Antara Kenaikan Tarif Listrik dengan Inflasi dan Kelangsungan Bisnis Listrik

612
Pesona Indonesia
ilustrasi
ilustrasi

batampos.co.id – Tarif listrik menjadi komponen penyumbang inflasi terbesar Kepulauan Riau dari kategori administered price (AP). Ia andil 0,02 persen year-on-year (yoy) dari Oktober 2015 hingga Oktober 2016.

“Tarif listrik dalam data tersebut merupakan tarif listrik di luar Batam. Perhitungan menurut tarif dari PLN Persero,” kata Kepala Bank Indonesia Kantor Perwakilan Batam, Gusti Raizal Eka Putra, Jumat (18/11).

Tarif listrik PLN Batam, namun demikian, tetap akan berpengaruh bagi inflasi Batam. Penyesuaian tarif listrik, yang kini tengah menjadi pembahasan di tingkat Provinsi, akan berdampak pada kenaikan inflasi Batam.

“Tinggal kita lihat prosentase kenaikan tarifnya dulu,” ujarnya.

Dampak yang muncul dapat secara langsung maupun tidak langsung.

“Perlu dikaji dulu untuk menentukan dampak langsung dan tak langsungnya,” tambahnya.

Laju inflasi Kepri hingga Oktober lalu sebesar 3,78 persen (yoy). Angka ini meningkat dibanding bulan sebelumnya 3,02 persen (yoy). Angka itu juga lebih tinggi dari laju inflasi nasional yang sebesar 3,31 persen (yoy). Kelompok volatile foods (VP) dan administered price (AP) menjadi penyumbang inflasi.

Pengamat Ekonomi Kepri Gita Indrawan mengatakan, kenaikan tarif listrik dapat mempengaruhi tingkat inflasi lantaran listrik telah menjadi komponen utama masyarakat.

“Karena usaha itu menggunakan listrik, (listrik) jelas akan mendorong inflasi,” katanya.

Penyesuaian Tarif Listrik Perlu

PLN Batam tidak sepakat apabila penyesuaian tarif listrik dapat berdampak pada kenaikan inflasi. Sebab, listrik itu menunjang pertumbuhan ekonomi di Batam. Bahkan, kini, di Tanjungpinang dan Bintan. Penyesuaian tarif listrik akan berdampak pada kemajuan ekonomi di pulau Batam dan pulau Bintan.

“Tanjungpinang sejak disuplai (listrik) oleh PLN Batam jadi berkembang. Pembangunan properti lain juga berkembang,” kata Manager Humas PLN Batam, Benny Eka Putra.

PLN Batam, kata Benny, sangat membutuhkan penyesuaian tarif listrik. Terutama di kategori rumah tangga 6 Ampere dan 10 Ampere – seperti yang tengah mereka usulkan ke Provinsi Kepri. Sebab, pelanggan di kategori itu sangat besar. Yakni, 193 ribu pelanggan atau 66 persen dari total keseluruhan pelanggan PLN Batam.

Penyesuaian tarif ini perlu dilakukan sebagai bekal modal investasi di tahun yang akan datang. Benny merinci, dengan melihat tren kebutuhan daya listrik PLN Batam sebesar 10 persen per tahun, PLN Batam setidaknya butuh tambahan daya 40 Mega Watt (MW) di tahun depan. Hingga tahun ini, kemampuan PLN Batam untuk memasok daya itu sebesar 400 MW.

“Kalau tarif tidak disesuaikan dan kami terus merugi, kami jadi nombok dari penjualan yang lain,” tuturnya.

Penyesuaian tarif listrik PLN Batam itu, rencananya, hanya untuk pelanggan kategori rumah tangga 6A dan 10A. Dari awalnya sebesar Rp 950 per Kwh menjadi Rp 1.300 per Kwh. Nilai itu sesuai dengan tarif dasar listrik (TDL) nasional.

“Dengan penyesuaian tarif listrik ini, kalau kami ditugaskan pemerintah untuk mengaliri listrik di Pulau Bulang, kami sudah bisa. Karena infrastruktur bisa dipenuhi,” pungkas Benny. (ceu)

Respon Anda?

komentar