Kenapa Trump Bisa Jadi Presiden?

Laporan SOFYAN HENDRA dari New York

859
Pesona Indonesia

Dia berani bicara blak-blakan. Dia tidak takut bersikap kontroversial. Dia banyak ditertawakan. Dia banyak dihujat. Banyak survei yang menyatakan dia bakal kalah. Banyak sekali pihak yang tidak ingin dia menang. Atau bahkan bisa dibilang takut kalau dia yang menang. Tapi, pada akhirnya dia mampu membuat seluruh dunia shock. Secara mengejutkan, Donald J. Trump terpilih sebagai presiden ke-45 Amerika Serikat (AS).

Koran-koran di Mexico City juga menurunkan berita kemenangan Donald Trump atas Hillary Clinton di halaman depan. / Foto: AFP/JPG
Koran-koran di Mexico City juga menurunkan berita kemenangan Donald Trump atas Hillary Clinton di halaman depan. / Foto: AFP/JPG

DI usia 70 tahun, Trump menjadi presiden terpilih tertua dalam sejarah. Trump juga pendatang baru di kancah politik, membuktikan bahwa seseorang tidak harus berkiprah lama di dunia tersebut untuk bisa meraih kemenangan di level tertinggi.

Apakah kemenangan ini baik untuk Amerika? Baik untuk dunia? Itu pertanyaan selanjutnya yang harus dijawab Trump selama empat tahun ke depan. Yang jelas, keme­nangannya itu tidak akan jauh dari kontroversi, dari cibiran-cibiran, baik dari dalam negeri maupun dari berbagai penjuru dunia.

Trump pun sadar betul bahwa kampanyenya telah membuat publik Negeri Paman Sam terbelah. Untuk itu, dalam pidato kemenangannya, dia mengajak semua warga Amerika untuk kembali bersama.

“Kini saatnya Amerika membalut luka. Kita harus melakukannya bersama,” kata Trump di Hotel Hilton Midtown, New York, di depan para pendukung dan keluarganya pada Rabu dini hari (9/11) waktu setempat.

Kemenangan Trump itu memang benar-benar mengejutkan. Sebelum pemungutan suara, berbagai polling mengarah ke kemenangan Hillary Clinton. Namun, Trump membuat kejutan dengan berjaya di beberapa swing states alias sejumlah negara bagian yang bisa dibilang imbang. Misalnya, Florida, Pennsylvania, dan Ohio.

Trump tidak perlu menang banyak di wilayah abu-abu itu. Cukup menang tipis. Itulah yang dia lakukan. Dengan begitu, total electoral vote-nya mencapai angka 276, mengunci kemenangan. Hillary Clinton hanya mengumpulkan 218 suara.

Kemenangan Trump di sejumlah battleground juga menyakitkan bagi Hillary Clinton. Di Florida, misalnya. Dukungan besar dari Latinos yang menjadi ras paling dihina dalam kampanye Trump tak mampu memberi Hillary Clinton kemenangan di negara bagian dengan 29 electoral votes itu.

Padahal, meski Florida adalah basis GOP -sebutan Partai Republik- Barack Obama dua kali merebutnya pada Pilpres 2008 dan 2012.

Yang paling mengejutkan adalah Pennsylvania. Negara bagian yang sejak 1992 selalu dimenangi Demokrat itu direbut Trump kali ini. Kekalahan di Pennsylvania itu pula yang membuat Hillary Clinton akhirnya menyerah kalah dan memberikan ucapan selamat kepada Trump.

Hillary Clinton didukung sebagian besar ras Afrika-Amerika, Latinos, serta disokong kelompok mayoritas kulit putih berpendidikan tinggi. Perempuan juga lebih banyak memilihnya. Sebaliknya, Trump didukung mayoritas kulit putih yang tak pernah kuliah serta berdomisili di pinggiran atau kota kecil. Yang mengejutkan, Trump juga memperoleh banyak dukungan dari kelas pekerja.

Dalam exit polls yang diakukan Edison Research disebutkan, sedikitnya tiga di antara lima pemilih mengatakan bahwa AS telah benar-benar berada dalam jalur yang salah.

Di antara para voters yang berpendapat itu, 69 persen mendukung Trump. Sedangkan 25 persen memilih Hillary Clinton. Hampir seperempat voters merasa marah terhadap pemerintahan federal. Mereka itulah yang menjadi pendukung utama Trump. (*/c10/ca/JPG)

Respon Anda?

komentar