Etnis Rohingya Terus Dibantai di Myanmar, Sikap Indonesia Dipertanyakan

1076
Pesona Indonesia
Warga Rohingya yang terus ditindas di Myanmar. Dunia diam karena yang menjadi korban adalah muslim. Foto: youtube
Warga Rohingya yang terus ditindas di Myanmar. Dunia diam karena yang menjadi korban adalah muslim. Foto: youtube

batampos.co.id – Terulangnya krisis SARA di Rakhine State, Myanmar, membuat sikap pemerintah Indonesia dipertanyakan.

Senin (21/11/2016), Menteri Luar Negeri Retno Marsudi memastikan bahwa pemerintah sedang meminta konfirmasi kepada Myanmar mengenai krisis tersebut. Di luar itu, dia memastikan Indonesia sudah punya peran penting di Rakhine State, tempat tinggal Etnis Muslim Rohingya.

Retno menjelaskan, pihaknya sudah mendengar berbagai informasi mengenai Etnis Rohingya beberapa waktu belakangan.

“Tugas kita pertama adalah meminta klarifikasi atas kebenaran informasi tersebut,” ujarnya di kompleks Istana Kepresidenan, Senin (21/11/2016).

Kemarin, Dirjen Asia Pasifik-Afrika di Kemenlu menemui dubes Myanmar di Jakarta, salah satunya untuk mengklarifikasi hal tersebut.

Keterlibatan diplomasi Indonesia dalam memperbaiki kondisi di Rakhine State, tutur Menlu, sudah sangat jauh. Karena itu, Indonesia juga perlu mengetahui dengan jelas apa yang terjadi di kawasan tersebut.

“Sekali lagi kita menyampaikan pentingnya Pemerintah Myanmar untuk menyampaikan informasi mengenai situasi di Rakhine State,” lanjutnya.

Pemerintah Indonesia sudah bekerja sama dengan Myanmar sejak sebelum pemerintahan yang baru. Indonesia melakukan capacity building untuk isu yang terkait dengan good governance, demokrasi, hak asasi manusia, hingga desentralisasi. Termasuk juga yang berkaitan dengan keamanan dan kesejahteraan di Rakhine State.

“Kita pernah menghadapi situasi yang juga mirrorless, sama dengan Myanmar tapi kita bisa bertransformasi menjadi sebuah negara yang demokratis,” tutur Diplomat 54 tahun itu. pengalaman tersebut kemudian dibagikan kepada Myanmar dalam rangka mengelola konflik.

Beberapa langkah konkret yang telah dilakukan antara lain pembangunan empat sekolah Indonesia di Rakhine State. Kemudian, Indonesia juga turut andil dalam menyediakan fasilitas kesehatan di kawasan tersebut. Menurut Retno, kedua hal itu merupakan kebutuhan dasar dari masyarakat.

Di forum internasional, Indonesia terlibat aktif dalam Organisasi OIC Contact Group on Rohingya. Kemudian, Indonesia juga aktif menjadi bagian dari Partnership for Mynmar yang dikelola PBB. Kerjasama tersebut melibatkan pemerintah myanmar.

“Jadi, kita bisa menyampaikan concern kita, tetapi juga memberikan kesempatan pemerintah Myanmar menjelaskan mengenai situasi yang berkembang di Myanmar,” tambahnya.

Sementara itu Menteri Agama (Menag) Lukman Hakim Saifuddin meyampaikan keprihatinan terhadap konflik di Myanmar itu. Dia meminta umat Islam Indonesia ikut menaruh perhatian terhadap nasib etnis Rohingya. Di antaranya Lukman menyerukan supaya umat Islam di Tanah Air membaca doa qunut nazilah.

“Tujuannya demi meninggal.

Lukman menjelaskan doa qunut nazilah itu dibaca setelah iā€™tidal rakaat terakhir setiap solat. Amalan ini menurut dia, disunnahkan ketika ada umat Islam yang mengalami ancaman.

“Kita sangat prihatin dengan konflik di Myanmar itu. Semoga jumlah korban tidak terus bertambah,” tuturnya.

Politisi PPP itu mengatakan Kemenag siap memfasilitasi pertemuan tokoh Islam dan Budha serta kalangan akademis untuk membantu penyelesaian masalah Rohingya. Menurutnya di Indonesia banyak tokoh agama maupun akademisi yang memiliki pengalaman dalam resolusi konflik.

Dia menegaskan pemerintah Indonesia tidak akan tinggal diam terhadap nasib umat Islam di Myanmar itu. Selama ini Indonesia telah melakukan rangkaian bantuan kepada kelompok minoritas muslim di Myanmar. Tujuannya adalah untuk menegakkan misi kemanusiaan dan mewujudkan perdamaian. (AP/BBC/DW/sha/c17/any/byu/wan/jpgrup)

Respon Anda?

komentar