Kemenangan Trump Picu Ketidakpastian

785
Pesona Indonesia
ilustrasi
ilustrasi

batampos.co.id– Nilai tukar rupiah dalam transaksi antarbank di Jakarta pada Jumat (11/11) melemah hingga menyentuh angka Rp 13.800 per dolar AS.

Analis Riset FXTM, Lukman Otunuga, mengatakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS mengalami tekanan cukup dalam karena sentimen negatif kemenangan Donald Trump dalam pemilihan Presiden AS masih membayangi pasar.

“Ada kekhawatiran di pasar, Trump berpotensi memicu kekacauan politik dan global dalam situasi finansial yang rapuh dan penuh kegelisahan investor. Banyak pertanyaan yang belum terjawab dalam periode ketidakpastian yang sensitif ini,” kata Lukman.

Ia mengatakan, ancaman Trump membatalkan sejumlah kesepakatan perdagangan membuat pelaku pasar pesimistis dan memicu aksi hindar terutama pada aset di negara-negara berkembang.

Dia berharap pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia yang menyiratkan petumbuhan dapat bertahan dalam situasi eksternal yang serba tidak menentu.

Optimisme terhadap program amnesti pajak juga diharapkan dapat kembali mendorong momentum positif untuk ekonomi Indonesia.

Pengamat pasar uang Bank Woori Saudara Indonesia Tbk, Rully Nova, mengatakan kemenangan Donald Trump membuat suku bunga di Amerika Serikat bisa naik lebih cepat dari perkiraan.

“Nilai tukar rupiah yang masih mengalami depresiasi terhadap dolar AS lebih disebabkan faktor eksternal, terutama dari hasil pemilu Presiden Amerika Serikat,” katanya.

Di sisi lain, lanjut dia, pelaku pasar uang juga masih khawatir kebijakan Donald Trump nantinya dapat memicu gejolak pasar keuangan dunia mengingat pernyataan-pernyataan kontroversial yang dia sampaikan saat kampanye.

Menanggapi situasi ini, Menkeu Sri Mulyani Indrawati menuturkan, AS adalah negara besar. Sehingga, apapun yang terjadi di sana, akan berpengaruh ke negara-negara di dunia, termasuk Indonesia.

“Sampai hari ini kita lihat perkembangan rupiah bersama indeks harga saham dan surat berharga itu memang sangat dipengaruhi oleh sentimen yang terjadi secara regional maupun global, karena perubahan atau perkembangan situasi politik di AS,” paparnya di Gedung Kemenko Perekonomian, kemarin.

Untuk itu, kata Sri Mulyani, pemerintah akan terus memantau perkembangan market. Pihaknya juga akan mengidentifikasi faktor-faktor di luar fundamental, yang bisa mempengaruhi psikologis pelaku pasar.

“Katakan kalau ada rumor mengenai perubahan policy atau ada spekulasi, kita akan lihat itu. Dan apakah itu merupakan sesuatu yang dibuat atau dia karena semuanya secara bersama-sama merasa khawatir terhadap perkembangan yang terjadi,” paparnya.

Selain itu, lanjut Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia itu, pemerintah juga akan meyakinkan pasar. Caranya dengan memastikan bahwa fondasi ekonomi Indonesia masih cukup kuat. Dia menguraikan, rupiah adalah nilai yang dilihat dari sisi permintaan dan penawaran. Dari sisi permintaan, dia memastikan tidak ada yang perlu dikhawatirkan.

“Kalau dari sisi permintaan untuk kebutuhan impor, kebutuhan membayar utang dan seluruh eksposur utang kita lihat tidak ada alasan untuk khawatir, maka tidak perlu khawatir. Karena permintaan itu bisa dipenuhi dengan suplai yang ada. Sehingga tidak ada yang disebut overshoot. Kalau dia sifatnya spekulasi ya kita akan lihat siapa yang memainkan spekulasi,” urainya.

Menteri PPN/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro menuturkan, pelemahan terhadap rupiah lebih dipicu rencana The Fed yang akan menaikkan suku bunganya, pasca Trump terpilih sebagai Presiden AS. Karena itu, senada dengan Sri Mulyani, yang terpenting, pemerintah menjaga dengan baik fundamental perekonomian Indonesia.

“Yang penting jaga fundamental, jaga kepercayaan. Pasti kan ini hanya temporer,” paparnya. (ken/jpgrup)

Respon Anda?

komentar