Aksi Demo Berdampak Buruk pada Pariwisata Batam

954
Pesona Indonesia
Kepala Disparbud Kota Batam, Yusfa Hendri. Foto: Iman Wachyudi/ batampos.co.id
Kepala Disparbud Kota Batam, Yusfa Hendri. Foto: Iman Wachyudi/ batampos.co.id

batampos.co.id – Sejumlah aksi dan demonstrasi penolakan kenaikan tarif uang wajib tahunan Otorita (UWTO) maupun aksi demo lainnya yang terjadi akhir-akhir ini ternyata mulai berdampak buruk bagi dunia pariwisata Batam.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Batam, Yusfa Hendri, menilai aksi itu akan berimbas pada keputusan orang untuk datang ke Batam.

“Saya belum dapat angka penurunannya soalnya kan baru minggu-minggu ini berlangsungnya. Tapi pasti ada efeknya,” kata Yusfa di Kantor Wali Kota, Senin (14/11/2016).

Dengan kejadian itu, Yusfa pesimis target angka kunjungan wisatawan ke Batam akan tercapai. Sebab kejadian itu terjadi di akhir tahun.

Sementara, menurut kalender pariwisata Batam, akhir tahun itu justru menjadi waktu-waktu favorit orang datang ke Batam. Angka kunjungan ke Batam selalu terdongkrak di tiga bulan terakhir di setiap tahunnya: Oktober, November, dan Desember.

“Di (tingkat) nasional ada isu penistaan agama. Sementara di Batam ada isu sengketa lahan, uang wajib tahunan Badan Pengusahaan (BP) Batam, dan Upah Minimum Kota (UMK). Ini terjadi hampir bersamaan,” ujarnya.

Yusfa tidak menyalahkan orang-orang yang melakukan aksi. Sebab, aksi itu merupakan cara untuk menyampaikan pendapat. Kebebasan berpendapat dan menyatakan aspirasi itu diatur dalam undang-undang.

Namun demikian, ia berharap, semua pihak dapat bekerja sama untuk menjadikan wilayah Batam nyaman dan kondusif untuk dikunjungi. Dengan demikian, wisatawan – baik dari luar maupun dalam negeri tetap mau datang ke Batam.

“Saya berharap semua pihak dapat ikut membantu untuk membuat Batam jadi kota yang nyaman,” ujarnya. (ceu)

Respon Anda?

komentar