Akses ke Gunung Kidul Makin Mudah, Menpar Arief Yahya Gembira

260
Pesona Indonesia
Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi dalam Seminar Nasional Pengembangan Industri Pariwisata Gunung Kidul di Hotel Royalambarrukmo Yogyakarta, Jumat (18/11/2016) lalu. Foto: istimewa
Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi dalam Seminar Nasional Pengembangan Industri Pariwisata Gunung Kidul di Hotel Royalambarrukmo Yogyakarta, Jumat (18/11/2016) lalu. Foto: istimewa

batampos.co.id – Menteri Pariwisata RI, Arief Yahya, wajar saja terus mengapresiasi sahabat kerjanya Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi di Kabinet Kerja Jokowi-JK. Budi begitu memahami bahwa memajukan pariwisata Indonesia bukan hanya tanggungjawab Kemenpar, tapi juga tanggungjawabnya. Khususnya terkait akses ke destinasi wsiata.

Inilah salah satu implementasi “Indonesia Incorporated” bersatu untuk Merah Putih. Tidak lagi terkotak-kotak oleh birokrasi yang membuat semua menjadi sulit.

“Saya percaya Mas Budi Karya, beliau DNA-nya sudah pariwisata. Lama bergerak di industri pariwisata, jadi sudah memahami utuh strategi 3A dalam konsep pengembangan destinasi dan industry,” kata Menpar Arief Yahya.

Atraksi, Akses, dan Amenitas, tiga sekawan yang tidak bisa dipisahkan dalam pengembangan destinasi.

Pekerjaan atraksi, lebih banyak di pemda, pemkot, pemkab, dan pemprov yang memiliki atraksi di daerah. Atau langsung di bawah industri yang mengurus culture, nature, dan manmade.

Sedangkan Amenitas, murni 100 persen private sectors, atau swasta yang memiliki modal dan kompetensi seperti hotel, restoran, theme park, convention, dan lainnya.

Nah, Akses itu pekerjaan bersama 3A lagi, Airlines, Airport, dan Authority atau biasa diperankan oleh Kemenhub. Akses wisman yang masuk ke Indonesia itu 75% melalui udara, sisanya melalui penyeberangan di Kepri, cruise di 5 port, dan pelintas batas di perbatasan.

“Dengan menyentuh saluran udara, menaikkan seats capacity, maka opportunity penambahan jumlah wisman juga makin besar,” katanya.

Salah satu yang mendapat dua jempol Menpar Arief Yahya adalah spirit untuk memikirkan pengoperasian Bandara Gading, sebagai bandara komersial untuk mengembangkan pariwisata Gunung Kidul, Jogjakarta.

“Bandara Gading telah dibangun, namun untuk melayani penerbangan komersial harus dievaluasi terlebih dahulu, terutama terkait dengan keselamatan dan keamanannya. Kemenhub akan membicarakan dengan Pemda untuk membahas masalah tersebut,” ujar Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi dalam Seminar Nasional Pengembangan Industri Pariwisata Gunung Kidul di Hotel Royalambarrukmo Yogyakarta, Jumat (18/11/2016) lalu.

Bandara Gading itu ada di Gunung Kidul, dengan spesifikasi landas pacu 900 meter.

Menurut Budi Karya, pengoperasian bandara tersebut dapat dikembangkan untuk penerbangan pribadi maupun pesawat jenis ATR, yang diharapkan mampu mendukung pengembangan potensi pariwisata dan kemaritiman di Gunung Kidul.

Seperti diketahui, Gunung Kidul punya potensi pariwisata alam dan budaya, yang butuh dukungan transportasi. Banyak destinasi yang muncul karena masyarakat yang sangat welcome, seperti Goa Pindul, Pantai Baron, Pantai Indrayanti, Pantai Pengilon, Air Terjun Sri Getuk, Goa Jomblang, dan lain-lain.

Budi Karya yang mantan Dirut PT Pembangunan Jaya Ancol Jakarta itu menyebut, transportasi bisa berdampak langsung pada belanja wisata.

“Komponen biaya untuk transportasi dapat mencapai 30-40% dari keseluruhan biaya wisata, apalagi bila wisatawan harus menempuh long haul flight. Karena itu connectivity menjadi faktor pendukung besar dalam pengembangan sector pariwisata,” ujar Menhub.

Jogja sendiri telah ditetapkan sebagai salah satu 10 destinasi branding, atau objek wisata yang sudah masuk dalam map Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN). Dan Kemenhub telah menyiapkan pengembangan infrastruktur udara dan kereta api di sana.

Sebelumnya, Menhub mengunjungi titik perlintasan KA Yogyakarta – Magelang. Hasilnya, Kemenhub akan mereaktivasi jalur lintas KA Yogyakarta – Magelang.

“Jalur kereta api dari Stasiun Sentolo akan dibuat langsung menuju Candi Borobudur untuk lebih mendorong kunjungan wisatawan khususnya ke Candi Borobudur di Magelang, Provinsi Jawa Tengah dan sore ini saya akan berbicara dengan Direksi PT Borobudur untuk rencana pengembangan Candi Borobudur,” tegas Menhub.

Selain itu, Menhub juga menambahkan, BUMN juga telah berperan aktif dalam pengembangan pariwisata di Provinsi D.I. Yogyakarta yaitu PT. Angkasa Pura I (Persero).

“Karena kapasitas Bandara Adisutjipto yang sudah tidak memadai, maka dibangunlah bandar udara di Kulon Progo. Pembebasan tanahnya sudah 70% dan kegiatan konstruksi akan dimulai pada tahun 2017 dan direncanakan akan selesai pada tahun 2019,” kata Menhub.

Menhub mengatakan bandara di Kulon Progo itu rencananya sebagai pendukung sektor pariwisata dan sektor industri di Kabupaten Kulon Progo dan Kota Yogyakarta. Seperti Kawasan Industri Ringan Tuksono, Kawasan Industri Pertanian dan Peternakan Banguncipto yang terintegrasi dengan Kawasan Industri Sentolo dan Bukit Menoreh.

Selain itu, juga untuk mendukung aksesibilitas pada kawasan pelabuhan dan Industri Perikanan Adikarto, Kawasan Wisata Pantai Glagah dan Kawasan Wisata Bantul.

“Saya harap pembangunan bandar udara di Kulon Progo ini dapat meningkatkan perkembangan ekonomi berupa peningkatan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB), meningkatkan kualitas lingkungan dan kualitas sosial serta dapat meningkatkan lapangan kerja,” ujar  Menhub.

Kemenhub sebagai regulator bidang transportasi udara punya tugas untuk prasarana dan sarana yang memadai guna mendukung mobilitas manusia dan kelancaran arus barang. Selain itu juga untuk mewujudkan sistem transportasi yang efektif dan efisien.

“Tentu ini akan sangat mendukung pengembangan destinasi pariwisata yang aman, nyaman, menarik, mudah dicapai, berwawasan lingkungan, meningkatkan pendapatan nasional, daerah, dan masyarakat,” katanya. (inf)

Respon Anda?

komentar