Suplai Pupuk Terlambat, Padi Perdana yang Ditanam Mentan Gagal

1063
Pesona Indonesia
Menteri Pertanian Andi Amran saat turun menyemai padi di persawahan Lingga. Foto: hasbi/batampos
Menteri Pertanian Andi Amran saat turun menyemai padi di persawahan Lingga. Foto: hasbi/batampos

batampos.co.id – Akibat lambatnya suplai pupuk organik, lahan 1 hektare yang ditanami Mentan RI Andi Amran Sulaiman beberapa waktu lalu didesa Bukit Langkap, Lingga gagal. Padi yang tumbuh tidak maksimal seperti yang diharapkan.

Informasi yag diperoleh Batam Pos di lapangan, sejak ditanami pada bulan September lalu langsung oleh Mentan RI dilahan baru desa Bukit Langkap, progres sawah terhambat sejumlah permasalahan. Diantaranya persoalan suplai pupuk organik dan kondisi air yang memiliki kadar asam tinggi sebab merupakan lahan baru.

Kades Bukit Langkap, Sudarmin yang dikonfirmasi membenarkan hal ini. Ia mengakui, terdapat sejumlah kendala progres sawah didesanya tersebut.

“Kondisi tanah menurut tim ahli kemarin yang dibawa TNI cukup baik. Keterlambatan pupuk organik membuat padi yang sudah ditanam Mentan RI kemarin hasilnya gagal,” ungkapnya, Kamis (10/11/2016) siang.

Selain pupuk organik yang harus didatangkan dari luar karena tidak tersedia di Lingga, sambung Sudarmin kondisi air juga menjadi salah satu kendala.

“Airnya mungkin belum terlalu baik karena lahan baru dibuka. Masih ada akar-akar kayu kemarin dan mungkin benih yang ada belum beradaptasi dengan lokasi sawah baru,” bebernya.

Sementara itu, warga yang tergabung dalam Gapoktan yang telah dibentuk terang Sudarmin tetap optimis dan berharap sawah akan menjadi ekonomi baru penopang kebutuhan warga transimigrasi.

“Warga tetap turun lima hari dalam sepekan. Sekarang menunggu bibit untuk menanami lahan baru. Total lahan yang dibuka sekitar 12 sampai 15 Hektare,” jelas Sudarmin dari alokasi lahan 395 hektare di kecamatan Lingga Timur tersebut.

Namun begitu terang Sudarmin, persoalan dilapangan tidak menyurutkan harapan warga menyokong program pemerintah. Untuk menjadikan Lingga sebagai lumbung padi organik di Kepri kata dia harus segera diimbangi dengan tekhnologi. Alat berat yang didatangkan membantu membuka lahan sawah desa Bukit Langkap samapi saat ini jelasnya juga tidak berjalan dengan baik.

“Kami berharap alat pertanian, bibit dan pupuk segera sampai. Agar sawah bisa berjalan dan teknhnologi bisa mengimbangi dan membantu pekerjaan kami,” pungkasnya.

Sementara itu, terkait persoalan pupuk organik, Kadistanhut Lingga Rusli Ismail beberapa waktu lalu mengatakan idealnya satu hektare lahan sawah membutuhkan 3 sampai 5 ton. Hal tersebut guna mendukung kualitas padi yang dihasilkan.

“Idealnya kita butuh 3 sampai 5 ton pupuk organik dalam setiap hektarnya dan tidak dicampur dengan dengan jenis pukuk lainnya (non kimia red),” ungkap Rusli kemarin.

Untuk penyediaan pupuk sendiri, Rusli menambahkan Distanhut menunggu APBD P 2016. “Pupuk ada di APBD P. Kami sudah menjejaki dan di Tanjungpinang untuk penyediaan pupuk,” tutupnya. (mhb)

Respon Anda?

komentar