Menengok Pelaksanaan Program BSPS KemenPUPR di Pulau Setokok

1017
Pesona Indonesia

Sejumlah warga Pulau Setokok memprotes pelaksanaan program Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS). Mereka menilai program itu tak tepat sasaran. Batam Pos mencoba mencari tahu kebenarannya.

Pulau Setokok berada di dalam wilayah Kecamatan Bulang. Dari Batamcentre, kampung itu dapat dijangkau setelah berkendara selama satu jam. Papan penanda pemukiman Setokok berada di tepi jalan setelah melewati Jembatan III Barelang, Jembatan Nara Singa II.

Sebagian besar wilayah Setokok masih tanah lapang. Pemukiman penduduk berada jauh ke dalam. Bersentuhan langsung dengan laut.

Jalan menuju perkampungan nelayan itu telah diaspal. Di kanan-kiri jalan aspal itu berdiri rumah-rumah penduduk. Tidak berbaris rapi layaknya perumahan di kota. Ada yang memiliki teras depan, ada juga yang tidak. Ada yang berpagar, ada yang tidak. Ada yang terbuat dari batu, ada juga yang masih berupa susunan papan.

Setiap rumah yang terbuat dari batu sudah bercat. Namun jumlahnya tak banyak. Perkampungan itu lebih didominasi rumah-rumah dari papan kayu. Warna kayunya telah memudar.

Anak-anak kecil berlari-larian di jalan. Jarang ada mobil yang melintas. Paling-paling hanya sepeda motor. Ibu-ibu lebih senang berjalan kaki. Sementara para pria duduk-duduk di balai-balai rumah. Berkumpul sambil bercerita apa saja.

Beberapa rumah berdinding batu tampak sedang direnovasi. Gunungan pasir berada di kanan-kiri jalan. Tumpukan batako di samping rumah. Papan-papan semen tersimpan agak tersembunyi. Satu-dua orang membanting tulang mengerjakan. Debu-debu beterbangan.

“Rehab itu bantuan dari pemerintah,” kata Rahman, Pemuda Setokok yang Batam Pos temui kala itu.

Rahman ikut dalam kelompok penerima bantuan itu. Ia tidak tahu namanya masuk dalam daftar itu. Namun, ia berencana mengembalikan bantuannya. Kenapa?

“Katanya (Lurah Setokok), ‘Harusnya (bantuan) ini jatahku, Man. Tapi karena aku kasihan sama engkau, kukasih-lah bantuan itu,” ujar Rahman.

“Seorang lurah kan tidak pantas berbicara seperti itu. Itu merendahkan martabat kami,” timpal Surya, Pemuda Setokok lainnya.

Dua pemuda itu menilai, pelaksanaan bantuan tak tepat sasaran. Hampir semua penerima bantuan itu orang berada yang, sebenarnya, mampu memperbaiki rumah dari kocek sendiri tanpa perlu bantuan dari pemerintah.

Surya mengajak kami berkeliling kampung. Di awal ‘tur’ itu, ia menunjuk sebuah rumah bercat hijau di tepi jalan. Rumah itu berdinding batu. Pintunya tertutup.

Sekitar seratus meter di samping rumah itu telah berdiri sebuah tembok dari batako. Tembok itu belum sepenuhnya jadi. Besi-besi pancang mencuat dari ujung-ujung tembok.

“Rumah ini dapat bantuan,” kata Surya.

Tepat di samping tembok itu ada sebuah jalan setapak. Jalan itu terbuat dari semen. Di pangkal jalan itu berdiri sebuah rumah dari papan. Rumah itu tampak reyot. Jalan menuju rumah itu terbuat dari batang-batang kayu yang compang-camping di sana-sini. Seorang pria sedang menata batang-batang kayu itu tetap rapat. Agar tidak membahayakan siapa saja yang melewatinya.

Seorang ibu keluar dari rumah lain di pangkal jalan itu. Rumah itu agak lebih tinggi dari jalan, sekitar 150 meter dari tanah. Ia menuruni tangga yang hanya terbuat dari batang pohon.

“Ayo, Nak, lihat rumah ibu,” tuturnya.

Ibu itu bernama Adra. Rupanya rumah tempat ia keluar tadi bukan rumahnya. Itu rumah adiknya, Efni. Rumahnya berada di samping rumah Efni, agak menjorok ke belakang.

Sepertinya, dua rumah itu awalnya satu rumah. Kedua kakak-beradik itu telah menyekatnya. Sebab, masing-masing telah berkeluarga. Adra memiliki dua anak. Sementara Efni baru memiliki satu anak.

Rumah Adra berlantai papan. Ia menutupinya dengan terpal plastik. Mulai di bagian dapur, lantai papan itu tak lagi beralas. Apalagi di bagian dapur. Susunan papan yang tak rapat membuat lantai itu nampak berlubang.

Kamar mandinya berada di bagian belakang rumah. Berlantai papan dan berdinding seng yang robek di sana-sini. Kamar mandi itu tak beratap dan tak ada lubang wc.

“Kalau mau buang air besar, numpang di rumah saudara,” kata Adra.

Di rumah saudaranya, Sarnah, kondisi kamar mandi itu tak lebih baik. Sarnah memang memiliki bilik kloset yang tertutup. Tapi itu hanya seukuran 2 x 3 meter persegi saja. Tak memiliki lampu dan kran. Air ditampung dalam ember-ember cat.

Bilik itu berada di bagian belakang rumah. Ada teras kecil di bagian itu. Teras itu terbuka. Tak berdinding dan tak beratap. Kami bisa melihat orang-orang yang lewat di jalan. Demikian juga mereka.

Ember-ember dan galon-galon air memenuhi sebagian lantai teras itu. Sebuah baskom berisi piring-piring kotor. Sebuah baskom lain berisi tumpukan baju. Di tempat itulah, Sarnah melakukan aktivitas mencucinya.

“Kalau air pasang, tinggal segini aja air sampai ke lantai ini,” kata Sarnah sambil membuat gestur setinggi jari telunjuk orang dewasa.

Efni, Adra, dan Sarnah pernah mendapat bantuan rehabilitasi rumah dari pemerintah di tahun 2014. Masing-masing mendapat bantuan sebesar Rp 7 juta. Bantuan itu diberikan dalam bentuk bahan material.

Adra membelanjakan uang itu dengan papan GRC (papan semen), seng, dan jendela. Bahan-bahan itu hanya mampu memperbaiki bagian depan rumahnya. Sementara Efni juga membelanjakannya untuk papan GRC dan sedikit seng. Tapi hampir semua seng itu telah berlubang. Kalau hujan, air mancur muncul di sana-sini.

Sarnah membelanjakan uang itu dengan papan GRC, semen, dan batako. Uang itu sudah habis sebelum ia berhasil menyemen lantai rumahnya. Rumahnya itu hanya berupa batu karang yang ditutup dengan terpal plastik. Lantai itu tidak rata. Bergelombang, naik dan turun.

“Kalau dapat bantuan, kami ingin bikin lantai,” kata Sarnah.

Tahun ini, ketiga saudara itu tak dapat bantuan rehabilitasi rumah dari pemerintah. Mereka mengatakan, rumah mereka sempat difoto. Katanya untuk pendataan.

“Tapi pas diminta masuk ke dalam, foto bagian dapur, dia bilang tak usah,” ujar Adra.

Mereka bertanya-tanya, mengapa rumah mereka tak masuk dalam daftar penerima bantuan. Tetapi justru rumah orang-orang berada masuk. Mereka mengambil contoh rumah bercat hijau itu.

“Itu rumah Pak Ali,” kata Adra lagi.

Siapa warga kampung Setokok yang tak kenal Ali. Seorang tauke ikan. Mobilnya ada dua. Dia punya satu unit lori air. Sepeda motornya sampai empat buah. Tak terhitung lagi boat dan mesin tempelnya.

“Rumahnya ada dua. Dapat (bantuan) semua,” tutur Sarnah.

Rumah Ali lainnya berada tak jauh dari rumah bercat hijau itu. Hanya sekitar 10 hingga 15 langkah saja. Rumah itu besar dan berdinding batu. Catnya berwarna biru muda. Rumahnya berpagar tembok.

Sebuah mobil jenis minibus terparkir di halaman depan rumahnya. Sebuah mobil lain tersimpan di bagasi. Mobil itu dibungkus pembungkus mobil berwarna perak. Jaring-jaring ikan tersampir di dinding pagar bagasinya.

Tembok rumah Ali itu nyatanya menjadi dinding bagi rumah Ismail. Ismail tak mampu mendirikan tembok batu bagi rumahnya. Rumahnya hanya berupa rumah pelantar yang terbuat dari susunan papan.

Bagian rumah Ismail yang berbatasan dengan dinding semen Ali itu berfungsi sebagai mck. Di tempat itu mereka mandi dan mencuci. Sisi dinding yang lain terbuat dari susunan papan yang tak rapat. Atapnya terbuat dari seng. Ismail belum pernah sekalipun menerima bantuan rehabilitasi rumah.

Ismail tinggal bersama istri, dua anak, dan lima cucunya. Bagian mck itu menjadi penyambung antara rumahnya dan rumah anaknya. Rumah di darat, rumah anak. Sementara yang bersentuhan langsung dengan laut adalah rumahnya.

“Seharusnya, kalau peraturan mengharuskan rumah darat, rumah anak saya bisa masuk. Kalau rumah laut, rumah saya masuk. Tapi ini tidak,” kata pria berusia 56 tahun itu.

Ada rumah kondisinya lebih parah dari rumah Ismail. Rumah itu berada di RT 02 RW 01 Kampung Setokok, sekitar sepuluh meter dari rumah Ismail. Rumah itu milik Bodong. Pria berusia 60 tahun itu menghuninya bersama seorang anak laki-lakinya.

Rumah Bodong itu jenis rumah kayu di atas laut. Sampah-sampah plastik berkumpul di bawah rumahnya. Sampah-sampah itu hanyut terbawa air laut. Ketika pasang, air membawa sampah itu. Lalu meninggalkannya ketika surut tiba.

Aroma amis menyeruak ke hidung. Bau itu semakin menguat ketika sampai di dalam rumah. Rupanya tetangga samping rumah menjemur ikan asin.

Bodong sedang menyisir beras di atas baki bundar dari seng. Ia berjongkok di atas lantai kayu. Tangannya yang keriput memisahkan beras dari gabah.

“Jangan masuk sini, nanti kalian jatuh,” katanya ketika kami datang.

Pria berusia 60 tahun itu berada di ruangan yang ia sebut dapur. Ruangan itu cukup besar, sebenarnya, dan memanjang ke belakang. Sayang, lantai papan itu tak lagi utuh. Kami bisa melihat lubang menganga di lantai di pangkal dapur. Itu sebab, perkakas dapur hanya mengisi setengah bagian dapur.

Atap sengnya juga tak lagi utuh. Bodong pernah menutup lubang seng itu dengan atap plastik. Sayang atap itu tak mampu bertahan. Atap berbahan semen itu terjuntai ke atas. Bodong membiarkannya begitu saja.

Rak dapur berdiri di salah satu sisi. Rak plastik itu kosong. Di bagian bawahnya, ada galon air minum yang tak lagi penuh. Di hadapan galong itu ada sebuah kompor minyak tanah. Wajan penggorengan kecil duduk di atasnya. Wajan penggorengan lain yang berukuran lebih besar tergantung di dinding. Di samping kompor itu ada sebuah bangku. Di atasnya duduk sebuah kaleng seng yang besar.

Tidak ada bahan makanan yang tersimpan selain gula dan kopi. Bahan itu disimpan dalam kaleng plastik. Ia meletakkannya begitu saja di lantai di dalam rumah. Tidak ada meja di dalam ataupun luar rumah. Ia biasa ngopi di luar rumah.

Bodong tak pernah memasak selain menanak nasi. Lauknya seringkali diberi orang. “Tak masak lah. Kami orang laki kalau butuh makan ya beli,” kata pria yang berprofesi sebagai nelayan itu.

Bodong (60 tahun) menunjukan kondisi rumahnya yang berlubang di RT 01, RW 02, Kelurahan Setokok, Bulang, Kamis (10/11).  Foto: Rezza Herdiyanto/Batam Pos
Bodong (60 tahun) menunjukan kondisi rumahnya yang berlubang di RT 01, RW 02, Kelurahan Setokok, Bulang, Kamis (10/11).
Foto: Rezza Herdiyanto/Batam Pos

Rumah Bodong hanya beratap seng. Hawa di dalam rumah jauh lebih panas daripada di luar rumah. Hanya ada satu kamar di sana. Dinding kamar itu hanya berupa triplek. Kamar itu cukup untuk menampung satu kasur ukuran king, lemari, dan sebuah meja. Kasur berbahan spring itu tak berpenutup, sudah kumal, dan tak lagi cerah warnanya. Dua helai pakaian berserak di atasnya.

Sebuah televisi tabung duduk di atas meja. Itu satu-satunya peralatan elektronik yang Bodong miliki. Listrik untuk menyalakan televisi dan lampu di rumah itu menumpang di rumah kerabat.

Kamar itu kamar anak bujangnya. Bodong sendiri memilih tidur di luar kamar. Kasurnya hanya kasur busa yang tipis. Ia mengalasinya dengan kain sarung. Selembar sprei berwarna biru yang besar dibentangkan melintang di atas kasur. Ceritanya, sprei itu untuk kelambu.

“Kalau malam nyamuk banyak,” kata Bodong.

Atap di bagian dalam rumah itu juga tak utuh. Di sisi rumah yang atapnya berlubang, Bodong membentangkan tali. Di atasnya ia menjemur sarung, kemeja, dan celana panjangnya. Kalau hujan, ia harus mengangkatnya. Kalau tidak, habislah.

Tahun ini, Bodong tak mendapat bantuan rehabilitasi rumah. Ia pernah sekali mendapatkannya. Ketika itu tahun 2010. Ia membelanjakannya bantuan itu untuk seng dan triplek.

“Namanya triplek, tak tahan dia kena angin laut. Sudah lapuk,” ujarnya.

Papan-papan kayu di rumah Bodong itu juga sudah selayaknya diganti. Warna kayunya sudah berubah menjadi kelabu. Rasanya dingin dan licin. Seperti ada lumut di atasnya.
Bodong bilang, hati-hati kalau melangkah. Namun sesaat kemudian, satu awak kami terperosok saat melangkah keluar rumahnya. Kaki kirinya melambai di atas tumpukan sampah di laut. Sementara kaki kanannya masih di atas lantai. Kedua tangannya menapak lantai, menahan supaya tak jatuh.

“Aku cuma takut sepatuku jatuh. Ngambilnya pasti susah,” kata Frisca sambil nyengir menahan sakit. Wajahnya seketika memerah saat itu.

Bodong tak mau tahu dengan bantuan pemerintah. Ia tak mempermasalahkan dapat bantuan atau tidak. Ia juga tak pernah sekalipun memintanya.

“Segan,” katanya, “Mereka kan harusnya bisa melihat sendiri.”

Lurah Setokok Agus Sofyan tak tahu tentang kondisi rumah Bodong. Ia bertanya kepada staf RT dan RW-nya tentang Bodong. Ia hanya mengeluarkan ‘oh’ singkat beberapa saat kemudian. Sepertinya, ia masih belum tahu siapa Bodong.

Agus mengatakan, bantuan rehabilitasi rumah itu datang dari Dinas Tata Kota Batam. Itu program Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS) milik Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (KemenPUPR). Kelurahan Setokok mendapat bantuan untuk 120 rumah. Bantuan itu kemudian disebar ke Desa Setokok, Pulau Akar, dan Pulau Panjang.

“Setiap tahun, alhamdulillah, Setokok dapat. (Ini) karena saya aktif ke Dinas-Dinas. Jadi dapat info kalau ada bantuan ini itu,” kata Agus di Balai Kelurahan Setokok.

Dia mengatakan, penyaluran program BSPS itu sudah sesuai aturan. Ia mengutus perangkat RT-RW untuk membuat daftar nama calon penerima bantuan. Awalnya, Dinas Tata Kota memintanya mengusulkan 300 rumah. Tapi beberapa bulan kemudian, Dinas menyebutkan, hanya 120 rumah saja untuk Kelurahan Setokok. Lurah mencoret nama-nama yang masih belum membutuhkan.

Nama-nama dalam daftar itu kemudian disurvei oleh fasilitator program. Fasilitator itu sudah dilatih KemenPUPR untuk menentukan rumah yang masuk kategori layak bantuan. Hasil survei itu dilaporkannya lagi ke Lurah. Supaya lurah tahu, siapa saja yang layak mendapat bantuan itu.

“Tentu lurah harus tahu siapa penerimanya. Lurah akan menandatangani daftar nama itu,” kata Kepala Bidang Perumahan dan Pemukiman Dinas Tata Kota Batam, Agung Fitrianto.

Namun lurah mengaku tidak tahu menahu jika rumah-rumah penerima bantuan itu sebenarnya tak layak dibantu. Ia mengaku telah menyerahkan proses survei itu sepenuhnya ke perangkat RT-RW.

“Saya tidak turun karena sudah ada perangkat RT-RW,” tuturnya.

Ia juga mengaku sudah berusaha mengganti nama-nama itu. Caranya dengan membubuhkan tanda – berupa lingkaran, di nama-nama yang rumahnya sebenarnya masih bagus dan belum mendesak untuk diperbaiki.

“Tapi ketika saya sampaikan daftar itu ke Korlap (Koordinator Lapangan), katanya, tidak apa-apa. Ada bagian rumah-rumah itu yang perlu diperbaiki, seperti mengganti atap atau membuat lantai,” jelasnya.

Nama-nama itu akhirnya tetap masuk sebagai penerima bantuan. Bantuan itu tidak bisa dibatalkan. Kalau dibatalkan, ‘jatah’ bantuan untuk kelurahan Setokok di tahun berikutnya akan berkurang.

Tentang ‘jatah’ bantuan, tersiar kabar di masyarakat, Lurah telah membagi jatah bantuan itu untuk RT dan RW. Setiap RT ataupun RW diberi jatah lima rumah. Mereka bebas memberikan jatah itu ke siapa saja yang berada di wilayahnya.

“Tapi hanya orang-orang terdekat RT-RW saja yang masuk,” timpal Surya, Pemuda Setokok.

Lurah Setokok Agus Sofyan hanya memegang data 60 nama penerima bantuan. Nama Azmi tercatat di nomor puncak. Azmi merupakan korlap program bantuan itu. Rumahnya tercatat rusak sedang. Ia mendapat bantuan sebesar Rp 15 juta.

“Mana ada rusak sedang. Rumahnya gedung begitu,” tutur Surya.

Agus Sofyan, rupanya, juga mendapatkan bantuan itu. Bantuan itu ditujukan untuk rumah yang baru dibelinya dari Ketua RT 03 RW 02 Setokok, Zamri. Ia membelinya baru-baru ini senilai Rp 40 juta.

Semua warga mengakuinya. Tapi mereka takut-takut untuk menyampaikannya. Agus menolak mengakuinya. Ia berkata, ia tak tinggal di Setokok.

Namanya memang tak tercatat dalam daftar 60 nama itu. Tapi ada nama Zamri. Hanya saja, alamatnya bukan di Setokok. Melainkan di Pulau Panjang Timur RT 02 RW 05.

“Rumah itu rencananya akan saya gunakan untuk keperluan desa. Untuk taman baca, anak-anak mahasiswa yang KKN, ataupun pengajian,” ujarnya kemudian.

Kabar lainnya, kandang ternak Agus juga mendapat bantuan. Agus berkata lirih, “Saya difitnah.”

Indikasi suap dalam bantuan ini juga samar-samar tercium. Seorang warga yang enggan menyebut nama mengaku telah menjanjikan sejumlah bagian dari bantuan itu jika namanya masuk dalam penerima bantuan. Ia rela tak mengambil bahan pasir dan batu karang. Ia hanya membelanjakan uangnya untuk semen, besi, dan kawat ikat.

“Nah, saya kan tak ambil pasir dan batu karang, rencananya, berapalah sisa bahan yang belum saya ambil itu saya kasihkan ke dia. Saya tak tahu berapa karena belanja yang sekarang saja saya tak tahu sudah habis berapa,” katanya.

Pria itu tak mengambil pasir dan batu karang karena ia sudah mengetahui kualitas bahan-bahan itu. Pasirnya sangat halus, tidak bisa digunakan untuk membangun rumah. Sementara kata Lurah, bahan yang diberikan itu sudah bahan dengan kualitas bagus meski harganya murah.

Sayangnya, warga tak pernah tahu harga-harga satuan bahan material tersebut. Warga hanya diberi tahu besaran bantuan yang ia dapat. Dan mereka bisa memesan bahan sesuai dengan jumlah bantuan itu.

Besaran bantuan disesuaikan dengan kerusakan rumah. Ada tiga jenis bantuan. Yakni, bantuan untuk rumah rusak ringan, sedang, dan berat. Besarannya Rp 10 juta hingga Rp 15 juta.

“Kalau rusak berat dapat Rp 15 juta,” ujar Lurah Setokok, Agus Sofyan.

Padahal, menurut Kepala Bidang Perumahan dan Pemukiman Dinas Tata Kota Batam, Agung Fitrianto, bantuan itu bisa mencapai Rp 30 juta jika rumah rusak total. Rumah yang rusak ringan mendapat bantuan Rp 10 juta. Rumah rusak sedang sebesar Rp 15 juta. Dan rumah rusak berat mendapat Rp 20 juta.

Warga, namun demikian, tak pernah tahu itu. Awalnya, mereka diberi tahu, kalau sudah tua, mereka mendapat bantuan Rp 15 juta. Kalau masih muda dapat Rp 10 juta.

Seiring waktu berlalu, peraturan itu berubah lagi. Rumah di darat mendapat bantuan Rp 10 juta. Sementara rumah di laut sebesar Rp 15 juta.

“Kan sudah tak betul kalau begitu caranya,” ujar Surya, Pemuda Setokok.

Yang warga sesalkan adalah Lurah tak pernah memberikan daftar harga bahan-bahan material yang dibelinya. Sebab, Lurah tak kunjung memberi mereka daftar harga bahan bangunan itu. Tanpa ada daftar harga, bagaimana mereka hendak merinci kebutuhan mereka. Hal itu sudah berlangsung sejak lama.

Lurah Setokok Agus Sofyan mengaku sudah meminta daftar harga itu ke Korlap Program, Azmi. Namun, daftar itu tak keluar-keluar. Katanya, menunggu bantuan selesai diantar, baru kemudian direkap secara keseluruhan.

Bahan-bahan itu dibeli dari Toko Bahan Bangunan Barelang di Batuaji. Toko itu sudah menjadi langganan Kelurahan Setokok untuk program bantuan rehabilitasi rumah. Agus-lah yang merekomendasikan toko itu sebagai toko penyedia bahan bangunan.

“Saya rekomendasikan toko itu karena harga bahan-bahan bangunannya murah,” ujarnya.

Namun, rupanya Agus tak mengetahui seberapa murah bahan-bahan itu. Ia mengaku tak mendapat laporan bahan-bahan yang sudah dibeli dari toko. Semua laporan itu langsung ke Pemerintah Pusat.

“Saya juga tak tahu kenapa tidak ada laporan ke saya,” kata Agus.

Warga mengaku geram dengan Agus Sofyan. Setiap tahun, penyaluran bantuan di kelurahan itu selalu tak beres. Agus mengklaim, tidak ada yang sempurna. Kalau salah itu kan hanya satu-dua.

“Kalau salah itu sekali langsung diperbaiki, Pak. Tapi ini selalu terjadi berulang-ulang kali. Makanya kami protes ke Bapak,” kata Samsudin, satu tokoh Setokok.

Samsudin pernah menjabat sebagai Ketua RT di masa kepemimpinan lurah sebelum Agus Sofyan. Ketika itu, penyaluran bantuan selalu pas. Namun, hal itu berubah ketika Agus menjabat.

“Hanya orang-orang yang dekat dengan dia-lah yang mendapat bantuan. Kalau tak dekat, jangan harap,” ujarnya.

Agus mengatakan, sudah 85 persen warga Desa Setokok yang mendapat bantuan rehabilitasi rumah dari pemerintah. Namun, kenyataannya, justru 85% warganya yang hidup di rumah tak layak di sana. Kepercayaan warga terhadap Agus Sofyan sudah hilang. (WENNY C PRIHANDINA, Bulang)

Respon Anda?

komentar