Lampung Ditetapkan Sebagai Penyuplai Sapi Nasional

288
Pesona Indonesia
Dirjen PKH Kementerian Pertanian I Ketut Diarmita (kedua kiri) bersama Wakil Gubernur Lampung Bachtiar Basri (ketiga kiri), Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Lampung Dessy Desmaniar Romas, meninjau lokasi panen pedet di Desa Wonodadi, Kecamatan Tanjung Sari, Lampung Selatan, Selasa (15/11/2016). Foto: dok. pemprov lampung
Dirjen PKH Kementerian Pertanian I Ketut Diarmita (kedua kiri) bersama Wakil Gubernur Lampung Bachtiar Basri (ketiga kiri), Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Lampung Dessy Desmaniar Romas, meninjau lokasi panen pedet di Desa Wonodadi, Kecamatan Tanjung Sari, Lampung Selatan, Selasa (15/11/2016). Foto: dok. pemprov lampung

batampos.co.id — Pemerintah pusat melalui Kementerian Pertanian akhirnya menjadikan Provinsi Lampung sebagai penyuplai utama kebutuhan sapi nasional, seiring dengan pengurangan impor sapi.

Sebagai langkah awal, Lampung mendapat kehormatan sebagai lokasi pencanangan inseminasi buatan (IB) sapi secara nasional.

Pencanangan itu dilakukan Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) Kementerian Pertanian (Kemtan) I Ketut Diarmita bersama Wakil Gubernur Lampung Bachtiar Basri di Desa Wonodadi, Kecamatan Tanjung Sari, Lampung Selatan, Selasa (15/11/2016).

Menurut Diarmita, pemerintah mematok tenggat sepuluh tahun untuk swasembada sapi. “Tapi kalau swasembada bisa lima tahun, kenapa harus menunggu sepuluh tahun. Makanya, perlu intervensi seperti inseminasi secara serempak,” kata Diarmita.

Provinsi Lampung bersama Jawa Timur, Jawa Tengah, Sulawesi Selatan, dan Nusa Tenggara Barat, tercatat sebagai lumbung ternak nasional. Selama ini, Lampung baru menyuplai sapi ke Sumatera dan sebagian Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek), Banten, serta Jawa Barat. Menurut Bachtiar Basri, Lampung memiliki potensi penyuplai ternak nasional karena didukung sumber daya manusia, lahan luas, dan pakan ternak berlimpah.

Langkah mempertahankan Lampung sebagai lumbung ternak nasional, menjadi tekad pemerintahan Muhammad Ridho Ficardo-Bachtiar Basri. Langkah tersebut dilakukan dengan percepatan peningkatan populasi sapi melalui IB dan intesifikasi kawin alam. Selama 2015, pemerintahan Gubernur Ridho telah melaksanakan IB sebanyak 88.783 dosis dengan jumlah akseptor sebanyak 66.392 ekor sapi.

“Hasil pelaksanaan IB tersebut, pada 2016 Lampung berhasil meningkatkan populasi ternak sapi dengan kelahiran hasil IB 46.472 ekor pedet. Ini merupakan bentuk keberhasilan optimalisasi IB di Lampung,” kata Bachtiar Basri.

Lewat gerakan IB serempak itu, pemerintah menargetkan kenaikan populasi sapi hingga 1 juta ekor dan pada 2018 mencapai 3 juta ekor. Lampung dinilai amat berpotensi menyumbang kenaikan itu karena potensinya bisa mencapai 3 juta ekor sapi. Hingga kini, populasi sapi di Lampung tercatat 590 ekor sapi hasil ternak rakyat.

Lampung dikenal sebagai produsen sapi dengan kontribusi 200 ribu ekor per tahun. Namun, sebagaian  besar sapi tersebut sebagian besar hasil impor dari Australia dan digemukkan di 12 perusahaan penggemukan (feedloter).

“Kami menargetkan sapi rakyat harus jadi primadona karena untuk mencapai tingkat sejahtera petani paling tidak harus memiliki 10 ekor sapi. Sekarang baru dua hingga tiga ekor. Ini belum bisa dikatakan sejahtera. Lampung harus jadi pelopor peningkatan kesejahteraan petani melalui ternak,” kata Bachtiar Basri.

Penunjukan Lampung sebagai sentra ternak nasional, menurut Bachtiar, amat tepat. Lampung dibagi dalam daerah pengembangan ternak antara lain Kabupaten Lampung Selatan sebagai wilayah sumber bibit sapi peranakan Ongole (PO) dan Tanggamus sebagai daerah rumpun kambing Saburai sebagai sumber daya genetik ternak Indonesia. Kemudian, Kabupaten Tulangbawang sebagai kawasan ternak kerbau, dan Kabupaten Tulangbawang Barat sebagai wilayah sumber bibit sapi bali dan sapi PO. (inf)

Respon Anda?

komentar