini, sambung Yudi, bukan sekadar sesuai dengan tata-cara menari sebagaimana yang sudah dibakukan. Melainkan juga agar penari ikut belajar tentang etika menarikan tari tradisi dengan baik dan benar dalam segi gerak, komposisi, dan etika. Kata Yudi, pada tiga faktor itu mengandung arti dan filosofi, sehingga Tari Persembahan tidak bisa asal dibawakan.

Yudi yang juga seorang penari ini menyebutkan, seringkali anak-anak muda itu ketika membawakan Tari Persembahan melakukan kesalahan-kesalahan dalam unsur etika atau sikap. Misalnya, etika ketika penari sudah berdiri sehadapan dengan tamu.

“Setiap gerakan itu ada batasnya. Contoh, tangan tidak boleh mengangkat melebihi satu kepalan jari. Sembah pun ada batasnya. Saat mengantar sirih pun ada etikanya. Ada banyak hal yang memang harus dipelajari di luar gerak dan komposisi,” ungkap Yudi.

Enam tahun silam, Lembaga Adat Melayu Provinsi Kepri telah membakukan tata-cara membawakan Tari Persembahan dengan baik dan benar. Dalam kerja pembakuan ini, LAM Kepri ikut melibatkan sejumlah pakar tari dan budayawan.

Sesuai Tari Persembahan yang dikukuhkan menjadi ciri khas Kepri itu, diatur bahwasanya hanya satu tamu yang akan menerima pemberian sirih. Tidak seperti selama ini yang hampir semua tamu di kursi barisan depan, termasuk tuan rumah, mendapatkan sirih dari penari persembahan.

Ketua LAM Kepri Abdul Razak, saat itu menyatakan tari persembahan merupakan tradisi turun-temurun sebagai ciri khas adat Melayu yang dilanjutkan dengan jamuan makan sirih. Tapi, kini gerak dan makna filosofi tari persembahan sedikit memudar karena dimasukkannya tari kontemporer di dalamnya. Gerak dalam tari persembahan disesuaikan menurut selera para pegiat tari sehingga hanya mengedepankan aspek keindahan semata, tanpa memerhatikan makna filosofis dari setiap gerakan.

Karena itu pula, Yudi sebagai seorang penari yang tumbuh besar dan melakoni proses kreatif di Tanjungpinang mengajak seluruh pegiat tari tradisi untuk ikut bersama-sama mengajarkan Tari Persembahan sesuai dengan adat yang ditentukan agar jenis tari ini tetap ajeg dan lestari.

Susahkah belajar Tari Persembahan itu? Tidak, kata Maya seorang siswi SMA di Tanjungpinang yang mengikuti lomba menyajikan Tari Persembahan, akhir pekan lalu. Ia menceritakan, pada mulanya memang gerak tari tradisi ini begitu rumit untuk diikuti. Tapi setelah latihan ke latihan, baru ia sadari bahwa gerak tari dalam Tari Persembahan itu memang punya pola dan arti yang ternyata bisa dengan mudah dipelajari.

“Tergantung ke kitanya juga sih. Tapi saya merasa senang bisa ikut belajar tari tradisi dan bukan hanya menari kontemporer atau modern saja,” kata siswi berjilbab yang duduk di kelas XI itu. (muf)

Respon Anda?

komentar