Cuaca di Kepri Masih Berpotensi Buruk, Masyarakat Diminta Waspada

507
Pesona Indonesia
Kondisi cuaca yang buruk di Bandara Hang Nadim yang tidak menggangu aktifitas penerbangan, Nongsa, Senin (14/11/2016). Foto: Rezza Herdiyanto/Batam Pos
Kondisi cuaca yang buruk di Bandara Hang Nadim yang tidak menggangu aktifitas penerbangan, Nongsa, Senin (14/11/2016). Foto: Rezza Herdiyanto/Batam Pos

batampos.co.id – Cuaca buruk yang melanda sebagain besar wilayah Kepri pada Senin (14/11/2016) membuat aktivitas penerbangan dan pelayaran terganggu. Beberapa keberangkatan kapal rute domestik dan internasional terpaksa ditunda.

Selain itu, sejumlah pesawat mengalami kesulitan saat akan mendarat di Bandara Hang Nadim Batam, kemarin.

Diperkirakan, kondisi cuaca ekstrem ini masih akan berlanjut beberapa hari ke depan, sehingga masyarakat diminta waspada, khususnya yang beraktifitas di luar rumah atau di laut.

Pantauan Batam Pos, penundaan keberangkatan kapal terjadi di pelabuhan domestik dan internasional di Sekupang, Batam. Setidaknya ada enam keberangkatan kapal yang ditunda menyusul hujan lebat disertai angin kencang, Senin (14/11/2016).

Penundaan keberangkatan kapal ini dimulai dari pukul 09.30 WIB hingga 11.30 WIB. Terdiri dari empat keberangkatan rute domestik dan dua pelayaran menuju Singapura.

“Jarak pandang hanya 300 meter, jadi kami menunda pelayaran demi keselamatan penumpang,” kata Kepala Syahbandar Pelabuhan Sekupang, Komaruddin, Senin (14/11).

Selain berkoordinasi dengan kapten kapal dan syahbandar tujuan, pihaknya juga terus berkomunikasi dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Batam untuk mengetahui kondisi cuaca sebelum keberangkatan.

“Informasinya cuaca buruk akan terjadi selama seminggu ke depan, angin kuat, ombak yang disertai hujan. Oleh karena itu kita juga memastikan alat keselamatan tersedia di setiap kapal,” ujarnya.

Penundaan keberangkatan kapal juga dilakukan syahbandar dan otoritas pelabuhan di Tanjungbalai Karimun, Kepri, kemarin. Cuaca buruk yang melanda wilayah perairan Karimun kemarin menimbulkan gelombang tinggi yang dinilai tidak aman untuk aktivitas pelayaran.

“Selain angin kencang, gelombang air laut sampai dua meter,” ujar Kepala KSOP Tanjungbalai Karimun melalui Kepala Seksi Keselamatan Pelayaran, Syahrinaldi.

Tak hanya untuk rute antardaerah, penundaan keberangkatan kapal juga dilakukan untuk rute antarpulau di Karimun. “Ini demi keselamatan bersama,” kata Syahrinaldi.

Beruntung cuaca buruk tersebut tak berlangsung lama. Sekitar pukul 10.00 WIB, cuaca berangsur membaik, sehingga aktivitas pelayaran kembali normal di Karimun.

Sementara itu, otoritas Pelabuhan Telagapunggur, Batam, sempat menghentikan sementara aktivitas pelayaran akibat cuaca buruk, kemarin. Namun penghentian aktivitas ini hanya sekitar 15 menit saja.

“Sebentar saja, karena cuaca tak mendungkung,” ujar Syahbandar Pelabuhan Telagapunggur Batam, Erwin Syafrizal, kemarin.

Erwin menuturkan cuaca buruk yang terjadi hanya sampai sampai perairan Air Raja, Lobam Laut, dan Pulau Ngenang. Namun perairan Tanjungpinang cerah.

Walau begitu, Erwin mengatakan demi kesalamatan bersama, pihaknya tetap mengingatkan agar nakhoda selalu memperhatikan perubahan cuaca. Selain itu pihaknya tetap memantau melalui BMKG dan juga radar yang ada.

“Kami juga koordinasi dengan nakhoda, agar setiap priode melaporkan keadaan cuaca,” ujarnya.

Cuaca ekstrem kemarin juga sempat mengacaukan aktivitas penerbangan di Bandara Internasional Hang Nadim, Batam. Setidaknya ada dua pesawat yang kesulitan mendarat karena terhalang kabut tebal dan hujan lebat.

“Iya, ada Garuda Boeing 737-800NG dengan nomor penerbangan GA152 dari Jakarta (Soekarno-Hatta, red), lalu Batik Air ID-6866,” kata General Manager Umum BUBU Hang Nadim Batam, Suwarso, kemarin.

Menurut Suwarso, kedua pesawat  tersebut terpaksa berputar-putar di udara hingga sekitar 25 menit sebelum akhirnya berhasil mendarat di Hang Nadim.

Ia mengatakan pesawat maskapai Garuda dari Bandara Soekarno Hatta seharusnya mendarat pukul 11.00 WIB. Namun pesawat tersebut baru bisa mendarat pukul 11.25 WIB. Sementara Batik Air yang seharusnya tiba di Hang Nadim tepat pukul 11.05 WIB baru bisa mendarat pukul 11.30 WIB.

“Saat itu jarak pandang cuma 500 meter saja,” ungkapnya.

Namun setelah mendaratnya dua pesawat tersebut, Suwarso mengatakan kondisi cuaca di bandara kembali normal. “Tak ada halangan,” ucapnya.

Di tempat terpisah, Kasi Datin BMKG Hang Nadim Batam, Suratman, mengungkapkan kondisi cuaca ekstrem ini masih akan berlangsung hingga 20 November mendatang.

“Kami meminta agar lebih waspada menghadapi bencana hidrometeorologi,” kata Suratman.

Kata dia, kewaspadaan atas cuaca ekstrem ini perlu ditingkatkan, baik di darat, laut, maupun udara. Sebab cuaca ekstrem ini berpotensi menimbulkan petir, puting beliung, dan gelombang tinggi.

“Dampaknya juga banyak. Seperti tanah longsor, genangan, pohon tumbang, sambaran petir, dan jalan licin,” katanya.

Suratman juga menekankan kepada para operator pelayaran agar terus waspada. Sebab cuaca di perairan bisa berubah setiap saat. Gumpalan awan cumulonimbus (cb) berpotensi menimbulkan hujan tiba-tiba, angin kencang, serta gelombang air laut yang tinggi.

Gubernur Kepri, Nurdin Basirun, juga meminta seluruh operator kapal dan otoritas pelabuhan di Kepri tetap waspada menyusul cuaca buruk.

Nurdin sempat menggelar inspeksi mendadak ke Pelabuhan Sekupang, Batam, kemarin (14/11/2016). Di Pelabuhan Sekupang, Nurdin menyempatkan diri berbincang dengan para penumpang feri tujuan Karimun yang ditunda keberangkatannya,.

“Bapak-bapak dan ibu-ibu, sabar ya, jangan paksa kapal untuk berangkat, cuaca lagi tidak bersahabat,” ujar Nurdin.

Kepada nakhoda kapal, Nurdin meminta agar senantiasa memperhatikan kelengkapan alat keselamatan. Termasuk life jacket.

“Cuaca tidak bisa kita prediksi kapten, jadi tolong jangan anggap remeh, kasihan penumpang. Ingat pengalaman-pengalaman musibah yang pernah terjadi beberapa waktu lalu di Kepri ini,” ucap Nurdin.

Di hadapan Kepala KSOP Pelabuhan Sekupang, Komaruddin, mantan Bupati Karimun tersebut menegaskan keselamatan dalam berlayar adalah kebutuhan utama yang harus diperhatikan. Tanggungjawab untuk memperhatikan itu berada ditangan KSOP selaku pemberi izin berlayar.

Gubernur juga menyampaikan apresiasinya kepada KSOP yang sudah bekerja penuh tanggungjawab dan membuat kebijakan tegas untuk menunda pelayaran di saat cuaca sedang tidak bersahabat.

Sebelum ke Pelabuhan Sekupang, Nurdin melakukan hal yang sama di Pelabuhan Sri Bintan Pura, Tanjungpinang dan Pelabuhan Penyengat. Dia berharap, meski jarak tempuh pelayaran dekat, para operator tetap mempertimbangkan kondisi cuaca sebelum berlayar.

Nurdin berharap, kepada semua pengelola pelabuhan saling berkoordinasi. Apalagi jika cuaca tidak bersahabat. Khusus untuk pelayaran dari Tanjungpinang ke Penyengat. Untuk mendukung koordinasi itu, Nurdin berjanji akan membantu radio atau alat komunikasi kepada pengelola pompong di Penyengat.

“Saya bantu dua radio,” kata Nurdin.(ska/cr17/jpg/san/bp)

Respon Anda?

komentar