Desa Wisata Sejarah di Pulau Mepar Rindu Diterangi PLN

587
Pesona Indonesia

batampos.co.id – Reses Anggota DPR RI Komisi VI, Drs H Nyat Kadir ke Daik kembali dihadapkan dengan aspirasi dan keiingin warga desa wisata sejarah Pulau Mepar untuk mendapat pasokan energi listrik dari PLN. Janji yang pernah terucap dari tokoh politikus senior asli desa Panggak Laut Lingga tersebut kembali ditagih masyarakat.

Beberapa waktu lalu, Nyat pernah mengatakan pada tahun 2016 realisasi penerangan PLN ke desa wisata sejarah tempat Panglima Laut, Datok Kaya Montel disemayamkan tersebut akan terlaksana.

Sayangnya, hingga penghujung tahun 2016, penerangan PLN yang dijanjikan tak kunjung sampai ke pulau kecil yang berjarak lebih kurang 1,5 Kilometer dari pelabuhan Tanjung Buton tersebut.

Salah seorang pemuda Mepar, Iskandar saat pertemuan pemuda kabupaten Lingga dengan mantan Walikota Batam tersebut menyampaikan kerinduan warga desa sejarah untuk dapat menikmati penerangan listrik dari PLN. Pada usia kabupaten Lingga yang kini menginjak usia 13 tahun, kata Iskandar, Mepar bahkan belum memiliki penerangan listrik.

“Kami warga terus menunggu. Kemarin dijanjikan tahun ini Mepar sudah diterangi, tapi sampai sekarang belum juga ada kejelasan,” kata Iskandar, Minggu (13/11) kemarin.

Saat ini jelas Iskandar, listrik desa dari mesin disel yang ada hanya mampu menerangi 4 hingga 5 jam sehari. Mulai dari pukul 06.00 WIB hingga 10.30 WIB malam.

“Penerangan dari disel biayanya cukup berat. 1 bulan rata-rata per KK Rp 120 ribu. Tapi listrik hanya menyala 4 sampai 5 jam sehari. Kami berharap janji Bapak dapat terlaksana agar warga kami di pulau bersejarah ini bisa juga menikmati penerangan,” kata Iskandar lagi.

Sementara itu ditempat yang sama, Nyat Kadir menanggapi tuntutan janji kepada warga Mepar hanya dapat meminta warga untuk bersabar. Beberapa waktu lalu, tim survei dari PLN regional Sumatra kata dia sudah turun. Solusi penerangan jaringan listrik desa Mepar yang harus melewati laut ada dua pilihan. Yakni jaringan diatas menggunakan tiang yang kokoh ataupun option kedua yakni menggunakan kabel bawah laut.

“Sabar dulu. Solusi jaringan lewat kabel di atas menggunakan tiang ataupun kabel bawah laut. Untuk kabel bawah laut, harganya cukup mahal. Pihak PLN tidak mau menyediakan kabelnya, mereka hanya pemasangan. Keuangan daerah juga tidak memungkinkan untuk kabel bawah laut. Kami akan mencari solusinya,” kata Nyat.

Pantauan di lapangan, jarak antara ujung pelabuhan Tanjung Buton dengan desa Mepar lebih kurang 500 meter. Namun solusi jaringan yang menjadi kendala penerangan desa wisata sejarah disampaikan Nyat akan terus cari. Warga berharap dapat segera menikmati pasokal listrik PLN untuk kebutuhan rumah tangga maupun penunjang fasilitas desa wisata tersebut. (mhb)

Respon Anda?

komentar