Kami Berikan Apui untuk Dirawat, Bukan Dijual

627
Pesona Indonesia
Ilustrasi bayi dijual. Foto: istimewa
Ilustrasi bayi dijual. Foto: istimewa

batampos.co.id – Perkara sindikat perdagangan bayi ke luar negeri dengan terdakwa Yuliana, Buyung dan Ermanila, berlanjut pada agenda mendengar keterangan saksi yang dihadirkan jaksa penuntut umum (JPU) di Pengadilan Negeri Batam, Kamis (17/11/2016).

Baca Juga: Bayi 2 Bulan Dijual Rp 80 Juta

Salah satu saksi yang dihadirkan adalah orangtua korban (bayi Apui). Ibu Apui, Ani bersama suaminya, Aan, dalam keterangannya mengaku telah lama mengenal terdakwa Yuliana. Kedekatan keduanya dalam hubungan keluarga, dimana Ani adalah tante dari Yuliana.

“Saya cerita ke Ibu-nya (Yuliana), kalau saya tidak sanggup merawat Apui (berusia 2 bulan lebih) karena saya harus mengurus hidup suami saya yang buta,” ujar saksi Ani.

Keadaan perekonomian keluarga yang buruk, akibat Ani hanya pekerja serabutan sedangkan Aan tidak bekerja dan sering sakit-sakitan, membuat Ani dan Aan nekad memberikan anaknya kepada orang yang dianggapnya mampu untuk membesarkan Apui.

“Yuliana bilang ada orang yang mampu merawat Apui. Saya dan suami ikhlas memberikan,” kata Ani yang ikut menjelaskan keterangan dari Aan.

Namun, ketika Ani dihubungi pihak kepolisian terkait perkara ini, ia sangat terkejut. Ia mengaku tidak tahu bahwa anaknya tersebut diperjual-belikan.

“Kami berikan Apui untuk dirawat, bukan untuk dijual,” ucap Aan tegas.

Orang tua Apui ini terlihat begitu kesal dengan Yuliana. “Saya gak nyangka dia (sembari menunjuk ke Yuliana) tega jual anak saya,” tegas Ani lagi.

BACA: Kondisi Bayi Rupawan yang Hendak Dijual ke Singapura Itu Makin Membaik

Saksi lainnya yang dihadirkan JPU Arie Prasetyo yakni Ahiang, yang merupakan kakak kandung Edi (WN Singapura) si pembeli bayi Apui. Ahiang menjelaskan, bahwa bayi yang dibeli adiknya itu akan dibawa tinggal bersama Edi (DPO) di Singapura.

“Saya hanya diberitahu Edi kalau dia adopsi anak. Jadi Edi titip anak itu lewat saya, sebelum dia datang ke Batam untuk menjemputnya,” terang saksi Ahiang.

Saksi didatangi terdakwa Buyung dan Ermanila di rumahnya yang berada di perumahan Cahaya Garden Bengkong. “Tidak berapa lama kemudian Yuliana datang bawa bayinya. Lalu dititip ke saya dan mereka pulang,” paparnya.

Ketika malam harinya, Apui menangis terus. Saksi juga kebingungan untuk menjaga Apui. Sehingga keesokan harinya, saksi Ahiang meminta Yuliana datang kembali untuk menjemput Apui agar dibawa ke orangtuanya lagi. “Nanti Edi datang baru bawa lagi,” lanjut saksi Ahiang.

Dua hari setelah itu, direncanakan Edi datang ke Batam menjemput Apui. Yuliana kembali mengantarkan Apui ke rumah Ahiang. Tetapi Yuliana langsung pulang, karena urusan transaksi adalah urusan Buyung dan Ermanila.

Ia menambahkan, waktu menunggu Edi datang, ternyata ada orang lain yang datang. “Awalnya saya tidak tahu itu siapa, mereka mau beli bayi Apui juga. Tapi harganya lebih mahal dari yang ditawarkan Edi. Ternyata mereka polisi,” ungkapnya.

Diketahui, bayi Apui ditawar Edi dengan harga SGD 6.000, sedangkan polisi penyamar menawarkan harga SGD 8.000. Dari terungkapnya perkara ini hingga sekarang, bayi Apui langsung diasuh oleh salah satu perwira Polda Kepri, Frengki.

Keterangan dari para saksi, dibenarkan sebahagian oleh ketiga terdakwa. Selanjutnya, Hakim Ketua Syahrial didampingi Hakim Anggota Taufik dan Jasael menjadwalkan kembali persidangan ketiga terdakwa, pekan depan dengan agenda masih mendengar keterangan saksi. (cr15)

Respon Anda?

komentar