Presiden Jokowi-PM Singapura Lee Hsien Loong Perkuat Kerjasama Pariwisata

492
Pesona Indonesia
Menteri Pariwisata Republik Indonesia, Arief Yahya dan Menteri Perdagangan dan Perindustrian Singapura, S. Iswaran meneken nota kerjasama bidang pariwisata di hadapan Presiden RI, Joko Widodo, dan Perdana Menteri Singapura, Lee Hsien Loong, di Wisma Perdamaian, Tugu Muda, Semarang, Jawa Tengah, Senin (14/11/2016) lalu. Foto: kemenpar
Menteri Pariwisata Republik Indonesia, Arief Yahya dan Menteri Perdagangan dan Perindustrian Singapura, S. Iswaran meneken nota kerjasama bidang pariwisata disaksikan Presiden RI, Joko Widodo, dan Perdana Menteri Singapura, Lee Hsien Loong, di Wisma Perdamaian, Tugu Muda, Semarang, Jawa Tengah, Senin (14/11/2016) lalu. Foto: kemenpar

batampos.co.id – Kerjasama di bidang pariwisata antara Indonesia dan Singapura makin kokoh. Penguatan itu ditandai dengan penandatangan MoU on Tourism Indonesia–Singapore di sela-sela Leaders’ Retreat, di Semarang, Senin (14/11/2016).

Nota kesepahaman di sektor pariwisata itu diteken oleh Menteri Pariwisata Republik Indonesia, Arief Yahya dan Menteri Perdagangan dan Perindustrian Singapura, S. Iswaran di hadapan Presiden RI, Joko Widodo, dan Perdana Menteri Singapura, Lee Hsien Loong, di Wisma Perdamaian, Tugu Muda, Semarang, Jawa Tengah.

Agenda ini mendapat perhatian ekstra dari kedua negara. Tercermin dari banyaknya pejabat tinggi yang hadir menyaksikan MoU itu dalam forum Leaders’ Retreat.

Dari Indonesia, Presiden Joko Widodo didampingi Menteri Luar Negeri Retno Marsudi, Menko Polhukam Wiranto, Menko Perekonomian Darmin Nasution, Menko Kematiriman Luhut Binsar Panjaitan, Mensesneg Pratikno, Menristek Dikti Mohammad Nasir, Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto, Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita, Menkominfo Rudiantara, Menteri Pariwisata Arief Yahya, Kepala BKPM Thomas Lembong dan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo.

Sementara dari Singapura, Perdana Menteri  Lee Hsien Loong ditemani Wakil Perdana Menteri dan Menteri Koordinator Keamanan Nasional Teo Chee Hean, Menteri Perdagangan dan Industri Lim Hng Kiang, Menteri Komunikasi dan Informasi Yaacob Ibrahim, Menteri Pertahanan Ng Eng Hen, Menteri Luar Negeri Vivian Balakrishnan, Menteri Perdagangan dan Industri  S Iswaran, Menteri Pendidikan (Pendidikan Tinggi dan Keterampilan) dan Menteri Kedua Pertahanan Ong Ye Kung, Menteri Senior Negara untuk Kesehatan dan Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Air Amy Khor, dan Menteri Negara untuk Kesehatan dan Komunikasi dan Informasi Chee Hong Tat.

Lingkup kerja sama MoU ini betul-betul pengembangan pariwisata kedua negara, yang semakin akrab dan saling support selama dua tahun ini. Terutama soal promosi dan pemasaran bersama; kapal pesiar (cruise); dan Meetings, Incentives, Conferences, Exhibitions  (MICE).

Kegiatan lain yang dapat dilakukan adalah pembangunan destinasi dan pelabuhan;
pengembangan sumber daya manusia melalui pelatihan, seminar, dan loka karya; penelitian dan pengembangan; investasi pariwisata; kerja sama sektor swasta; dan pertukaran informasi.

Proses kelahiran MoU Kerja Sama Pariwisata RI-Singapura tak butuh waktu lama. “Ini adalah MoU tercepat yang pernah dibuat Singapura,” Ujar Leong Yue Kheong, Assistant Chief Executive of Singapore Tourism Board.

Kedua negara sama-sama membutuhkan kerja bareng tersebut. Memang sejak tahun 2010, Singapura menunjukkan minatnya untuk bekerja sama di bidang kapal pesiar. Namun Indonesia masih mengkalkulasi untung ruginya bekerja sama di bidang kapal pesiar dengan Singapura.

Baru pada era Presiden Joko Widodo, diputuskanlah bahwa kerja sama pariwisata dengan Singapura menjadi hal yang harus diprioritaskan. Arahan Presiden Jokowi pada Leaders Retreat di Singapura, 28 Juli 2015 jelas. Indonesia dan Singapura harus bersama-sama melakukan kerjasama promosi untuk pariwisata menjadi sebuah paket destinasi bersama. Muaranya, peningkatan kedatangan turis di kedua negara.

Hal ini segera ditindaklanjuti Menteri Pariwisata Arief Yahya. Dalam berbagai kesempatan ia menyebut Singapore adalah transportation hub bagi pariwisata Indonesia. Harus diakui, jutaan orang transit di Changi Airport, selain 15,5 juta wisatawan yang masuk ke Singapore. Dalam beberapa kegiatan promosi, sejatinya kerjasama Kemenpar dengan Changi International Airport sudah terjadi.

“Istilahnya kami menjaring ikan di kolam yang sudah banyak ikannya,” kata Arief Yahya.

Kalau Bali diformat menjadi tourism hub, lalu Jakarta sebagai trade and investment hub, maka Singapore merupakan transportation hub.

“Terus terang, saat ini pun wisman yang masuk ke Indonesia juga banyak transit dari Singapore, karena persentase direct flights ke Indonesia masih minim,” kata Arief Yahya.

Begitu pun soal Yachts dan Cruises yang selama ini bersandar di Singapore. Mereka bisa membuat paket berkeliling perairan Indonesia, merapat dari pulau ke pulau, dari destinasi ke destinasi di tanah air.

“Maka wisata bahari Indonesia bisa hidup, brrgairah, dan investor Singapore juga bisa bekerjasama membangun banyak destinasi di Indonesia,” katanya.

Saat pertemuan Tingkat Menteri Perekonomian kedua negara di Singapura, 30 Mei 2016, Indonesia langsung menentukan sikap  menyetujui MoU kapal pesiar atau cruise. Indonesia pun mengusulkan pula perlunya MoU yang mencakup kerja sama pariwisata secara luas. Itu artinya, ada dua MoU yang akan ditandatangani pada Leaders Retreat.

Respons Singapura? Sangat bagus. Lewat Kementerian Luar Negeri, SIngapura malah menyodorkan satu MoU Kerja Sama Pariwisata yang di dalamnya mencakup bidang kapal pesiar. Indonesia pun menyambut baik usulan tersebut. Senin (14/11/2016) MoU Kerja Sama Pariwisata Indonesia – Singapura pun langsung ditandatangani.

“Ini satu-satunya MoU yang ditandatangani di hadapan kedua kepala negara dalam pertemuan Leaders’ Retreat tahun ini. Kerja sama pariwisata memang merupakan salah satu fokus hubungan bilateral Indonesia dengan Singapura,” jelas Michael Goutama, Wakil Ketua Kamar Dagang Indonesia untuk Singapura.

Poin kerjasamanya mencakup banyak hal. Nomor satu, mengikat kerjasama dengan Changi Airport Group (CAG). “Changi adalah penghubung Barat-Timur, Utara-Selatan, Tenggara-Barat Laut. Karena itu cocok menjadi hub atau connector atau gate, menuju ‘the world next door’ Indonesia,” ungkap Menpar Arief Yahya.

Hal lainnya, bekerja sama dengan Ctrip mendatangkan wisatawan Tiongkok ke destinasi Bintan, Surabaya, Yogyakarta dan Lombok. Setelah itu, promosi Wonderful Indonesia di Changi Airport. Setelah hub transportasi udara internasional, kerjasama juga diarahkan ke hub pasar MICE – Meetings, Incentives, Conferences, Exhibitions. Singapore Association of Convention and Exhibition Organisers and Suppliers (SACEOS) ikut digandeng, Singapura dijadikan pintu masuk untuk pasar MICE.

Saat ini, ada puluhan ribu perusahaan asing, baik dari Eropa, Amerika, Asia dan Australia yang memiliki representative office di Singapore. Selain itu juga banyak asosiasi, organisasi, korporasi besar yang memilih Singapura sebagai kantor, meskipun manufacture dan produksinya berada di negara lain.

“Wisatawan MICE di Singapura itu frekuensinya besar, jumlahnya juga besar, dan berpeluang dikembangkan di Indonesia juga,” ujar Arief Yahya.

MICE jadi makin terlihat seksi lantaran jumlah pesertanya banyak, partisipannya adalah decision marker, length of Stay-nya panjang, media coverage-nya luas dan spendingnya sangat tinggi.

“Menggabungkan MICE dengan pariwisata itu bisa langsung menyatu. Biasanya selepas acara atau sebelum acara, ada sesi city tour atau culinary tour, mengunjungi satu tempat paling menarik di kota tempat MICE dilangsungkan. Inilah yang bisa menggerakkan ekonomi. Semua roda ekonomi terkait dengan MICE dan tour-nya bisa hidup dan berkembang,” kata Arief Yahya.

Setelah itu, maskapai Singapore Airlines dan Silk Air pun ikut digandeng. Ini juga penting mengingat transportasi udara merupakan faktor paling critical bagi pariwisata Indonesia untuk mendatangkan sebanyak mungkin wisatawan mancanegara (wisman) ke Indonesia.

Hal yang tak bisa dihindari mengingat Indonesia adalah negara kepulauan. Semua destinasi hanya bisa dijangkau dengan cepat via udara.

Saat ini, ada banyak negara sasaran pasar Wonderful Indonsia yang belum memiliki direct flight ke destinasi wisata Indonesia. Bahkan ada yang sama sekali tidak ada penerbangan langsung ke Indonesia. Sementara airlines Indonesia belum membuka jalur itu. “Di situlah SQ dan Silk Air punya peran untuk mengakut wisatawan ke Indonesia. Kami joint promosion,” kata dia.

Menpar Arief Yahya mengatakan, SQ adalah maskapai berbobot, punya armada dan penerbangan yang tersebar lengkap di seluruh dunia.

“SQ juga sudah punya brand kuat, dan punya maskapai di level premium, papan tengah seperti Silk Air dan Low Cost Carrier (LCC) seperti Scoot. Jadi akan sangat membantu connectivity pariwisata Indonesia,” kata Menpar Arief Yahya.

Kebetulan, karakter destinasi Singapura – Indonesia itu saling melengkapi. Singapura unggul dalam shopping dan wahana-wahana seperti Universal Studio, Sentosa Island, Jurong Birds Park, Singapore Flyer, Madame Tussauds, Singapore Zoo, Marine Life Park, Marina bay sands, Wild Wild Wet, Wisata Big splash, yang merupakan buatan manusia.

Sedangkan Wonderful Indonesia memiliki keunggulan dalam alam, natural, eksotisme, kultural yang didominasi ciptaan Tuhan.

“Karena itu kerjasama ini menjadi semakin pas. Sambil menyelam minum air, komplementer, saling melengkapi, sambil berjualan bersama, mereka juga menjadi objek pasar wisata ke Indonesia,” jelasnya. (inf)  

Respon Anda?

komentar