Waspadai Pergerakan Awan Cumulonimbus, Kepri Berpotensi Hujan Lebat Sepanjang Pekan

323
Pesona Indonesia
Awan gelap seperti bergulung-gulung di Selat Malaka, Minggu (21/8) sekitar pukul 11.00 WIB terlihat dari perairan Singapura. Cuaca buruk telah mengakibatkan kecelakaan di perairan Tanjungpinang, dimana 15 penumpang pompong dari Tanjungpinang tujuan Pulau Penyengat tewas tenggelam. F. Bambang Irawan untuk Batam Pos
Awan gelap seperti bergulung-gulung di Selat Malaka, Minggu (21/8) sekitar pukul 11.00 WIB terlihat dari perairan Singapura. Cuaca buruk berpotensi menimbulkan masalah bagi warga yang beraktifitas di laut. Foto:cauacacuaca  Bambang Irawan untuk Batam Pos

batampos.co.id – Kota Tanjungpinang berpotensi hujan sedang hingga lebat yang terjadi pada siang dan sore hari sepanjang pekan. Ini disinyalir lantaran ada pergerakan awan cumolonimbus yang terpantau radar Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Tanjungpinang, sejak beberapa waktu terakhir.

“Waspadai terhadap awan CB (Cumulonimbus) yang dapat menyebabkan hujan lebat disertai angin kencang dan petir sehingga mempengaruhi ketinggian gelombang laut,” kata Kepala BMKG Tanjungpinang, Dhira Utama, kemarin.

Dihra menjelaskan, dari keadaan atmosfer yang terpantau peluang hujan di Kepri dengan intensitas ringan, sedang hingga lebat. Faktor penyebabnya, banyak pertumbuhan awan-awan konvektif yang mengandung hujan. Disebabkan suhu muka laut di sekitar laut natuna atau lau cina selatan yang masih hanggat (faktor regional yang mempengaruhi cuaca di Kepri).

“Sehingga penguapan cukup tinggi, ditambah faktor global sekarang musim moosoon asia angin dari timur atau dari daratan Asia bergerak ke selatan ke Benua Australia yang melewati Indonesia yang banyak membawa uap air berupa awan. Kalau sudah masuk musim ini, biasaya di Indonesia masuk musim hujan,” jelas Dhira.

Sedangkan untuk wilayah Kepri dan sekitar Tanjungpinang, lanjut Dhira cuacanya cukup dinamis karena Kepri wilayah maritim (kepulaun) sifat hujannya yang konvektif berakibat banyaknya terjadi hujan lokal dengan luasan relatif 20-50 km.

“Hujan tersebut dari awan cumolunimbus dengan intensias ringan sampai sedang atau bahkan lebat dengan waktu yang tidak berlangsung lama,” ujarnya kembali.

Tingginya intensitas hujan dalam beberapa waktu terakhir, masyarakat diimbau agar tetap waspada dan berhati-hati terhadap dampak bencana yang dapat ditimbulkan seperti banjir, tanah longsor, pohon tumbang, dan jalan licin.

Selain itu bagi pengguna dan operator jasa transportasi laut, nelayan, dan masyarakat yang berlibur ke wilayah pesisir diimbau mewaspadai potensi gelombang laut tinggi.

“Arah angin yang bertiup dari Timur Laut cukup memicu terjadinya gelombang tinggi. Kami imbau jika cuaca buruk lebih menunda keberangkatan bagi operator laut. Hal ini menjadi bagian dari pengutamaan keselamatan dan kepada penumpang juga harus bersabar jika memang cuaca tak memungkinkan,” pungkasnya. (muf)

Respon Anda?

komentar