Ramsidah, PNS ‘Pahlawan Sanitasi’ dari Nunukan

328
Pesona Indonesia
Ramsidah (kanan) saat menerima penghargaan sebagai Pahlawan Sanitasi di Hari Pahlawan, 10 November 2016. Foto: istimewa
Ramsidah (kanan) saat menerima penghargaan sebagai Pahlawan Sanitasi di Hari Pahlawan, 10 November 2016. Foto: istimewa

SEMANGAT kepahlawanan mesti menjadi jiwa para pengawai negeri sipil (PNS) atau aparatur sipil negara (ASN) di mana pun berada.

Implementasi spirit kepahlawanan yang tepat bagi ASN saat ini adalah dengan terus bersikap profesional, inovatif, kreatif, dan mendayagunakannya untuk mengatasi pelbagai permasalahan bangsa.

Itulah pesan yang disampaikan oleh Ketua Umum Dewan Pengurus Korpri Nasional (DPKN) Prof Dr Zudan Arif Fakruloh, SH, MH terkait dengan peringatan Hari Pahlawan Nasional, Kamis (10/11/2016) hari ini.

“Saya mengajak para ASN anggota Korpri di seluruh pelosok tanah air, teruslah berinovasi untuk kepentingan publik sehingga masyarakat pun gembira karena urusannya menjadi lebih mudah berkat kreatifitas dan profesionalisme Saudara semua. Inilah aplikasi yang jitu untuk membumikan spirit kepahlawan 10 November saat ini,” kata Zudan bersemangat.

Pelaksana Tugas Gubernur Gorontalo ini mengaku senang dan bangga dengan berbagai inovasi karya para ASN Indonesia. Hal tersebut pada dasarnya merupakan sumbangsih konkret dari pegawai negeri anggota Korpri untuk membangun bangsa agar makin sejahtera hidup lebih mudah ke depannya.

Salah satu ASN yang membuat Zudan bangga adalah, Ramsidah, Kepala Bidang Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Dinas Kesehatan Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara.

Perempuan berusia 47 tahun itu berhasil mewujudkan kepeduliannya terhadap masyarakat lokal melalui inovasi pemanfaatan ban bekas sebagai septic tank dengan sistem arisan jamban keluarga (Siarja).

Berkat karyanya yang sangat bermanfaat dan berdampak besar bagi peningkatan derajat kesehatan masyarakat Nunukan, Ramsidah berhasil meraih juara pertama pada kompetisi inovasi pasca Diklat Kepemimpinan (Sinopadik) se-Kalimantan yang dilangsungkan di Tanjung Selor pada 25 hingga 26 Oktober 2016 lalu.

Kondisi masyarakat Nunukan yang masih minim kepedulian terhadap kesehatan sanitasi lingkungan serta perilaku hidup bersih dan sehat, mendorong Ramsidah berinovasi agar bisa keluar dari persoalan tersebut.

Ide inovatif ibu tiga anak itu bermula pada tahun 2014 lalu, ketika ia menjadi salah satu tim penyusunan Amdal di Kabupaten Nunukan. Dari hasil pengembangan dan pemberdayaan masyarakat, mampulah Ramsidah menekan jumlah warga yang membuat hajat sembarang. Bahkan, jumlah warga yang sakit dari tahun ke tahun semakin menurun.

Atas inovasinya tersebut, Ramsidah mendapat ‘ganjaran pantas’ dengan mengantongi gelar juara Jambore Inovasi dan Pelayanan Publik di Kalimantan 2016.

Ramsidah pun bercerita banyak tentang inovasinya itu. Inovasi yang diciptakannya tersebut, mengacu pada visi Nawacita Presiden Joko Widodo tentang pembangunan sosial.

“Inovasi ini dapat berjalan berkat gotong royong dan swadaya masyarakat sekitar. Yakni dengan iuran Rp50 ribu selama 6 bulan untuk per rumah,” ujarnya.

Sistem yang dipakai yakni sistem lot. Siapa yang keluar namanya, akan dibangunkan fasilitas jamban keluarga dengan sistem gotong royong bersama masyarakat sekitar.

Uang lima puluh ribu itulah yang digunakan untuk membeli material bahan yang akan digunakan seperti kerikil dan semen. Sedang ban bekas, tutur dia, didapat dari masyarakat dan beberapa perusahaan di Nunukan.

Program ini juga tak membebani APBD maupun APBN. Dari iuran masyarakat itu pula dipakai untuk biaya konsumsi gotong royong masyarakat saat membangun jamban, serta peningkatan fasilitasnya.

Dengan swadaya, Ramsidah ingin mengajarkan masyarakat untuk tidak manja. Mengingat fasilitas jamban ini untuk kepentingan bersama.

“Kami pernah ditawari Rp2 miliar oleh bupati, tapi kami tolak. Sebab saya tak ingin mengajarkan masyarakat untuk manja. Kita ingin mendorong masyarakat untuk peduli akan kepentingan bersama. Mengubah pola pikir masyarakat,” imbuhnya.

Ia membeberkan, satu septic tank mampu mengakomodir 4 rumah. Apalagi, Ramsidah mengklaim inovasinya ini tahan lama dan tidak mudah penuh.

Teknologi yang digunakannya pun ramah lingkungan. Mengadopsi proses penjernihan air bersih, jamban ini tidak akan mencemari lingkungan.

“Dengan ukuran 2 x 2 meter, septic tank ramah lingkungan, bahan-bahannya demikian. Seperti ijuk, kerikil, pasir, kaporit dan kapuk,” tuturnya.

Dalam praktiknya, Ramsidah tidak sendirian. Sebagai fasilitator program sanitasi berbasis masyarakat ini, dibantu pengurus Forum Kabupaten Sehat. Hasil audit forum itu, diakuinya sudah berhasil membangun 830 jamban keluarga yang tersebar di 9 wilayah desa di Kabupaten Nunukan.

Kendati demikian, dirinya mengaku masih memiliki kendala dalam mengimplementasikan program tersebut.

“Salah satu kendala, yakni ketersediaan ban bekas yang berkurang. Terkadang menunggu ban bekas dari perusahaan yang bekerjasama dalam program CSR,” ungkapnya.

Meski sudah menghasilkan satu inovasi, Ramsidah mengaku tengah mempersiapkan inovasi baru, sebagai pengembangan septic tank ban bekas ini. Yakni pembuatan kloset dari koran bekas.

“Koran bekas nanti diblender dengan kulit telur. Setelah itu dicetak. Karena biaya kloset saat ini mahal. Dengan koran bekas, dari satu kantong semen, kita bisa memproduksi 4 kloset,” tandasnya.

Atas prestasinya tersebut, tak berlebihan jika Ramsidah dijuluki ASN Pahlawan Sanitasi Kabupaten Nunukan. (inf)

Respon Anda?

komentar