Cegah Teror Terulang, Pembahasan RUU Terorisme Harus Segera Dirampungkan

225
Pesona Indonesia
Salah satu dari dua rekan terduga pelaku bom molotov di depan gereja Oikumene, Samarinda diamankan polisi, Minggu (13/11/2016). Foto: procal/jpg
Salah satu dari dua rekan terduga pelaku bom molotov di depan gereja Oikumene, Samarinda diamankan polisi, Minggu (13/11/2016). Foto: procal/jpg

batampos.co.id – Pelemparan bom molotov di parkiran Gereja Oikumene Kelurahan Sengkotek Samarinda adalah sebuah aksi teror yang keji. Apalagi korbannya adalah anak dan balita.

Oleh karena itu, Anggota Komisi III DPR, Abdul Kadir Karding, mendesak pemerintah dan DPR lebih serius lagi membahas Rancangan Undang-undang No 15 Tahun 2003 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme (RUU Terorisme).

Pro kontra dan silang pendapat terkait HAM dalam pembahasannya harus segera dicarikan titik temunya.

“RUU ini harus dibahas secara serius. Tetap dengan menjunjung tinggi penghormatan terhadap prinsip-prisip HAM. Jangan biarkan aksi teror terulang kembali,” kata Karding di jakarta, Selasa (15/11).

Politikus PKB itu menilai pelaku bom molotov di Samarinda tidak bergerak sendiri.

Sebab, Juhanda yang sudah diamankan aparat merupakan residivis kasus teror bom buku di Pusat Penelitian Pengetahuan dan Teknologi, Tangerang pada 2011.

“Polri harus bertindak cepat menangani kasus ini. Usut tuntas siapa saja yang terlibat dalam aksi ini, hingga ke dalangnya,” tegas Sekjen DPP PKB ini.

Dia menambahkan, aksi teror yang dilakukan seorang residivis teror, selain menunjukkan hukuman yang diberikan tidak memberikan efek jera.

Juga pertanda masih adanya jaringan yang memberikan dukungan serta komando untuk menjalankan aksinya.

“Selalu ada skenario dan ada yang menggerakkan. (pelaku) Terlihat faham betul dengan moment memperkeruh suasana,” tandasnya. (fat/jpnn)

Respon Anda?

komentar