Inspirasi Ahad Pagi: Tak Tamat SMP, Modal Rp 500 Ribu, Omzet Rp 300 Juta Sebulan

1258
Pesona Indonesia
Ilustrasi bebek. Foto: istimewa
Ilustrasi bebek. Foto: istimewa

PENDIDIKAN tinggi, tidak selalu berbandung lurus dengan penghasilan. Banyak yang berpendidikan tinggi, namun karena gengsi bekerja di tempat yang menurutnya tak sesuai dengan pendidikannya, akhirnya memiliki penghasilan pas-pasan, bahkan tak sedikit yang nganggur.

Sebaliknya, mereka yang tidak bisa mengeyam pendidikan tinggi karena faktor ekonomi, tidak selamanya miskin. Banyak diantara mereka yang akhirnya sukses setelah membuka usaha sendiri karena sadar dunia kerja saat ini lebih mengutamakan yang berpendidikan. Sementara, hidup harus terus berlanjut, tidak boleh menyerah,

Ya, itulah yang dilakukan oleh Tulus Jati Utama, pemuda 25 tahun yang tak tamat SMP. Bapak dua anak asli Desa Talang Pauh ini membuka usaha bermodal Rp 500 ribu di tahun 2008.

Bisnisnya sederhana, jual bebek siap masak untuk lesehan, rumah makan, dan restoran. Hasilnya, kini ia beromzet Rp 300 juta per bulan. wow…

HARMOKO, Talang Pauh

PENAMPILAN dan gayanya tidak menyamai pengusaha kelas eksekutif.

Dia dikenal dengan nama Tulus. Sehari-hari ia  menggunakan baju yang biasa-biasa dan sedikit lusuh. Mirip dengan penggembala bebek di sawah-sawah.

Siapapun tidak bisa mengira Tulus itu pemilik rumah potong itik Desa Talang Pauh, Kecamatan Pondok Kelapa, Bengkulu Tengah.

Ini karena penampilannya yang sederhana dan lebih banyak menghabiskan waktunya di kandang bebek.

Tulus yang sekarang memiliki karyawan 8 orang, asli warga Talang Pauh ikut membantunya membersihkan itik pesanan pemilik rumah makan, lesehan, dan restoran di wilayah Bengkulu.

Dengan penghasilan Rp 10 juta per hari, Tulus berani memberi gaji Rp 1,5 juta untuk karyawan yang hanya bertugas sebagai pembersih. Termasuk tukang jemput dan tukang antar bebek potong.

Awalnya ia tidak yakin bisa mempekerjakankan orang dan punya usaha dengan omzet ratusan juta. Bahkan dia sendiri tidak mengira bermukim di Talang Pauh.

“Jujur, saya hidupnya morat marit. Sejak kecil dari keluarga berantakan, tamat SD dan sempat masuk SMP tidak tamat. Saya merantau ke Jakarta dan jadi buruh lepas dan akhirnya pulang ke Bengkulu. Dari kegagalan yang saya alami itu, baru terpikir mau membuat usaha sendiri, yang saat itu diawali dengan modal yang sangat kecil saat itu,” ujarnya.

Modal Rp 500 ribu hasil pinjaman, harus dikembalikan selama satu minggu. Dengan uang segitu kata Tulus, dia mulai membeli itik dan ayam dari petani.

Kemudian dia sendiri yang memasarkan kepada rumah makan-rumah di Bengkulu.

“Delapan tahun usaha saya ini berkembang, saya nekat ambil lahan dan berani mengambil itik dalam partai besar,” terang Tulus.

Dijelaskan Tulus, banyak usaha rumah makan mengambil bebek darinya, termasuk ayam potong siap masak.

Tiap hari kata Tulus, permintaan pasar sampai 500 ekor bebek ditambah ayam 50 ekor.

“Bebek disuplai dari petani Lebong, BU, Muko Muko, Kepahiang, Curup dan saya juga dapat tambahan dari Medan dan Sumatera Barat,” papar Tulus.

Usaha yang dijalankan itu tidak selama-lamanya mulus. Dia pernah rugi puluhan juta.

Gara-garanya bebek yang disuplai dari luar kena wabah flu burung, hampir 60 persen bebeknya mati.

Sejak pengalaman itu, dia selalu memberi vaksin khususnya bebek yang baru masuk.

“Vaksin itu penting, agar kualitas bebek terjamin dan daging sehat,” tuturnya.(sam/jpnn)

Respon Anda?

komentar