Tabrakan, KM Mulya Sejati vs MV Thaison 4, 15 Orang Hilang

496
Pesona Indonesia
Nelayan penumpang KM Mulya Sejati korban tabrakan dengan MV Thaison 4 yang berhasil diselamatkan kemarin. Sebanyak 15 orang hilang dalam insiden itu.
Nelayan penumpang KM Mulya Sejati korban tabrakan dengan MV Thaison 4 yang berhasil diselamatkan kemarin. Sebanyak 15 orang hilang dalam insiden itu.

batampos.co.id – Kapal motor (KM) pencari ikan Mulya Sejati bertabrakan dengan kapal MV Thaison 4 asal Vietnam. Akibatnya, KM Mulya Sejati terbalik dan 15 orang hilang.

Peristiwa nahas ini terjadi pagi buta, Sabtu (19/11) di perairan Laut Jawa, tepatnya di 22 mil utara Tuban, Jatim.

Kepala Pusat Data, Informasi, dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho menyampaikan, insiden nahas itu terjadi sekitar pada pukul 04.00 WIB. Kecelakaan terjadi di titik koordinat 06.33.03.5/112 derajat.

“Dua belas orang berhasil diselamatkan. Sementara 15 orang lainnya dinyatakan hilang,” ujar Sutopo kemarin.

Sebanyak 15 korban hilang tersebut dikhawatirkan tidak selamat.

Kejadian itu menambah panjang daftar korban insiden transportasi laut di Indonesia tahun ini. Awal bulan lalu 47 orang tewas di perairan Batam saat kapal pengangkut TKI ilegal yang mereka tumpangi terbalik. Agustus lalu kapal yang terbalik di Tanjungpinang menewaskan 15 orang.

Berdasar keterangan korban selamat M. Sukri, 28, kecelakaan bermula saat KM Mulya Sejati ditabrak kapal Thaison. Kapal berawak 22 ABK Vietnam itu menabrak KM Mulya Sejati asal Juwana, Pati, dari belakang. Tabrakan yang cukup keras membuat kapal nelayan berisi 27 ABK tersebut terbalik. Seluruh awak pun tenggelam. Bagian belakang kapal sampai hancur.

Sutopo menjelaskan, korban selamat sudah dievakuasi dengan menggunakan kapal Radian. Kapal diarahkan menuju Pelabuhan Sorbes, Lamongan. Sementara itu, korban hilang langsung ditindaklanjuti dengan operasi pencarian oleh tim SAR gabungan.

Hingga tadi malam, pencarian ternyata belum membuahkan hasil. Kepala Biro Komunikasi Publik Kementerian Perhubungan (Kemenhub) Bambang S. Ervan menerangkan, operasi pencarian hingga pukul 20.00 belum berhasil menemukan 15 korban hilang.

“Operasi pencarian telah dilakukan sejak informasi diterima. Selain mengerahkan sejumlah kapal, ada helikopter juga yang diterjunkan. Operasi akan dilanjutkan besok pagi (pagi ini, Red),” ujarnya.

Bambang mengakui, hingga saat ini pihaknya belum memperoleh keterangan detail soal penyebab tabrakan. Menurut dia, syahbandar akan melakukan penyelidikan lebih lanjut. Hasilnya akan dilaporkan ke Ditjen Perhubungan Laut Kemenhub untuk kemudian ditindaklanjuti.

Bila dari penyelidikan syahbandar kuat bukti ada pelanggaran pengoperasian kapal oleh pihak Thaison, sesuai keterangan saksi, kasus akan dilimpahkan ke Mahkamah Pelayaran untuk dilakukan persidangan.

“Persidangan terkait dengan kemampuan nakhoda dan awak lainnya dalam pengoperasian kapal. Jika terbukti bersalah, mereka akan dikenai sanksi terkait profesi pelautnya seperti pembekuan atau pencabutan sertifikat keahlian,” jelasnya. Sedangkan masalah ganti rugi atau adanya kelalaian yang mengakibatkan kematian diserahkan ke pengadilan umum.

Pengamat transportasi dari Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Djoko Setijowarno menyebutkan, insiden kecelakaan kapal yang masih marak terjadi merupakan imbas lemahnya fungsi pengawasan. Selama ini pemerintah kurang tegas terhadap perusahaan pemilik kapal yang melanggar standarisasi kelayakan kapal.

“Kalau tidak layak, seharusnya tidak boleh beroperasi,” tuturnya saat dihubungi Jawa Pos.

Semua kapal, jelas Djoko, mestinya wajib menyalakan lampu saat berlayar malam hari. Pemilik kapal juga harus menyediakan jaket pelampung sesuai dengan kapasitas penumpang. Nah, syarat-syarat itu selama ini kerap diabaikan. Yang terjadi di lapangan, mayoritas kapal ikan, terutama milik nelayan lokal, tidak memedulikan keselamatan.

“Kalau menggunakan pelampung, tidak akan hilang saat kapal tenggelam,” ucapnya.

Djoko mencontohkan budaya nelayan dan pemilik kapal di wilayah Eropa. Para nelayan di Benua Biru itu, terang dia, sangat memperhatikan keselamatan saat meĀ­laut. Mereka selalu menyiapkan pelampung sebelum menangkap ikan di tengah laut. Dengan begitu, saat kapal tenggelam atau bertabrakan dengan kapal lain di perairan, para nelayan tetap selamat.

“Mereka (nelayan Eropa, Red) tidak mau kalau kapalnya tidak sesuai standar keselamatan,” bebernya.

Semestinya, saran Djoko, pemerintah melakukan reformasi sistem keselamatan laut yang ada saat ini. Menurut dia, kendala utama sektor kelautan dan perikanan adalah banyaknya pihak yang memiliki kewenangan di dalamnya. Nah, pemerintah sebaiknya menyederhanakan aturan dan kewenangan di sektor kelautan untuk mempermudah pengawasan.

“Sekarang ini pemerintah daerah punya kewenangan sendiri. Pemerintah pusat punya kewenangan sendiri,” imbuhnya. (mia/tyo/c9/ang)

Respon Anda?

komentar