Warganya Tuntut Makam Ferdinand Marcos Dibongkar

280
Pesona Indonesia
Upacara pemakaman mantan Presiden Filipina Ferdinand Marcos, Jumat (18/11). / Foto: AFP
Upacara pemakaman mantan Presiden Filipina Ferdinand Marcos, Jumat (18/11). / Foto: AFP

batampos.co.id – Pemakaman mantan Presiden Filipina Ferdinand Marcos di cemetery of heroes alias taman makam pahlawan (TMP) pada Jumat (18/11) menuai protes. Hingga Senin (21/11) keluarga dan korban kekejaman sang diktator Filipina itu terus mendesak Mahkamah Agung (MA) untuk membongkar pusara Marcos.

Sebab, saat ini mereka mengajukan banding atas putusan pengadilan yang menyatakan Marcos bisa dimakamkan di TMP. ”Bagaimana bisa seorang penjarah dan pemimpin lalim serta penjahat HAM seperti dia berhak atas kehormatan bak pahlawan dan negarawan?” protes Edcel Lagman, seorang anggota DPR Filipina dari kubu oposisi.

Secara pribadi, dia menolak keras pemakaman Marcos di TMP. Sebab, di matanya, suami Imelda tersebut adalah seorang penjahat yang mendalangi penculikan dan pembunuhan saudara kandungnya. Lagman dan kuasa hukumnya lantas menggugat MA.

”Kami menentang pemakaman yang sudah dilakukan secara diam-diam itu karena putusan MA belum final,” tegasnya.

Pasca putusan MA, keluarga dan kerabat korban Marcos punya waktu 15 hari untuk mengajukan banding. Karena putusan MA baru muncul pada 8 November lalu, keluarga dan kerabat korban Marcos masih memiliki waktu sampai Rabu nanti (23/11).

”Penggalian kembali makam Marcos adalah perintah yang harus segera dilakukan. Ini pelajaran bagi siapa pun untuk tidak meremehkan hak penggugat mengajukan banding,” kata Lagman membacakan isi surat petisi delapan halaman yang diajukannya ke MA kemarin.

Selain Lagman dan timnya, petisi itu ditandatangani firma hukum lain yang mewakili sebagian keluarga dan kerabat korban Marcos. Dalam protesnya, Lagman menegaskan bahwa keluarga Marcos dan militer telah melanggar hukum.

Sebab, mereka memakamkan jasad presiden ke-10 Filipina tersebut secara diam-diam. Apalagi, prosesi pemakaman Marcos berlangsung bak pahlawan, lengkap dengan peng­hormatan ala militer.

Fidel Ramos, mantan presiden yang juga salah seorang penasihat Presiden Rodrigo Duterte, merupakan salah seorang tokoh yang ikut memprotes pemakaman Marcos.

”Ini sebuah penghinaan. Ini pelecehan terhadap angkatan bersenjata Filipina yang sudah mengorbankan jiwa dan raga (untuk mengakhiri kekejian Marcos, Red) pada masa lalu,” ungkapnya dalam jumpa pers. (AFP/Reuters/theinquirer/hep/c14/any/JPG)

Respon Anda?

komentar