Berkenalan dengan Eunike Nugroho, Pelukis Botani

1347
Pesona Indonesia
Eunike Nugroho
Eunike Nugroho

Bagi Eunike Nugroho, seni botani adalah passion-nya. Dia pun menjadi satu-satunya wakil Indonesia dalam pameran 15th International Exhibition of Botanical Art & Illustration di AS.

Salah satu pameran seni dan ilustrasi botani terbesar di dunia, 15th International Exhibition of Botanical Art & Illustration, berlangsung di Pittsburgh, Amerika Serikat, 15 September–15 Desember 2016. Ada 43 karya dari 43 seniman dan ilustrator botani dari 15 negara yang dipamerkan dalam ajang tiga tahunan itu.

Di antara 43 seniman tersebut, terdapat nama Eunike Nugroho. Dia merupakan satu-satunya pelukis botani dari Indonesia dalam event itu. Bagi perempuan yang biasa dipanggil Keke tersebut, mengikuti pameran itu seolah mimpi di siang bolong. Sebab, saat mulai menyelami seni lukis botani sekitar empat tahun lalu, tidak pernah terpikir dalam benak Keke akan memamerkan karyanya. Apalagi ini pameran internasional.

’’Saya mengawali seni ini sebagai hobi. Untuk mengisi waktu. Tidak lebih dari itu,’’ kata Keke ketika ditemui di rumahnya di Jogja pekan lalu.

Kenyataannya, karya Keke berhasil mencuri perhatian Hunt Institute for Botanical Documentation, penyelenggara pameran itu. Dia direkomendasikan komunitas seniman botani di Sheffield, Inggris. Tak heran bila kemudian Keke terkejut mengetahui bahwa pameran tersebut berlevel dunia.

Keke mengungkapkan, di tempat acara, Pittsburgh, AS, dirinya bertemu peserta konferensi dari berbagai negara. ’’Saya diperkenalkan sebagai peserta pameran yang diprakarsai Hunt. Mereka pun lalu ngasih selamat dengan antusias.’’

Meski begitu, Keke tetap belum menyadari bahwa pameran seni botani itu sekeren yang dikatakan para peserta konferensi yang ditemuinya. ’’Ada yang bilang, kamu tuh di langit. Dan, kami mesti memandang ke atas sana, pengin juga seperti kamu,’’ ungkap Keke menirukan ucapan seorang peserta konferensi.

International Exhibition of Botanical Art & Illustration sudah berlangsung sejak 1960-an. Pameran itu merupakan satu di antara dua pameran seni botani terbesar di dunia. Satu lagi ada di London. Pesertanya hanya punya satu kesempatan tampil. Kalau sudah di AS, dia tidak bisa ikut pameran di London.

Karena itu, Keke tidak mau menyia-nyiakan kesempatan langka tersebut. Sebagai satu-satunya peserta dari Indonesia, dia membawa misi untuk mengenalkan flora Indonesia ke mata dunia. Anggrek jadi pilihan. Dia lalu berburu anggrek di kawasan wisata Kaliurang, Sleman, Jogjakarta. Ada tiga lukisan anggrek yang diusulkan Keke ke penyelenggara. Namun, hanya satu karya yang dipilih.

’’Proses seleksinya berlangsung selama setahun,’’ jelasnya.

Keke merasa makin tersanjung karena digolongkan seniman botani newbie (pendatang baru) yang terpilih dalam pameran tersebut. Dia baru empat tahun mendalami seni tersebut. Itu pun tidak disengaja. Keterlibatan Keke dalam seni botani berawal dari kepindahan suaminya ke Sheffield, Inggris. Saat itu Keke mengikuti sang suami yang tengah menuntut ilmu di sana.

Untuk mengisi waktu selama di perantauan, Keke teringat hobi yang sudah lama ditinggalkannya. Yakni, melukis dengan cat air. ’’Di sana, tiba-tiba saya kepikiran untuk melukis lagi,’’ ungkapnya.

Keke lalu mengambil kursus melukis berbayar. Dengan embel-embel berbayar, mau tidak mau, dia harus serius. Kebetulan, ilmu yang dipelajarinya agak berbeda dan lebih beragam dengan yang pernah dipelajarinya di Indonesia. Keke adalah alumnus Desain Komunikasi Visual (DKV) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta.

Dia pun dengan bersemangat menyimak materi demi materi. ”Di sana, jenis kertas lukisan cat air beda. Kuasnya juga beda. Harusnya kayak gini dari dulu,” katanya.

Selesai kursus, Keke tidak lantas berhenti beraktivitas. Dia bergabung dengan komunitas seni botani yang bermarkas di sebuah taman di dekat tempat tinggalnya. Komunitas itu berfokus pada tanaman sebagai objek lukis.

Di Eropa, kegiatan melukis tanaman sudah biasa. Taman-taman di Eropa juga memberi kesempatan orang-orang yang ingin belajar melukis tanaman. Keke mengatakan, melukis botani merupakan tradisi yang ada sejak zaman kolonial di Eropa.

”Saat menjajah negara lain, mereka juga mencatat tanaman apa yang bisa diolah menjadi apa. Dan mereka masih melakukan itu sampai sekarang,” ujar Keke.

Dari komunitas tersebut, Keke mengenal seni botani yang ternyata sangat menarik. ”Saya tadinya enggak ngerti cara melukis tanaman. Awalnya lebih ke binatang,” jelasnya.

Dari ikut komunitas tersebut, Keke jadi mengerti bahwa melukis tanaman tidak sesederhana kelihatannya. Detail-detail tanaman harus betul-betul diperhatikan.

Keke bercerita, saat kecil, dirinya sempat gundah karena dianggap tidak berbakat. Di antara saudara-saudara kandungnya, hanya Keke yang tidak terlihat berbakat di salah satu bidang. Kakak pertamanya bisa main alat musik apa saja. Yang kedua mahir main piano, gitar, dan flute. Kemampuan bahasa asingnya juga bagus.

Sedangkan Keke, meski dikursuskan macam-macam, tidak ada yang berhasil. ”Dilesin piano, enggak jadi. Karena mungkin sulit, dicoba organ. Tahunya tidak bisa juga. Les Mandarin hanya bertahan beberapa saat. Dilesin tenis, malah diketawakan karena namplek saja saya enggak bisa. Jadi enggak mau datang lagi,” tutur perempuan kelahiran Semarang itu.

Namun, saat SMP, Keke tertarik dengan komik Jepang, yang kala itu booming. Dia pun mulai mencoba untuk menggambarnya. Tidak disangka, gambar Keke dibilang lumayan. Tidak ingin menyia-nyiakan bakat itu, orang tua Keke langsung mencarikan guru lukis.

”Nah, itu jadi kali pertama saya melukis. Sekitar kelas 2 atau 3 SMP. Agak telat sih. Hehehe,” katanya.

Keke menemukan guru yang mengarahkannya untuk menggunakan media cat air. Sang guru menilai Keke sudah tidak pantas untuk menggunakan media krayon. Sejak kali pertama mengenal cat air, Keke langsung jatuh hati. Semua komik yang digambarnya diwarnai dengan cat air.

Minat dan bakat Keke itu kemudian membawanya untuk masuk Jurusan DKV UNS Surakarta pada 1999. Tidak disangka, di jurusan itu Keke justru kehilangan minat melukis. ”Entah kenapa, kalau sudah jadi rutinitas, jadi tugas, malah passion-nya turun,” tutur perempuan berambut pendek tersebut.

Sejak itu, Keke meninggalkan hobi melukisnya. Dia memilih berfokus kuliah, kemudian menyambi bekerja di sebuah perusahaan periklanan di Jakarta. Selama bekerja, Keke tidak pernah lepas dari dunia menggambar. Namun, dia lebih sering menggambar dengan aplikasi. Kuas-kuas lukisnya tak pernah tersentuh.

”Total, mungkin sekitar sepuluh tahun saya enggak melukis,” ucapnya.

Setelah kembali memulai, Keke berkomitmen untuk konsisten. Dia pun meningkatkan hobinya menjadi profesi. Menurut dia, cara itu bisa menjadi motivasi untuk terus berkarya. Dia pun mulai menerima pekerjaan. Awalnya, Keke ikut lelang-lelang di situs pekerja lepas. Tarif yang dia tawarkan pun masih harga bantingan. Yang penting dapat klien.

”Awalnya seperti itu. Harganya cenderung rendah. Tapi lumayan, jadi punya portofolio,” tuturnya, lalu tertawa.

Dari pekerjaan-pekerjaan berbayaran rendah itu, Keke mulai mantap untuk menapaki karir sebagai freelancer. Klien demi klien berdatangan. Mulai penerbit kecil hingga penerbit besar seperti Penguin Random House dan Harlequin yang memintanya untuk menggambar cover buku mereka. Dia juga mengerjakan cukup banyak order untuk produk dari berbagai negara. Yang paling berkesan adalah pengalaman menerima order dari perusahaan wine asal Spanyol, Vinos del Paseante.

”Saya bikin gambar untuk label anggur mereka. Saya bikin beberapa. Jadi serial. Itu jadi awal pengalaman yang tak terlupakan,” ucap Keke.

Order lain yang cukup berkesan adalah pembuatan sampul depan dan belakang buku The Genius of Birds karya Jennifer Ackerman. Karena buku tersebut diterjemahkan ke beberapa bahasa dan diterbitkan di beberapa negara, Keke jadi ikut menikmati royaltinya. Dia mengaku agak terkejut dengan sistem royalti tersebut. Biasanya, klien membeli putus karyanya. ”Kalau ini, ngelukisnya sekali, dapat royalti berkali-kali. Hahaha,” ucapnya.

Setelah kembali dari Inggris dan menetap di Jogjakarta pada 2014, Keke tergugah untuk mendokumentasikan ragam flora asli Indonesia. Dia sadar bahwa Indonesia punya ragam flora dan fauna yang sangat banyak. Biodiversity-nya paling kaya, tetapi belum tercatat dengan baik. Hal tersebut berbanding terbalik dengan kondisi di Inggris.

”Di sana, tanaman liar saja diperhatikan. Orang-orang jadi tahu tanaman apa itu. Sementara di sini, orang banyak yang tidak tahu,” ungkapnya.

Lantaran ragam flora Indonesia sangat banyak, Keke bingung harus memulai dari mana. Sejauh ini, dia sudah mencoba untuk mendokumentasikan ragam anggrek asli Indonesia. Itu baru anggrek saja. Masih banyak jenis tanaman lain.

”Karena itu, saya butuh teman. Dalam waktu dekat, saya akan menggelar workshop. Semoga dari workshop itu ada teman-teman yang punya keinginan yang sama untuk mendokumentasikan flora Indonesia itu,” terang Keke. (ANDRA NUR OKTAVIANI, Yogyakarta)

Respon Anda?

komentar