Gereja Dimolotov, Presiden, MUI, dan PGI Minta Masyarakat Tak Terprovokasi

308
Pesona Indonesia
Presiden Jokowi. Foto: Indopos
Presiden Jokowi. Foto: Indopos

batampos.co.id – Teror bom gereja dalam situasi yang kurang stabil karena kasus penistaan agama bisa jadi merupakan aksi provokasi. Karena itu, Presiden Joko Widodo dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) satu suara mengecam aksi pengeboman di Gereja Oikumene, Samarinda. Pelaku pengeboman dan jaringannya harus ditindak tegas.

Jokowi mengatakan, sudah menerima laporan mengenai kejadian tersebut dari Kapolri. “Saya sudah perintahkan Kapolri untuk segera (kasus bom) ditangani dan dilakukan penindakan hukum yang tegas,’’ ujar Jokowi usai menghadiri Rapimnas PAN di Jakarta, Minggu (13/11/2016).

Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengutuk pelaku peledakan bom molotov di Gereja Oikumene, Samarinda, Kalimantan Timur. Wakil Ketua Umum MUI Zainut Tauhid Saadi mengatakan tindakan ini bertentangan dengan nilai ajaran agama dan pancasila.

’’Tindakan teror seperti itu bisa mengusik kerukunan umat beragama dan kebhinekaan,’’ katanya kemarin.

Zainut menjelaskan, selayaknya aksi teror lainnya, bom di gereja kemarin dibuat untuk menebar rasa ketakutan kepada masyarakat. Kemudian juga ingin menciptakan kekacauan sampai disintegrasi bangsa. Ujungnya pelaku teror ingin menebarkan pesan bahwa Indonesia tidak aman, mencekam, dan menakutkan.

Dia menjelaskan MUI meminta polisi bertindak cepat mengusut kasus itu sampai ke akar-akarnya. Jaringan pelaku teror bisa dibuka semuanya. Selain itu juga membongkar motif pelemparan bom di pelatarakan parkir gereja itu. ’’Dampak-dampak ikutannya harus bisa diantisipasi,’’ jelasnya.

Zainut juga menjelaskan masyarakat Indonesia diharapkan tetap tenang dan tidak terpancing provokasi dan hasutan. Sebaiknya masyarakat menyerahkan kasus bom itu kepada pihak kepolisian. MUI menyampaikan rasa simpati kepada keluarga korban bom molotov.

’’Semoga diberi kesabaran. Kepada para korban, semoga segera pulih kondisinya,’’ pungkas dia.

Sementara itu, Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Prof Din Syamsuddin juga mengecam ledakan bom di depan Gereja Oikumene Samarinda saat para jemaat sedang melakukan kebaktian.

“Apalagi menimbulkan korban orang-orang tidak berdosa,” terangnya.

Menurut dia, pelaku pengeboman yang mengatasnamakan agama, justru telah menyalahgunakan agama. Ia menegaskan bahwa Islam adalah agama perdamaian yang melarang pemeluknya melakukan pengerusakan dan pembunuhan.

“Apalagi terhadap rumah ibadah, kaum perempuan, dan anak-anak. Jelas itu tidak dibenarkan,” ucap mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah itu.

Hal senada dikatakan Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI). Ia mengimbau umat Kristen terutama jemaat Gereja Oikoumene di Samarinda, Kalimantan Timur, tetap tenang pasca-pelemparan bom molotov ke gereja tersebut.

Sekretaris Umum PGI Pendeta Gomar Gultom mengatakan, reaksi berlebihan apalagi menyebar opini bernada kebencian di media sosial (medsos) justru akan memburukkan keadaan.

“Tidak perlu membangun opini liar, terutama di media sosial yang semakin menebar teror dan kebencian bagi diri sendiri dan masyarakat umum,” ujarnya seperti diberitakan JawaPos.Com, Senin (14/11/2016).

PGI juga mengimbau umat kristiani agar memercayakan penanganan masalah itu kepada aparat hukum. Menurutnya, semua warga negara Indonesia harus tunduk dan menjunjung tinggi konstitusi.

“Kebenaran hukum haruslah dijunjung tinggi dan dihormati oleh umat Kristen sebagai warga bangsa,” tegasnya.

Gomar justru berharap solidaritas antar-umat beragama tetap terjaga. Menurutnya, Indonesia harus tetap menjadi tempat aman bagi seluruh umat beragama.

“Di tengah pencobaan ini, mari tetap membangun solidaritas kebangsaan bersama semua orang yang berkehendak baik, wujudkan NKRI sebagai rumah bersama masa depan Indonesia,” pungkasnya. (idr/byu/wan/lum/jpgrup)

Respon Anda?

komentar