Batam Terancam Krisis Listrik, Ini Penyebabnya

826
Pesona Indonesia
ilustrasi
ilustrasi

batampos.co.id – Batam terancam krisis listrik. Penyebabnya, PLN Batam masih menjual listrik di bawah Biaya Pokok Produksi (BPP).

Kondisi ini membuat keuangan PT Pelayanan Listrik Nasional (PLN) Batam terus memburuk.

Hasil audit Price Waterhouse Coopers (PWC), keuangan PLN Batam sudah minus Rp26 Miliar.

Kini, mereka mulai kesulitan membeli energi primer yang saban bulan harus dikeluarkan sebanyak 6 juta US Dolar atau sekitar Rp70 miliar. Karena tak mendapatkan subsisi dari pemerintah pusat maupun Pemerintah Daerah, PLN terpaksa meminjam sana sini.

“Kalau kondisinya begini terus, Batam gak bisa terang. Kalau PLN tak mampu membeli energi primer, dampaknya bukan hanya di Batam, tapi sampai ke Pinang dan Bintan,” kata Direktur Keuangan dan Sumber Daya Manusia (SDM) b’right PLN Batam, Salusra Wijaya.

Angka yang harus dikeluarkan setiap bulan itu sambung Salusra, di luar gaji karyawan serta opersional perusahaan.

Parahnya lagi, hasil pinjaman PLN hanya mampu bertahan hingga dua bulan kedepan. Lepas dari itu, keandalan listrik di Batam serta wilayah Bintan dan Pinang akan mengalami goncangan.

“Gak bisa lebih dari itu (dua bulan). Kita sudah ketemu BPK, kami welcome untuk diaudit, kita sangat terbuka,” ungkapnya.

Salusra mengatakan, tarif yang ada saat ini berlaku sejak tahun 2014, ketika dolar masih Rp11 ribu. “Saat ini dolar sudah Rp13 ribu,” katanya.

Sayangnya, kenaikan dolar yang sejalan lurus dengan kenaikan biaya primer itu tak dibarengi dengan penyesuaian tarif listrik berkala (PTLB) yang sejatinya dilakukan per tiga bulan sekali. Akibatnya, selama dua tahun terakhir, PLN Batam harus menanggung kerugian. Mereka bertahan dengan deposito bank hingga pinjaman dari lembaga lain.

Kini, tabungan dan uang pinjaman sudah tergerus. Agar keandalan listrik tetap terjaga, PLN berharap penyesuian tarif listrik setara nasional yang sudah disetujui Pemrov Kepri itu segera direstui DPRD Provinsi Kepri.

Apalagi penyesuaian tarif hanya menyasar golongan konsumen rumah tangga yang menggunakan daya 1.300 Volt Amper (VA) hingga 2.200 VA .

Sedangkan golongan Bisnis, Industri, serta golongan rumah tangga yang ada di bawah itu tidak ada penyesuaian. “Kami gak minta kenaikan, tapi penyesuaian setara nasional, kita naikan pun tak melampui tarif nasional,” katanya lagi.

Bila ada keuntungan, PLN berjanji akan menginvestasikannya untuk pembangunan pembangkit baru. Sehingga mereka dapat menjawab pertumbuhan pelanggan yang mencapai 10 persen pertahun.

“Kalau 10 persen saja pertumbuhannya, kita harus mempersipkan energi kurang lebih 40 MW pertahun. Untuk 40 MW, setidaknya kita harus mempersiapkan Rp400 hingga 500 Miliar pertahun,” ungkapnya.

Dengan pertumbuhan sebesar itu, beban mampu PLN Batam saat ini sebesar 430 MW hanya mampu bertahan hingga dua tahun kedepan. Dengan perhitungan beban puncak saat ini sebesar 370 MW.

“Dengan investasi sebesar itu,  tak cukup hanya mengandalkan tarif yang ada sekarang,” bebernya.

Tarif di Batam jauh lebih murah bila dibandingkan tarif nasional, bahkan lebih murah dari harga sebatang rokok.

Saat ini, harga tarif listrik di Batam untuk kategori R1 (rumah tangga) Rp950, R2 Rp1.089 dan R3 Rp1.128 per kwh. Sementara secara nasional tarif listrik rumah tangga sudah berada diangka Rp1.509.

Padahal satu kwk listrik, dapat digunakan untuk melistriki peralatan elektronik yang memiliki daya hingga seribu watt.

Menyalakan empat lampu LED 9 watt selama27 jam, menonton TV LED 32” 100 watt selama 10 jam, menggunakan setrika listrik 250 watt selama empat jam.

Menghangatkan nasi dengan rice cooker 100 watt selama 10 jam. Bisa juga mencharge handphone dengan daya 4 watt dapat digunakan untuk 75 hari. Dengan estimasi waktu charge dua jam per hari.  “Jadi satu kwh, bisa kita pakai untuk melistriki 1000 watt,” paparnya. (hgt)

Respon Anda?

komentar