Kemenpar Garap Destinasi Kota Tua Lewat Forum Sadar Wisata 2016

165
Pesona Indonesia
Salah satu bangunan tua yang terawat di kota tua Jakarta. Foto: kemenpar
Salah satu bangunan tua yang terawat di kota tua Jakarta. Foto: kemenpar

batampos.co.id – Indonesia memiliki banyak kota tua yang memiliki daya tarik tersediri bagi wisatawan. Bahkan, bisa menjadi salah satu destinasi andalan, jika dikelola dengan baik dan penghuni kota tua itu sadar potensi wisata tempat mereka bermukim.

Nah, Kementerian Pariwisata (Kemenpar) Indonesia melihat potensi itu dan akan serius menggarapnya.

Di Jakarta, destinasi kota tua masih terpelihara dengan baik. Kemenpar bersama Suku Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jakarta Barat menggarapnya yang diawali dengan menggelar Forum Gathering dalam upaya pemberdayaan kelompok sadar wisata Jakarta Barat. Forum gathering ini berlangsung selama 2 hari, yakni 12-13 November 2016 lalu di Museum Mandiri Jalan Lapangan Stasiun Kota Tua, Jakarta Barat.

Ketua Pokja percepatan 10 Destinasi Prioritas Kemenpar, Hiramsyah S Thaib mengatakan, penyelenggaraan tersebut merupakan pemberdayaan Masyarakat Kelompok Sadar Wisata Jakarta Barat 2016 dengan peserta dari unsur masyarakat dan komunitas sekitar kawasan kota tua, penggiat pariwisata dan lainnya.

”Selain mendiskusikan potensi wisata juga turut memetakan permasalahan dan hambatan yang ada selama ini dalam pengembangan Pariwisata di Jakarta Barat terutama di kawasan Kota Tua Jakarta,” ujar Hiramsyah.

Kota Tua dan Kepulauan Seribu sudah ditetapkan Presiden Joko Widodo, dan Menpar Arief Yahya sebagai satu dari 10 Bali Baru, atau 10 destinasi prioritas. Karena itu dua kawasan itu harus cepat dikembangkan serius, untuk destinasi di Jakarta, yang saat ini menjadi pintu kedua terbesar bagi wisman (30 persen).

“Jakarta itu di bawah Bali 40 persen. Akses dan Amenitasnya paling lengkap, tinggal atraksinya yang harus digarap serius,” katanya.

PIC Pokja 10 Destinasi Prioritas Kemenpar Kepulauan Seribu dan Kota Tua, Budi Faisal memaparkan, penyelenggaraan Forum Gathering  tersebut juga untuk mempertemukan visi misi para peserta yang dihimpun dari berbagai komunitas. Seperti Abang None, Koko Cici, Saka Pramuka, Komunitas Sepeda Onthel, Manusia Batu, Perempuan berkebaya, sahabat museum, Rama Shinta, Foto Grafer Heritage, sekolah Pariwisata Jakarta Barat, Sahabat Budaya , Jelajah Museum, Pokdarwis kota tua dan komunitas seni pencak silat Rawa Belong diberikan pembekalan  tentang kepariwisataan.

”Pembekalan dan pemahaman kepariwisataan ini agar mereka bisa berkomunikasi secara baik dengan para wisatawan lokal maupun mancanegara yang berkunjung ke obyek wisata yang ada di Jakarta. Tersedianya duta duta wisata yang handal dan professional ini diharapkan citra positif tentang Jakarta khusunya Kota Tua di dunia Internasional,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Suku Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jakarta Barat, Linda Enriany mengatakan melalui pemberdayaan kelompok sadar wisata ini diharapkan kelompok sadar wisata masyarakat Jakarta Barat ini dapat mempromosikan dan memperkenalkan kota Jakarta Barat kepada kalangan masyarakat.

Kata Linda, yang hadir ke perhelatan pemberdayaan Kelompok Sadar Wisata  ini berjumlah 155 orang terdiri dari kelompok sadar wisata Kota Tua, Ikatan Abang None Jakarta Barat, Ikatan Koko Cici Jakarta, Karang Taruna Jakarta Barat,  Pramuka, Komunitas Onthel, sekolah Pariwisata Jakarta Barat, Jelajah Museum dan lainnya.

Untuk mencapai sasaran, imbuh Linda, dihadirkan beberapa narasumber seperti Yabez L. Tosia dari Kementerian Pariwisata Republik Indonesia, Firman Haris Ketua Lokal Working Group DMO Kota Tua Jakarta dan Yayat Sujatna dari PT Pembangunan Kota Tua Jakarta.

”Mereka kami bekali juga paparan dan ilmu kepariwisataan. Selain itu, berkunjung ke obyek wisata yang ada dwilayah Jakarta Barat serta peninjauan ke obyek wisata Balai Kota, kantor Smart City serta museum Tekstil dan obyek wisata Kota Tua yang ada di Jakarta Barat,” ujarnya.

Untuk atraksi, memang Kota Tua tidak ada habis-habisnya memberikan sensasi. Menurut Budi, baru saja Kota Tua menggelar acara di hari yang sama.

”Baru saja selesai Festival Kali Ciliwung tanggal 12-13 November 2016 bertempat di kampung Tongkol dan Krapu, salah satu rangkaian acara ini adalah jelajah kampung dan mengunjungi sisa tembok timur VOC dan Parkhuizen. Kota Tua dan sekitarnya harus terus memberikan hiburan untuk masyarakat dan wisatawan,” kata Budi.

Menurut Budi, strategi pemerintah dalam pembangunan kepariwisataan pada program pengembangan destinasi pariwisata, difokuskan pada pengembangan desa wisata dan Pokdarwis Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis). Itu semua merupakan kelembagaan di tingkat masyarakat yang anggotanya terdiri dari para pelaku kepariwisataan yang memiliki kepedulian dan tanggung jawab serta berperan sebagai penggerak dalam mendukung terciptanya iklim kondusif bagi tumbuh dan berkembangnya kepariwisataan serta terwujudnya Sapta Pesona dalam meningkatkan pembangunan daerah melalui kepariwisataan dan manfaatkannya bagi kesejahteraan masyarakat sekitar.

Menurut pedoman Pokdarwis Kemenpar, Pokdarwis ini merupakan kelompok swadaya dan swakarsa masyarakat yang dalam aktivitas sosialnya berupaya untuk: (1) Meningkatkan pemahaman masyarakat tentang kepariwisataan, (2) Meningkatkan peran dan partisipasi masyarakat dalam pembangunan kepariwisataan (3) Meningkatkan nilai manfaat kepariwisataan bagi masyarakat/anggota Pokdarwis.

”Dan yang keempay tentunya mensukseskan pembangunan kepariwisataan Indonesia,” kata Budi. (inf)      

Respon Anda?

komentar