Mengintip Istana Donald Trump di Trump Tower

906
Pesona Indonesia
Foto: Sam Horine via Daily Mail
Foto: Sam Horine via Daily Mail

Presiden Amerika Serikat terpilih, Donald Trump dan sang istri, Melania, segera pindah ke White House pada Januari mendatang. Fasilitas dan servis kelas satu sudah menunggu. Namun, melihat kemewahan penthouse Trump di New York ini, tampaknya siapa pun bakal berat meninggalkannya.

PENTHOUSE yang sehari-hari ditinggali Donald Trump dan Melania berada di lantai teratas gedung yang menjadi lambang imperium bisnisnya, Trump Tower, 725 Fifth Avenue, New York. Terdiri atas tiga lantai, mulai lantai 66 hingga 68, Trump Tower dibangun pada 1979. Bagian penthouse dirancang sekitar setahun kemudian.

Trump menunjuk desainer interior yang lagi ngehit ketika itu, Angelo Donghia, untuk merancang istananya. Sang taipan meminta Donghia membuatkan hunian yang mencerminkan dirinya: powerful dan berlimpah kemewahan.

Jadilah sang desainer membikin hunian dengan interior bergaya rococo. Yakni, aliran yang populer di Prancis pada abad ke-18. Salah satu inspirasinya adalah Istana Versailles, kediaman Raja Louis XIV.

Dalam aliran rococo, salah satu ciri khas adalah ukiran yang mendetail. Hal itu pun tampak dari ruangan-ruangan di rumah Trump. Ukiran melengkung atau floral menghiasi furnitur, pinggiran plafon, hiasan, dan pilar-pilar marmer yang megah.

’Saya sangat suka dengan segala sesuatu yang klasik dan mendetail,’’ jelas Trump dalam wawancara dengan People tentang rumahnya pada tahun lalu.

Gaya rococo memang tampak sangat mewah dan elaborated. Cocok dengan gaya desain Donghia yang kaya detail dan perabot yang berat. Tidak boleh ada ruang yang ’’polos.’’ Alhasil, tidak ada kaki-kaki meja, pinggiran cermin, atau dinding yang lepas dari ukiran bunga-bunga, cupid, atau tokoh-tokoh mitologi Yunani.

Langit-langit di setiap ruangan pun tidak kosong. Semua berhias lukisan scene dongeng-dongeng dari kebudayaan tertua di dunia tersebut. Dan… yang paling mengesankan kemewahan adalah tone warna yang dipilihnya. Semua merupakan kombinasi emas dengan perak, serta sedikit aksen beige dan putih pada sofa.

Ambil contoh ruang keluarga. Perapian marmer terlihat mendominasi latar belakang. Warna putihnya serasi dengan delapan pilar yang mengelilingi ruangan serta bantalan kursi. Pada kursi (yang kaki-kaki dan lengannya berlapis emas), terdapat cushion hitam bergambar perisai lambang keluarga Trump.

Di atas perapian berdiri dua vas Yunani serta sepasang patung. Pada dindingnya terpasang lukisan Apollo, anak Dewa Zeus, sedang memacu kereta kuda yang dipandu Aurora. Ada sentuhan personal pada ruang duduk tersebut.

Trump memasang foto keluarga di salah satu sisi dinding. Foto mendiang ayahnya, Fred, yang dibingkai cantik juga bertengger di meja di samping buku berjudul GOAT: A Tribute to Muhammad Ali.

Pilihan buku itu mencerminkan Trump: selalu mendapatkan yang terbaik. Buku tersebut dicetak sangat terbatas, yakni 1.000 kopi, dan ditandatangani Ali. Harganya sekitar USD 15 ribu atau setara Rp 202,6 juta. Di sudut ruangan, tampak mobil Mercedes mainan milik Barron, putra bungsu Trump.

Lanjut ke sitting room. Di situ salah satu point of interest adalah air mancur marmer di ujung ruangan. Dua sofa panjang berbentuk setengah lingkaran dipasang berhadapan plus empat kursi tunggal dan dua coffee table bertatakan kaca. Di atas setiap meja terdapat dua mangkuk permen dan kandil lilin yang ditata begitu simetris.

Di ruang makan, seluruh peralatan makan, mulai piring, cangkir teh, tatakan gelas, nampan, hingga sendok dan garpu, berwarna emas. Demikian pula tempat lilin, lampu gantung kristal, guci-guci, dan semua ornamen di sana. Bukan sepuhan, melainkan emas murni. ’’Ini asli, 24 karat,’’ kata Trump.

Satu lagi ciri kemewahan yang diadopsi Trump, langit-langit menjulang. Total jarak dari lantai marmer ke ceiling adalah 12–17 kaki (4– 5,5 meter). Selain untuk memberikan kesan megah, headroom yang lebih besar membuat Trump bebas memilih kandil yang makin besar dan mewah. Pokoknya over-the-top.

Kemewahan istana Trump itu memang tidak terbantahkan. Namun, banyak kalangan desainer yang mencemoohnya. Menurut mereka, desain itu too much alias berlebihan. ’’Nuansa emas yang tersebar hampir di seluruh bagian rumah sangat mengganggu. Akan lebih bagus kalau dipadukan warna-warna yang lebih soft. Itu tak akan mengurangi kesan mewah,’’ tutur Ada Louise Huxtable kepada Archpaper. (len/c14/na/JPG)

Respon Anda?

komentar