Petani Desa Langkap masih Gunakan Traktor Tua

357
Pesona Indonesia
tani
Petani di Lingga foto: hasbi / batampos

batampos.co.id – Petani desa Bukit Langkap terpaksa gunakan traktor tua untuk memproses sejumlah lahan sawah yang telah dicetak. Pasalnya, hingga kini alat mesin pertanian (Alsintan) bantuan Mentan RI Andi Amran Sulaiman belum juga sampai ke lokasi cetak sawah di desa tersebut.

Untuk menunjang percepatan cetak sawah dan memulai penanaman padi, warga petani gunakan traktor berusia 20 tahun bantuan program transimigrasi tahun 90 silam. Hal tersebut membuat pekerjaan yang dilaksanakan Gapoktan tidak maksimal.

“Sejauh ini baru 2 hektare lahan yang ditanami padi. Kami terpaksa membajak dengan traktor tua bantuan program transimigrasi dulu,” ungkap salah seorang warga desa Bukit Langkap.

Hal tersebut juga dibenarkan Kades Bukit Langkap, Sudarmin. Gapoktan di desa transimigrasi yang dibentuk sejak bulan Agustus lalu setelah diresmikan langsung Bupati Lingga sangat berharap program cetak sawah berhasil.

Selain memberikan pekerjaan dan ekonomi warga, harapan menyokong program pemerintah menggebu-gebu dengan semangat warga yang ikut fokus dan mengambil bagian dalam program. Dalam sepekan, sedikitnya 5 hari Gapoktan turun kesawah mendukung penuh program pemerintah ini.

Lanjut Sudarmin, dari 12 hektar sawah yang saat ini sudah di cetak TNI AD, sulit untuk dibajak lebih cepat karena hand tractor yang digunakan petani hanya ada satu unit.

“Dengan traktor tua ini, lima kelompok tani kami saling bergantian meggunakannya. Sangat tidak efektif untuk mengejar target Mentan yang harus selesai akhir tahun ini,” ungkapnya.

Sementara itu, lanjutnya, hand traktor dan beberapa jenis alsintan bantuan Mentan RI untuk Kabupaten Lingga, sudah diterima Dinas Pertanian dan Kehutanan (Distanhut) sekitar satu bulan lalu.

“Ada lima unit hand traktor bantuan Mentan. Tiga unit sudah diterima desa Sungai Besar, dua unit lagi masih di Dinas,” terangnya.

Sudarmin mewakili petani di desanya berharap, Pemda segera menyerahkan alat tersebut agar petani dapat melanjutkan 10 petakan sawah yang belum terbajak.

“Minimal hand traktor yang ada di Dinas Pertanian itu dapat kami gunakan secepatnya. Memang idealnya satu kelompok diakomodir dua hand traktor. Tapi kami siap maksimalkan alat yang sudah tersedia itu,” tutupnya.

Sementara itu ditempat lain, Kadistanhut Lingga, Rusli Ismail mengatakan terkait kebutuhan Alsintan bagi para petani Bukit Langkap agar bersabar. Sebab masih dalam proses. Sejauh ini, kata Rusli memang pemerintah belum memulai lebih jauh program penanaman namun lebih fokus terhadap cetak sawah.

“Untuk traktor, sabar ada proses. Sawah yang dicetak belum sempurna. Kita belum masuk kepada program penanaman, sekarang fokus program cetak lahan dulu,” ungkapnya.

Terkait gagalnya penanaman perdana yang dilakukan langsung Mentan RI beberapa waktu lalu, Rusli mengatakan hanya penanaman percobaan.

“Belum jalan program tanam. Baru coba-coba saja yang kemarin itu. Sekarang baru program cetak. Dari pada terbuang, coba untuk ditanami dulu bibit yang sudah disemai kemarin,” sambungnya.

Menurut hemat Rusli, sejauh ini tidak ada persoalan berarti dalam upaya menjadikan Lingga sebagai Lumbung padi organik nasional. Pemkab sendiri tetap optimis menjalankan program nasional tersebut. Hanya saja, pengesahan APBD P yang memuat sejumlah kegiatan percepatan sawah belum selesai dan masih menunggu dari Provinsi. Sedangkan untuk suplai pupuk organik, Rusli mengatakan saat ini sedang dalam perjalanan menuju Lingga.

“Pengesahan di Provinsi yang belum. Ini bukan permasalahan. Begitu siap cetak baru disalurkan Alsintan dengan SK Bupati. Alsintan baru juga akan datang untuk cetak sawah sebanyak 10 unit. Setelah jadi cetak baru program penanaman,” bebernya.

Sementara itu, beberapa waktu lalu, baik pemerintah pusat maupun pemerintah daerah menargetkan percepatan cetak sawah (PCS) dan penanaman berjalan seiring. Begitu lahan selesai dibuka akan langsung dilakukan penanaman. Hal ini untuk mengejar target 1400 Hektare lahan sawah organik dan padi di 6 desa kabupaten Lingga akhir Desember 2016 ini. (mhb)

Respon Anda?

komentar