Berbincang dengan CEO Indosat Ooredoo Alexander Rusli

435
Pesona Indonesia
foto: twitter
foto: twitter

Bisnis telekomunikasi berkompetisi begitu sengit. Indosat Ooredoo berada disalamnya.

Berikut wawacara dengan CEO Indosat Ooredoo Alexander Rusli.

Bagaimana proyeksi kinerja industri telekomunikasi tahun ini?

Growth (pertumbuhan) masih sangat bagus. Khusus untuk konsumsi data, tahun ini proyeksi kami bisa naik 100 persen. Operator lain saya kira juga tumbuh double-digit semua (untuk data, Red). Namun, kalau secara total bisnis, growth kami ada di kisaran 7-9 persen. Lumayan, masih lebih tinggi daripada growth ekonomi (yang sekitar 5 persen, Red).

Bagaimana tren konsumsi dan kontribusi data, voice, dan SMS?

Konsumsi data melonjak, voice naik sedikit, dan SMS menurun. Ke depan, konsumsi data terus naik. Voice dan SMS mungkin turun karena banyaknya aplikasi komunikasi seperti WhatsApp. Namun, dari sisi kontribusi revenue, voice dan SMS lebih besar daripada data. Sebab, tarif data semakin murah.

Faktor apa yang berperan signifikan mendongkrak konsumsi data?

Pertama, penambahan handset. Semakin banyak orang punya smartphone, semakin banyak konsumsi data. Kedua, aplikasi. Misalnya, Go-Jek yang digunakan jutaan orang dan game seperti Pokemon Go. Apalagi, sekarang banyak sekali bisnis yang masuk ke ranah digital seperti e-commerce, e-banking, dan masih banyak lagi.

Peta kompetisi dengan Telkomsel dan XL?  

Kalau di Jawa, cukup kompetitif. Namun, kalau di luar Jawa, kami akui masih didominasi satu pemain. Untuk wilayah Jawa, kami kuat di Jatim dan Jateng. Di Jabar, kami kuat di beberapa kota. Misalnya, di Sukabumi, kami kuat sekali. Market share kami lebih dari 60 persen.

Apa strategi kunci Indosat untuk tetap kompetitif?

Produk yang simpel. Sejak reborn menjadi Indosat Ooredoo (pada November 2015, Red), produk-produk kami semakin simpel, user-friendly. Misalnya, paket Freedom dan Combo. Tidak ada lagi hitung-hitungan produk yang rumit bagi pelanggan. Karena itu, inovasi menjadi sangat penting.

Seberapa cepat inovasi tersebut bergulir di Indosat?

Dulu, kalau mau merilis produk baru, operator seluler butuh 6-7 bulan. Siklus itu lama sekali. Sebagai gambaran, produk baru Google atau Facebook bisa keluar setiap tiga hari lho. Karena itu, siklus inovasi harus terus disemai agar lebih cepat. Kami tidak takut untuk mencoba (produk baru, Red). Kalaupun gagal dan tidak berkembang, ya harus cepat dimatikan, ganti dengan inovasi lain.

Bagaimana menyemai kultur inovasi di Indosat?

Kuncinya, kami dorong semua orang di Indosat agar berani bicara, menyuarakan ide. Kalau ada ide yang tidak bagus, tidak dimarahi, semua diapresiasi. Sebab, kalau sampai orang takut menyuarakan ide, inovasi akan mati. Kami kan challenger (penantang), jadi harus gesit dan agresif dengan inovasi-inovasi baru agar bisa terus men-challenge market leader.

Jadi, kreativitas menjadi kata kunci?

Tepat sekali. Kami bahkan bisa menggunakan strategi inovasi yang menurut orang lain mungkin dianggap gila. Misalnya, produk iflix, layanan video streaming yang tidak memakan pulsa. Biaya langganan per bulan hanya Rp 39 ribu. Itu pun kami kasih gratis untuk tiga bulan pertama. Saya pikir-pikir, produk tersebut gila juga.Namun, kami memang harus berani mencoba hal-hal yang gila seperti itu.

Dari sisi finansial, pada semester I 2016 Indosat mencetak laba Rp 428 miliar. Padahal, tahun – tahun sebelumnya masih rugi. Apa strateginya?

Sebenarnya, sejak 2,5 tahun terakhir, kinerja keuangan kami bagus. Namun, dulu kami dihajar rugi kurs. Kadang hal itu bikin gemas juga. Sebab, semua kinerja baik, tapi bottom line (laba/rugi)-nya merugi karena kurs. Dulu utang valas kami memang besar. Kami tidak bisa langsung mengonversi (ke rupiah, Red) karena penaltinya besar. Jadi, yang bisa dilakukan adalah memperkecil porsi utang valas secara bertahap. Sekarang tinggal 15-18 persen.

Jadi, setelah merugi sejak 2013, tahun ini Indosat optimistis bisa kembali membukukan laba?

Semoga, itulah harapan kami semua. (Lantas tersenyum lebar).

***

CEO Indosat Ooredoo Alexander Rusli foto: miftahulhayat / jawapos
CEO Indosat Ooredoo Alexander Rusli
foto: miftahulhayat / jawapos

Sengitnya pertarungan tak hanya dijalani Alexander Rusli di area bisnis operator seluler. Pria kelahiran Sydney itu juga rutin bertukar pukulan dan ten­dangan di matras bela diri. ”Minimal seminggu sekali saya adu jotos,” ujarnya.

Saat ditemui Jawa Pos, tiga perban putih masih tampak membalut pergelangan tangan kanan Alex. Bagian atas dada yang dekat dengan tulang belikat pun terlihat memar dan berwarna merah kebiruan, jejak pukulan.

”Dalam beberapa hari juga sembuh,” kata Alex santai, sambil menunjuk lebam di leher bawah.

Pria yang tahun ini menginjak 45 tahun tersebut menggemari bela diri. Beragam olahraga keras dilahap, mulai taekwondo, karate, kungfu, hingga mixed martial arts (MMA). ”Hampir semua aliran bela diri pernah saya coba,” ucapnya.

Biasanya, pemegang gelar PhD dari Curtin University Australia itu mengundang rekan dari berbagai aliran bela diri untuk menjadi lawan tanding di salah satu ruang di rumahnya.

”Sekarang saya senang sparring dengan teman taekwondo,” sebutnya.

Menurut Alex, adu jotos di arena tanding menjadi aktivitas yang tak hanya olahraga menguras keringat, melainkan juga melatih konsentrasi sekaligus mengelola emosi.

”Adrenalin naik. Hal itu bikin badan dan pikiran fresh,” ujarnya.

Latihan dengan mitra biasanya berlangsung intens 45 menit. Alex menganggap pukulan dan tendangan ibarat tukar-menukar argumentasi dalam debat. ”Hal tersebut saya rasakan seperti pertukaran energi. Mengasyikkan,” tutur mantan komisaris Krakatau Steel tersebut.

Apakah pernah menggunakan kemampuan bela diri di kehidupan nyata?

”Sudah lama sekali, waktu kuliah dulu,” tuturnya mengingat-ingat. (*/c16/owi/jawapos)

Respon Anda?

komentar